SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 83


__ADS_3

Presiden Mahmed menyetujui usulan Pradita untuk membawanya ke negara yang masuk dalam benua asia terdekat. Hal itu terjadi setelah Pradita mempresentasikan rencananya untuk membunuh Komandan Aramain yang merupakan dalang dari penderitaan negara Libya, termasuk seluruh negara di benua Afrika.


Pradita terbang dengan salah satu pesawat jet yang dipiloti oleh Malika menuju negara Yordania. Tujuan Pradita kesana adalah menghubungkan dirinya dengan Red Queen, dan meminta sistem super A.I. tersebut untuk meluncurkan satelit Red Queen yang lain untuk mengudara di benua Afrika, dan Eropa.


Karena sistem tidak bisa membantu Pradita untuk meluncurkan satelit Red Queen yang lain selama dirinya tidak bisa terhubung dengan Red Queen. Akan tetapi, Komandan Aramain yang memegang kendali atas kalung kejut merasa aneh dengan sinyal yang dikirimkan oleh kalung kejut tersebut. Karena tiba-tiba hilang di gedung pusat Libya.


Maka dari itu, Komandan Aramain memutuskan kalau Pradit atau Visky Alpha telah berkhianat, dana minta semua tentara bayaran untuk memburunya.


Salah satu intel yang mengawasi gedung pusat Libya melihat Pradita bersama Malika menuju pangkalan udara Libya di Tripoli selatan.


Hal ini dilaporkan langsung ke Komandan Aramain, dan langsung ditindaklanjuti dengan mengirimkan jet tempur Vosso A15 milik Sevenfall untuk mengejar jet tempur F-35 yang dipiloti oleh Malika.


“Alpha, berpegangan yang teguh. Kita telah dikunci!” berang Malika karena tiba-tiba kokpit mengirimkan suara alarm darurat.


Pradita tetap santai, dan raut wajahnya datar melihat pesawat yang ditumpanginya bermanuver terlalu ekstrim demi mengelak dari misil-misil yang mengejarnya.


“Fokus saja. Aku baik-baik saja!” balas Pradita dengan berteriak menggunakan komunikasi jaringan khusus.


Malika bukan hanya seorang pakar IT yang sangat handal, tetapi juga gadis berwajah arab itu sangat mahir dalam mengendalikan pesawat jet.


Buktinya belum ada satupun misil yang mampu mengenai jet tempur yang dikendalikan oleh Malika.


Hal itu tentu saja membuat pilot jet tempur VA-15 sangat kesal, karena setiap misil yang diluncurkannya berhasl dihindari, dan ditembak jatuh menggunakan senjata anti misil, yakni senapan gatling gun yang terpasang di depan moncong, dan kedua sayap pesawat jet.


Adrenalin Pradita sangat terpacu, tapi terkesan sangat menikmati adegan-adegan manuver yang dilakukan oleh Malika.


Melihat hal tersebut, pilot jet tempur VA-15 turun, dan masuk ke dalam awan yang begitu tebal. Awan yang membuat pandangan Malika terhalangi.

__ADS_1


Mata Malika berkeliling mengamati keadaan, dan tidak ada tanda-tanda pesawat jet Vosso A-15 akan mengejarnya lagi.


Keduanya menghela nafas lega, karena merasa sudah tak dikejar lagi, “Akhirnya, kita bisa —”


Mesin jet yang dikendarai oleh Malika, dan Pradita meledak. Suara dentumannya terdengar sangat keras, dan membuat pesawat oleng. Suara alarm darurat terus berbunyi, dan mau tidak mau Malika harus menekan tombol kursi pelontar untuk mengeluarkan mereka berdua dari dalam pesawat.


Rupanya pesawat milik Malika tiba-tiba ditembak jatuh dari depan. Setelah pesawat VA-15 masuk ke dalam awan, pesawat jet itu melesat cepat untuk mendahului pesawat Malika. Lalu menembak pesawat F-35 itu dari bawah, dan sasarannya adalah kedua mesin pesawat jet tersebut.


Pradita yang terlontar tidak jauh dari Malika, dan segera mendekatinya. Karena pesawat VA-15 sedang mengarahkan gatling gun ke arah Malika untuk menghabisinya.


Peluru-peluru dimuntahkan secepat kilat ke arah Malika dari senapan gatling gun. Pradita segera memeluk Malika, dan mengaktifkan Enerzone untuk membuat bola pelindung energi yang memiliki kekerasan melebihi kekerasan berlian.


Alhasil peluru-peluru tersebut terpental ke berbagai arah, dan membuat pilot VA-15 sangat kesal, hingga terus menembaki mereka berdua tanpa henti secara bertubi-tubi.


Pradita menunggu dengan sangat santai sampai peluru itu habis, dan itu cukup lama. Malika sudah memejamkan mata dengan raut wajah seputih kertas, karena menganggap mereka berdua akan mati dibombardir oleh senapan gatling gun yang ditembakan oleh jet tempur VA-15 itu.


Pilot yang berada di dalam kokpit tidak menganggap mereka berdua sebagai ancaman, karena sedang melayang di udara dengan tekanan angin yang sangat kencang. Walaupun semua persenjataanya di pesawat jet sudah habis.


Akan tetapi semua itu menjadi petaka saat Pradita berhasil menggapai kokpit, dan mengeluarkan duri-duri energi dari bola pelindung transparan berwarna merah darah tersebut.


“Aaaakh!” pekik sang pilot yang tubuhnya tertusuk duri-duri energi, dan saat itu pula ia tewas bersamaan pesawat jet yang ditumpanginya meledak.


Pradita, dan Malika yang berada di dalam bola energi terpental ke bawah, hingga meluncur dengan sangat cepat.


Setelah di batas aman ketinggian, Pradita menghilangan bola pelindung energi, dan menarik tuas ransel yang digendongnya untuk mengembangkan parasut.


“Tenanglah, aku menjamin kita pasti selamat, dan setelah ini kita bisa melumpuhkan semua sistem komputerisasi tentara oposisi!” teriak Pradita, tapi tidak didengar oleh Malika.

__ADS_1


Untuk mendapatkan pendaratan yang aman, Pradita mengarahkan parasutnya ke pantai Aqaba, dan mendarat di pinggir pantai dengan aman.


Malika masih ketakutan, dan tubuhnya menggigil. Belum pernah selama hidupnya ia merasakan setakut ini.


Setelah mendarat Pradita segera melepaskan parasut, dan menggendong tubuh Malika. Lalu berlari ke salah satu batu karang tertinggi untuk bersembunyi. Ditakutkan mereka berdua akan diketahui oleh pihak keamanan setempat dan dituduh pembuat onar.


“Red Queen masuk! Red Queen masuk!” panggil Pradita pada Red Queen, karena merasa sudah masuk ke dalam wilayah benua Asia.


Namun belum ada sahutan dari Red Queen. Setelah sekian lama memanggil, Red Queen baru menyahut.


[Mohon maaf Tuan. Apa ada yang perlu dibantu?]


Melihat hologram anak perempuan yang begitu imut muncul di depan Pradita, Malika terkejut. Karena ia belum pernah melihat sistem A.I. secanggih ini yang bisa berkomunikasi dengan manusia secara langsung, walaupun itu hanya hologram.


“Bisakah luncurkan satelit Red Queen untuk komunikasi wilayah benua Eropa, dan benua Afrika?” pinta Pradita.


[Bisa, Tuan. Namun dibutuhkan dana 20 triliun untuk meluncurkan dua satelit Red Queen yang siap mengudara di wilayah benua Afrika, dan benua Eropa]


[Apakah tuan mau melanjutkan?]


“Lanjutkan. Aku tak perduli biayanya. Potong saja langsung dari saldo di rekening ku!” Pradita menyetujuinya.


[Tongteng … Tongteng]


[Mengambil alih sistem peluncuran dua satelit Red Queen dari sistem A.I. Red Queen dengan memotong saldo dari rekening host sebanyak 20 triliun]


[Peluncuran cepat dimulai di zona rahasia, dan dua satelit Red Queen akan mengudara dalam waktu 10 menit di wilayah benua Afrika, dan benua Eropa]

__ADS_1


Dua satelit Red Queen diluncurkan dari benua antartika. Benua yang tidak memiliki penghuni sama sekali, dan ini tidak diketahui oleh Pradita. Kalau sistem yang didapatkannya juga dari peradaban yang tak terjamah disana.


__ADS_2