
Pradita melajukan motornya secepat mungkin menuju mansion Union, karena ia merasakan firasat buruk.
Sesampainya di gang yang menuju mansion Union, detak jantung Pradita berdegup kencang, Ia segera memarkirkan motornya di bahu jalan, lalu berlari secepat mungkin ke arah mansion miliknya yang berada di ujung desa.
Selama berlari, Pradita menengok ke kiri, dan ke kanan mengamati suasana di dalam desa. Anehnya tidak ada satupun warga yang lalu lalang di jalan.
Firasat buruk Pradita terbukti saat terdengar suara letupan senapan dari arah mansion, “Gawat? Apa yang terjadi?” gumamnya dengan mata membulat.
Dengan sigap Pradita mengeluarkan senapan magnum yang berpeluru karet dari inventaris sistem. Tanpa basa-basi ia langsung menembak ke arah pria-pria yang memakai cyborg armor suit yang tengah memberondong halaman mansion Union dengan senapan SMG Combat.
Baku tembak antara Pradita, dan beberapa orang yang tak dikenal pun terjadi. Vas-vas bunga, dan pot-pot tanaman yang berada di halaman mansion hancur luluh lantak, dan berhamburan.
N4 yang berada di balik pintu depan mansion memunculkan kepalanya sambil melawan balik serangan komplotan orang yang tak dikenal tersebut.
“Siapa mereka? Aku tidak mengenalnya?” pikir Pradita sambil melesat cepat ke arah pintu depan mansion, dan gerakan cepat tubuhnya mampu dibaca oleh orang-orang asing tersebut.
Alhasil mereka memberondong tubuh Pradita dengan senapan SMG Combat, dan membuat kaca depan mansion hancur berkeping-keping, hingga pecahan-pecahan kacanya berserakan di permukaan tanah, serta lantai.
Nira tertembak di bahu kiri, dan hanya mendapatkan luka ringan, sebab hanya terserempet peluru yang ditembakan oleh salah satu anak buah Komandan Fatman tersebut.
“Cepat masuk!” teriak Pradita sambil melompat dengan lompatan harimau ke dalam pintu depan mansion.
Seorang pria berbadan jangkung tersenyum menyeringai, dan menaruh pelontar misil RPG, lalu mengarahkannya ke arah pintu depan mansion, “Asta La Vista baby!” ucapnya.
Hulu ledak misil tersebut melesat ke arah pintu depan mansion, dan menghantamnya, hingga menciptakan kepulan api disertai suara dentuman yang cukup keras.
Pradita berdiri di depan pintu sambil merentangkan badan dengan tubuh menghadap ke dalam ruang tamu. Tubuhnya sama sekali tidak terluka sedikitpun, karena mengaktifkan teknik naga Anubra.
__ADS_1
“Apa?” Pria jangkung bersama semua rekannya itu melebarkan mata, karena serangannya tidak mampu membunuh Pradita beserta keempat istrinya.
Pradita membalikan badan dengan tatapan nyalang, lalu mengumpulkan energi di kesepuluh ujung jarinya, dan berteriak dengan suara menggelegar, "Kalian semua harus mati! Teknik Kirin perak!"
Kesepuluh jari Pradita di arahkan ke kawanan anak buah Komandan Fatman, dan mengeluarkan kilatan petir berdaya sangat tinggi.
Suara ledakan seperti dentuman meriam disertai sambaran petir yang sangat besar menghantam 20 orang anak buah Komandan Fatman. 20 anak buah Fatman tubuhnya terpental menabrak tiang listrik, dinding rumah penduduk, pagar rumah penduduk, dan juga pepohonan sekitarnya. Bahkan dinding pembatas mansion Union roboh gara-gara serangan petir yang dikeluarkan oleh Pradita.
N4 yang berada di dalam ruang tamu semuanya tertelungkup dengan raut wajah seputih kertas, tubuhnya menggigil, dan terkencing-kencing. Mereka tak menyangka Pradita bisa mengamuk, dan tak terkendali seperti itu.
Nabila segera bangkit berdiri, lalu berlari ke arah Pradita, dan memeluknya dengan erat, “Sudah, Mas. Jangan seperti ini. Apakah Mas ingin melihat bayi kita menangis?”
“Ba-bayi?” Pradita melebarkan mata, dan berlutut lemas. Lalu mencium perut Nabila dengan ciuman yang penuh kelembutan sambil meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya.
Mas, kita bawa dahulu Choki, dan Rivan yang terluka cukup parah ke rumah sakit! Mereka sangat kejam, anggota Black Shadow pun semuanya tewas,” ringis Nira.
Pradita segera bangkit dan mengangkat tubuh Choki, serta Rivan secara bergantian. Lalu memasukannya ke dalam mobil Toyota Vellfire yang kaca depannya sudah hancur. N4 juga ikut masuk, mereka sangat ketakutan setelah melihat anggota Black Shadow dipenggal lehernya di depan mereka berempat.
“Chok! Van! Bertahanlah!” teriak Pradita sambil meneteskan bulir-bulir bening di kedua kelopak matanya. Perasaannya sudah tak menentu, karena Pradita sangat panik, dan tidak mau kehilangan orang-orang yang ia cintai lagi.
Kini tiba giliran anak buah Komandan Arshavin yang mengejar mobil Pradita dengan membawa mobil Range Rovers Hammerhead.
“Mas, kita diserang!” teriak Nathania panik.
“Nathalia, gantikan aku menyetir! Biar aku yang menahan mereka. Kamu pergi ke rumah sakit secepat mungkin!” titah Pradita, dan Nathalia segera menggantikan Pradita menyetir. Sedangkan pria berambut merah tersebut keluar dari mobil dengan melompat ke samping.
Pradita berguling-guling, lalu menumpu pada kedua tangannya untuk melompat ke arah mobil Range Rovers Hammerhead yang berada di depan. Lalu memukul bagian depan mobil dengan pukulan Kirin emas, hingga mobil tersebut terangkat bagian belakangnya, dan meledak.
__ADS_1
Mobil di belakangnya menabrak, dan terlempar ke atas, lalu terjatuh ke permukaan aspal dengan berguling-guling. Saat itu pula mobil tersebut meledak, dan kobaran api mengepul di mobil tersebut.
Dua mobil Hammerhead di belakangnya berhenti mendadak, hingga mengeluarkan suara ban mobil yang berdecit.
Tanpa basa-basi anak buah Komandan Arshavin keluar dari dalam mobil, dan sudah memegang senapan M16 yang terarah ke arah Pradita.
Pelatuk-pelatuk senapan M16 tersebut ditarik, dan senapan M16 tersebut memuntahkan puluhan peluru hanya dalam 5 detik ke arah Pradita.
“Tembak aku! Ayo!” teriak Pradita sambil menepuk-nepuk dadanya penuh dengan kesombongan.
Peluru-peluru tersebut tidak mampu menembus tubuh Pradita, dan malah berjatuhan di depan Pradita hingga menumpuk setinggi lututnya.
“Apa? Tidak mungkin? Manusia macam apa dia ini?”
Semua anak buah Komandan Arshavin melebarkan matanya dengan tubuh sedikit gemetar. Pasalnya mereka baru pertama kali melawan orang yang tubuhnya tak mampu ditembus peluru.
Dengan tersenyum menyeringai Pradita mengeluarkan katana dari inventaris sistem, dan melesat secepat kilat ke arah 20 anak buah Komandan Arshavin.
"Teknik naga Suryadaksa! Teknik naga Besukih!" serunya, dan kepala-kepala itu lepas dari lehernya.
Tubuh semua anak buah Komandan Arshavin tergeletak lemas di permukaan aspal. Setelah terkena tebasan cepat yang diayunkan oleh Pradita, dan darah menyembur deras, hingga membanjiri permukaan aspal.
Entah kenapa tiba-tiba tubuh Pradita merasa lemas, dan pandangan matanya mulia buram. Dengan terpaksa ia berlutut satu kaki dengan kepala tertunduk, karena pandangan matanya kadang-kadang jelas, kadang-kadang buram.
“Kenapa ini? Apa yang terjadi?” pikir Pradita dengan nafas tersengal-sengal.
Rupanya Pradita kehabisan energi setelah mengeluarkan banyak teknik, Apalagi teknik Kirin perak yang menguras banyak energi milik Pradita.
__ADS_1
Saking sulitnya berjalan, ia merangkak ke arah pohon terdekat, supaya ia tidak terkapar di tengah jalan. Pradita menyimpan katana ke inventaris sistem, untuk menghilangkan barang bukti, kalau-kalau polisi sedang berpatroli di sekitar jalan tersebut.
Baru saja Pradita berpikir seperti itu, ada mobil patroli polisi yang sedang melaju kearahnya. Mobil patroli polisi itu langsung berhenti setelah melihat banyak mayat bergelimpangan di tengah jalan tanpa kepala yang menghalangi jalannya.