SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 29


__ADS_3

Pradita mengendarai mobilnya cukup pelan. Apalagi memang di pagi hari jalur menuju wilayah Rawa Buntu itu padat merayap.


“Sistem, apakah aku bisa membeli mobil Toyota Hilux lagi?” tanya Pradita dengan tatapan mata fokus ke depan sambil menyetir.


...[Tongteng … Tonteng]...


...[Bisa, host butuh berapa unit? Tapi semua mobil yang dibeli di fitur showroom sistem memiliki kelebihan, semua mobilnya memiliki material anti ledak, dan anti tembak. Maka dari itu harganya mahal]...


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Satu unit mobil Toyota Hilux seharga 2 milyar]...


...[Apakah host mau melanjutkan transaksi?]...


...[Ya/Tidak]...


...[Berapa unit yang ingin dibeli?]...


Tangan kiri Pradita mengelus dagunya. Dia memikirkan matang-matang untuk membeli mobil yang akan diberikan pada anggota Geng Zero Crime sebagai inventaris mereka. Untuk menjaga keamanan setiap proyek yang akan digarap oleh Pradita, terutama proyek Apartemen Liudou.


Setelah memikirkan matang-matang selama lima menit, dan sambil menyetir, Pradita menekan tombol ‘Ya’ dan mengisi kolom unit menjadi 10 unit. 


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Memotong uang dari saldo sistem uang Rp,20.000.000.000 untuk membeli 10 unit mobil Toyota Hilux Extreme]...


...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...


...[Pembelian berhasil. 10 unit mobil Toyota Hilux Extreme sudah ditransfer ke inventaris sistem dan sudah dilengkapi tombol senjata rahasia berupa pelontar bom asap, juga gatling gun berpeluru karet]...


...[Apakah host mau membeli apa lagi]...

__ADS_1


...[Ya/Tidak]...


Untuk sementara Pradita mendiamkan panel hologram di depannya, karena sudah sampai di depan BSD Group. Sesampainya di halaman parkir gedung BSD Grup, Pradita disambut oleh Nathalia dan Nathania yang memang sudah menunggunya sedari pagi.


“Selamat datang, Tuan Pradita!” sapa Nathalia, dan Nathania serentak dengan tersenyum ramah.


“CEO Aslan sudah menunggu Anda di kantornya.”


Pradita mengelus rambut mereka berdua yang sangat halus, dan memujinya, “Rajin sekali kalian pagi-pagi sudah datang.”


Mereka berdua tersipu malu diperlakukan lembut oleh Pradita. Keduanya hanya bisa menjaga jarak di belakang Pradita yang sudah masuk ke dalam lift menuju ruangan CEO Aslan di lantai sepuluh.


Pradita melanjutkan pembicaraannya dengan sistem di dalam pikirannya, dan menekan tombol ‘Ya’, “Aku ingin membeli 150 unit body armor, 150 Combat SMG, 150 unit Magnum SIG Sauer P226, dan untuk senapan, semuanya berpeluru karet! Satu lagi 150 unit pistol kejut Phazzer Enforce!”


...[Tongteng … Tongteng]...


...[Baik, memproses pembelian 150 unit body armor per unit dihargai Rp,3.000.000, 150 Combat SMG per unit dihargai Rp,15.000.000, 150 unit Magnum SIG Sauer P226 per unit dihargai Rp,5.000.000, dan 150 unit Phazzer Enforce dihargai per unit Rp,2.000.000]...


...[Tongteng … Tongteng]...


...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...


...[Pembelian 150 unit Body Armor, 150 unit Combat SMF Full perlengkapan, 150 unit Magnum SIG Sauer P226 Full perlengkapan, dan 150 unit Phazzer Enforce berhasil. Semua item telah ditransfer ke inventaris sistem, dan mendapatkan peluru karet gratis tidak terbatas]...


Pradita yang sedang melihat panel hologram berwarna biru tersebut cengengesan. Membuat Nathalia, dan Nathania kebingungan, serta menganggap Pradita belum minum obat.


“Kenapa, Tuan?” tanya Nathania dan Nathalia serentak sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar oleh Pradita.


“Maaf-maaf, aku hanya sedang membayangkan hal-hal yang lucu, hehehe …,” kilah Pradita menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menengok ke  arah Nathania yang berada di samping kirinya.


Pintu lift terbuka, mereka bertiga keluar dengan terkekeh pelan, masing-masing menertawakan satu sama lain. Nathania, dan Nathalia sangat senang kerja dengan Pradita yang sangat ramah, serta memperlakukan mereka layaknya sebagai partner kerja, sahabat, juga lawan bicara yang harus dihormati.

__ADS_1


“Kalau kalian lelah istirahatlah! Kalau belum sarapan, sarapan dahulu. Setelah ini kita akan pergi ke wilayah proyek Apartemen Liudou. Aku ingin memperlihatkan kalian sesuatu.”


Pradita mengelus lembut rambut mereka berdua seperti seorang kakak menyayangi adik perempuannya.


“Ba-baik, Tuan,” sahut Nathalia dan Nathania serentak sambil menunduk hormat.


Mereka berdua meninggalkan Pradita, sedangkan pria berambut harajuku yang sudah disisir ke belakang tersebut masuk ke dalam ruangan CEO Aslan dengan penuh percaya diri.


Pradita mengetuk pintu, dan Aslan mempersilahkan masuk. Pradita langsung melempar senyum lebar ke  arah pria berdarah campuran Indonesia-Belanda tersebut.


Pradita langsung mengutarakan maksudnya untuk meminta material, dan juga cetak biru bentuk bangunan dari apartemen Liudou. Tentu saja CEO Aslan heran, karena menurut mata-mata yang mengawasi wilayah proyek apartemen Liudou, daerah tersebut masih berada di tangan Geng Helucin, dan mereka meminta uang 1 triliun sebagai kompensasi penyerahan wilayahnya pada BSD Grup.


“Bukankah urusan dengan geng bawah tanah itu belum beres?” sergah CEO Aslan memicingkan mata.


“Memang, Tuan Aslan. Tapi secara hukum perdata, bukannya tanah tersebut sudah menjadi milik BSD City? Kenapa Tuan Aslan harus tunduk pada mereka? Jika mereka menginginkan kekerasan, maka aku Pradita Mahendra akan memberikan kekasaran yang lebih sakit,” jawab tegas Pradita.


“Tapi aku tidak mau menyewa preman-preman untuk melawan preman yang sudah terorganisir —”


“Tidak perlu. Aku punya banyak rencana cadangan. Maka dari itu kirimkan materialnya esok hari, maka aku berjanji esok hari tidak  ada lagi yang namanya geng Helucin,” potong Pradita menyeringai.


Kemudian dia berpura-pura mengeluarkan satu unit pistol magnum SIG Sauer P226 dari saku bagian dalamnya, dan langsung diarahkan ke jendela kaca di belakang Aslan.


Peluru karet itu dimuntahkan ke jendela kaca tersebut, dan tidak dapat menembus kaca jendela yang cukup tebal tersebut.


"Aku akan melawan mereka dengan pistol berpeluru karet. Jadi tidak berbahaya bersama orang-orangku. Satu hal lagi tidak perlu mencarikan kontraktor untuk membangun apartemen Liudou, sebab itu cara jadul. Aku punya cara yang hebat, hemat, dan cepat."


Pradita menjentikan jarinya, dan tangan kirinya menunjuk ke arah jendela. Aslan menoleh ke arah jendela dan saat itu pula Pradita mengeluarkan Helm Empress untuk dipakainya.


10.000 unit Comanche Drone yang dikeluar Pradita dari inventaris sistem di atap gedung BSD Group. Terbang bermunculan di depan jendela, dan Aslan matanya berbinar-binar melihat 10.000 unit Comanche Drone tersebut.


“Woaah! Ini seperti sulap! Emejing!” puji CEO Aslan dengan mata membola dan menjatuhkan rahang.

__ADS_1


“Comanche Drone ini akan digunakan untuk membangun proyek Apartemen Liudou, dan ramah lingkungan, hemat biaya, tidak perlu diisi ulang baterainya, karena bisa diisi ulang menggunakan cahaya matahari atau solar cell.”


“Kalau proyek ini berhasil menggunakan Comanche Drone, maka kita akan mudah membangun kota tanpa tenaga manusia yang lambat, malas, dan selalu menuntut lebih,” jelas Pradita.


__ADS_2