
“Lalat, cepat periksa si gadis uban ini! Siapa tahu dia ditanamkan nano bom!” seru Zevalia panik, dan ia juga ikut menggeledah tubuh Nabila.
Pradita memejamkan mata, dan mengaktifkan teknik Naga Anubra untuk mendeteksi suhu panas yang aneh di bagian tubuh Nabila, sementara Zevalia terus menggeledah setiap inci tubuh Nabila.
Untuk Zevalia tidak menemukannya, dan waktu mundur nano bom terus berdetik. Dari jauh melalui drone yang diterbangkan untuk mengikuti mereka bertiga, Komandan Aramain tertawa jahat. Karena sebentar lagi bom yang berbentuk chip yang sangat kecil itu meledak, dan tak bisa ditemukan oleh mereka bertiga.
Waktu bom tersisa 15 detik lagi, Zevalia, dan Nabila mulai panik, tapi Pradita masih memejamkan mata sambil terus memindai setiap inci tubuh Nabila.
[Bos, aku mendeteksi ada suhu panas yang semakin meningkat di pusar Nona Nabila]
Tiba-tiba hologram Red Queen muncul, dan memberitahukan letak nano bom yang diletakan oleh Aramain di pusar Nabila. Namun karena bentuk bomnya terlalu kecil, Pradita sulit mengeluarkannya, karena di dalam lubang pusar Nabila.
Pradita menggunakan ujung kuku kelingkingnya untuk menusuk pusar Nabila, dan membuatnya melenguh nikmat dengan kedua pipi sudah merona, “Uugh! E-emejing! La —-”
Zevalia yang mendengar hal tersebut merasa jijik, dan langsung membekap mulut Nabila yang sudah meracau tidak jelas. Karena saking enaknya kelingking Pradita masuk ke dalam lubang pusarnya.
Tersisa waktu 5 detik lagi, dan kelingkingnya bertambah panas. Apa yang diberitahukan oleh Red Queen memang benar. Bom tersebut berada di dalam pusar Nabila, dan berhasil dikorek oleh Pradita.
Saat itu juga Pradita melemparkan sekuat-kuatnya nano bom yang sangat kecil ke udara.
Bom itu meledak di udara, tapi ledakannya cukup kuat, hingga apinya menyambar mereka bertiga. Maka dari itu Pradita memeluk mereka berdua dalam keadaan tertelungkup, dan menjadikan punggung yang sudah diaktifkan teknik Naga Anubra tersebut sebagai perisai, agar api dari ledakan tersebut tidak mengenai Nabila, dan Zevalia.
Suara ledakan seperti dentuman meriam disertai kobaran api itu mereda. Setelah ledakan api itu hilang, rupanya drone yang mengawasi mereka bertiga juga ikut meledak.
Ternyata nano bom buatan Aramain bukan bom biasa. Namun bom yang berbahan fusi nuklir dari litium, dan deuteurium. Walaupun bentuknya super-super kecil, tapi jangkauan daya ledaknya cukup luas. Itu terbukti dari punggung Pradita yang gosong, dan mengalami luka bakar ringan.
Kalau saja tidak mengaktifkan teknik Naga Anubra, mereka bertiga sudah menjadi manusia bakar. Bahkan luruh menjadi butiran debu.
__ADS_1
[Tongteng … Tongteng! Memotong uang Rp,20.000.000 untuk menyembuhkan luka bakar di punggung host]
Nabila, dan Zevalia yang berada dalam dekapan tangan Pradita sangat khawatir akan kondisi pria bergaya rambut harajuku tersebut.
“Mas, kamu tidak apa-apa?” tanya Nabila khawatir.
“Ya, Mas. Kamu tidak apa-apa?” timpal Zevalia khawatir juga.
“Hahahaha ….” Pradita tertawa terbahak-bahak, dan melanjutkan, “Pffft … hahahaha …. Se-sejak kapan bule gila bisa bahasa jawa dengan memanggil aku dengan sebutan Mas, hahahaha ….”
“Kampret, kau Lalat!” Zevalia kesal sambil membuang muka.
“Mas, jangan begitu donk sama kakak bule ini —”
“Eh, nama aku itu bukan bule ya. Namaku Zevalia Senkov Alenadra ya, paham!” putus Zevalia sambil mengerucutkan bibir.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar! Ayo kita segera pergi dari Dubai dan pulang ke Indonesia. Disini tidak aman!”
****
Keesokan paginya, Bandara Soekarno Hatta.
Pradita, Zevalia, dan Nabila sudah dijemput oleh duo gadis kembar. Mereka berlima menaiki salah satu mobil Pradita, yakni Toyota Vellfire menuju rumah Nabila. Karena Pradita ingin tinggal terlebih dahulu di rumah Nabila. Untuk sementara sebelum rumah Pradita yang sedang dibangun di tanah kawasan segitiga emas BSD oleh duo gadis kembar belum selesai.
[Tongteng … Tongteng! Selamat, host mendapatkan uang Rp,25.000.000 dari mengupil sebanyak 2500 kali, dan sudah ditransfer ke saldo sistem]
Pradita yang sedang duduk dengan menghadap jendela kaca mobil sambil mengupil terus melamun memikirkan nasibnya yang sudah menjadi buronan sang ahli bom nomor satu di dunia.
__ADS_1
“Bingung juga aku ini. Padahal aku sudah banyak uang, masa aku harus kehilangan nyawaku. Aku juga ingin nikah, Mak!” batin Pradita dengan raut muka ditekuk.
Sesaat kemudian mobil yang membawa mereka berlima sampai di depan pintu gerbang rumah Nabila. Pradita pun keluar dengan tidak ada satupun para gadis yang mau bertanya, kenapa ia murung sedari tadi.
“Mas, aku siapkan air panas ya mas! Nanti tidur saja kalau lelah. Lagian Mas tidak ada kerjaan kan? —”
“Si bos mah tidak kerja juga banyak uangnya, Nona Nabila,” celetuk Nathania.
“Hm!” Pradita hanya mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya.
“Nona Zevalia juga beristirahatlah, kalau butuh bantuan panggil saja aku,” kata Nabila pada Zevalia dengan senyuman ramah, “Terima kasih juga sudah menolong kami.”
“Sama-sama. Aku hanya tidak tega kalau Pradita itu … itu ….” Zevalia tidak melanjutkan perkataannya, karena bingung harus memberi alasan apa pada Nabila. Bahwasanya Zevalia mengikuti Paditta sejatinya ingin bertarung dengan Pradita, lalu membunuhnya.
Mereka berempat pun berpisah, duo kembar kembali ke kantor Union Group yang telah dibangun di samping apartemen The Branz. Sedangkan Nabila ke kamarnya, dan Zevalia ke kamar tamu di sebelah kamar Pradita.
Pria bermanik mata hitam legam tersebut sedang berendam air hangat, sambil berpikir keras untuk menghabisi musuh-musuhnya terutama Aramain yang telah membuat Nira terluka parah, dan Nabila hampir saja mati.
“Apakah aku harus masuk dalam lingkaran mereka dengan menyamar menjadi anak buahnya, lalu membunuhnya ya?” pikirnya, lalu membenamkan seluruh tubuhnya untuk menenangkan pikiran, dan hatinya yang sedang gundah gulana.
Saat sedang asyik-asyik berendam terdengar suara Zevalia yang sedang bernyanyi di dalam kamar mandi. Kamar mandi mereka berdua ternyata bersebelahan.
“Woy, berisik woy! Kaya suaranya bagus saja! Mirip kaleng rombeng woy!” teriak Pradita sangat keras, dan sampai ke telinga Zevalia.
“Terserah akulah! Mau nyanyi kek, mau tidak kek, suka-suka akulah! Kalau tidak suka, ayo adu jotos!” tantang Zevalia dengan berteriak sangat keras.
Pradita yang sangat kesal keluar dari dalam bathtub, dan memakai handuk yang hanya menutupi organ vitalnya yang sedang lembek selembek mochi. Lalu dia keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Zevalia yang memang tidak dikunci.
__ADS_1
Langkah kakinya terus menyusuri permukaan lantai, dan menuju kamar mandi di kamar Zevalia. Lalu membuka kamar mandi yang memang tidak dikunci tersebut.
Zevalia yang sedang berendam di dalam bathtub bukannya takut, ia malah berdiri dengan sikap menantang ke arah Pradita, dan menampakan lekuk tubuhnya yang bak gitar spanyol tanpa memakai sehelai benang.