SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL

SYSTEM KEKAYAAN NGUPIL
Chapter 103


__ADS_3

“Silahkan Tuan Muda!”


CEO Ronald dengan raut muak seputih kertas, dan bulir-bulir keringat dingin melambaikan tangan untuk mempersilahkan Pradita bersama N4 duduk di sofa.


Setelah duduk, tanpa basa-basi lagi Nathalia langsung mengutarakan keinginannya pada CEO Ronald dengan menggebrak meja, “Kami datang kesini untuk mengakuisisi Bank Noir. Setuju atau tidak setuju kami tetap akan mengakuisisinya!”


“Tapi, Nona Muda—”


“Apakah kau ingin semua data ini aku publikasikan di seluruh platform media sosial!” putus Nathalia dengan tatapan mengancam sambil memperlihat monitor laptop yang ia pegang ke arah CEO Ronald.


“Ba-baik.”


CEO Ronald sudah tidak berkutik, dan ketar-ketir menghadapi mereka berlima yang punya kartu as untuk melawannya. Nathalia, dan Nathania yang merupakan hacker yang cukup handal.


Mereka datang menemui CEO Ronald bukan hanya membawa satu senjata untuk melawan penolakannya. Bahkan mereka berdua membawa banyak senjata yang bisa membuat CEO Ronald tak berkutik. Salah satunya video CEO Ronald yang sedang bercocok tanam dengan sekretarisnya.


“Ribet juga ya kalau berhadapan dengan dua orang perempuan yang punya otak licik,” batin Pradita menghela nafas panjang.


Ia melanjutkan sambil memijat keningnya beberapa kali, “Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau ditekan seperti itu.”


Tindakan DNA diluar perkiraan Pradita. Apa yang dilakukan DNA saat ini kepada CEO Ronald benar-benar diluar rencananya, dan tentu saja membuat Pradita sedikit syok dengan cara DNA yang menurutnya diluar kotak sebagai seorang ibu rumah tangga.


Nathania menyerahkan beberapa dokumen peralihan aset Bank Noir menjadi kepemilikan Bank BJB atas nama Pradita. CEO Ronald dengan terpaksa menandatangani dokumen-dokumen peralihan tersebut. Walaupun di dalam dokumen tersebut tertulis dalam keadaan sadar, dan tidak dalam keadaan terpaksa.


“Terima kasih.” Pradita menyodorkan tangannya ke CEO Ronald untuk berjabat tangan, dan disambut dengan senyuman ramah oleh pria berjenggot tersebut.


Pasalnya, dalam surat tersebut, CEO Ronald tetap akan memimpin Bank Noir yang sudah diakuisisi oleh Bank BJB senilai 100 milyar, dan nilai tersebut melebihi ekspektasinya.


CEO Ronald menyambut tangan Pradita untuk berjabat tangan, dan membalas, “Sama-sama. Maafkan aku yang berburuk sangka pada Tuan Muda, dan Nona-nona Muda.”


“Tidak masalah.” Pradita menggeleng pelan, dan melanjutkan memberi mandat pada CEO Ronald dengan senyuman licik. Sekarang tugasmu, berikan hutang sesuai porsi pada bank-bank yang tertera di list, dan aku minta dalam satu bulan semua bank ini harus sudah diakuisisi.”


“Supaya rencana Bank BJB merger dengan mereka berjalan mulus, target pertama kita adalah menguasai jawa barat!”


“Siap, Tuan Muda. Tugas pertama ini aku pasti akan melaksanakannya dengan baik, sahut CEO Ronald dengan tersenyum puas.


Pradita bersama N4 keluar dari gedung Bank Noir. Entah mengapa muncul hasrat ingin bercocok tanam saat ia menyetir mobil, “Sayang, bisakah diantara kalian menemaniku untuk melakukan perhelatan akbar disini? Aku sudah tidak kuat”


“Tapi, Mas. Ini kan sedang dijalan,” tolak Nira.


“Baik, Mas. Kalau mas ingin. Aku siap,” usul Nabila mengajukan diri.


Mobil yang dikemudikan oleh Pradita berhenti, dan Nira yang menggantikan Pradita untuk menyetir. Kebetulan di dalam mobil Toyota Alphard yang dimiliki Pradita memiliki tirai yang menutupi bagian tengah dengan bagian kemudi.

__ADS_1


Nabila, dan Pradita langsung ke kursi belakang. Sedangkan Nathalia, dan Nathania harus tersingkirkan ke kursi depan bersama Nira. Untuk memulai perhelatan akbar yang sudah tidak bisa dibendung lagi oleh Pradita yang sudah mencapai ubun-ubun.


Ia beradu ciuman panas dengan Nabila sambil tangannya bergerilya melepaskan pelindung yang melindungi gunung kembar milik Nabila.


"Uuugh … Hmm!" Nabila melenguh nikmat saat lehernya dicium oleh Pradita dengan begitu lembut.


Sampai ciuman tersebut menjalar ke telinga belakang, "Ayo, sayang cepat! Aku sudah … uugh! Hmmm …."


Nabila yang awalnya biasa saja, hasrat di dalam tubuhnya langsung timbul. Ketika sekali timbul tidak terkendali membuat Pradita semakin bersemangat.


N3 yang berada di depan hanya bisa meneguk salivanya dalam-dalam mendengar suara-suara *******, dan lenguhan yang keluar dari mulut mereka berdua. Nira yang menyetir saja dibuat tidak fokus.


Ia sampai beberapa kali ia menghentikan mobilnya di tepi jalan. Namun, Pradita sambil membabak belurkan Nabila mengatakan untuk terus menyetir.


“Sial, kenapa aku juga malah ingin. Membayangkannya saja membuat rahimku hangat, sompret!” batin Nira kesal sambil menghimpitkan kedua pahanya, karena kerang beracun miliknya sudah basah.


Pradita, dan Nabila sudah saling membabak belurkan. Akan tetapi mereka melakukannya dengan ritme yang pelan supaya mobil tidak bergoyang saat melaju.


“Aaakh!” Mereka berdua melenguh nikmat setelah melepaskan ratusan benih kehidupan secara serentak.


“Terima kasih, Sayang.” Pradita mencium kening Nabila yang sudah basah oleh bulir-bulir keringat.


“Sama-sama, Sayang. Walaupun cuma sebentar, tetapi aku juga sangat puas,” desah Nabila dengan nafas tersengal-sengal.


Nabila yang masih duduk di pangkuan Pradita dalam kondisi kerang beracun masih tertaut dengan singkong premium memeluk erat Pradita, dan perasaanya sangat bahagia. Sudah lama ia merindukan kesempatan ini, karena Pradita sebelum-belumnya selalu saja ada keperluan ke luar negeri meninggalkannya.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku senang Mas Pradita bisa terus di sisi kami, dan aku harap akan seperti ini terus. Uang Mas Pradita masih banyak, dan aku mau menikahi Mas Pradita bukan karena uang sedari awal, tapi karena cinta,” balas Nabila yang semakin memeluk erat Pradita dengan mata yang sudah menggenang.


Tiba-tiba Nira mengerem mendadak, dan otomatis Pradita yang sedang memangku Nabila jatuh ke depan dengan tubuhnya menimpa tubuh Nabila.


“Sayang, ada apa?” tanya Pradita kaget.


“Mas, cepatlah beres-beres! Di depan ada razia polisi!” jawab Nira dengan nada panik. Tentu saja ia panik karena takut polisi memeriksa mobil mereka, dan melihat Pradita bersama Nabila masih bercocok tanam.


Pradita, dan Nabila buru-buru merapikan pakaian mereka. Benar saja mobil mereka dihentikan, tidak semua mobil yang melewati jalur ke Sindang Laut dihentikan, dan digeledah.


“Mohon maaf, Bapak-Ibu. Izinkan kami menggeledah mobil Bapak-Ibu. Kami sedang melakukan razia narkoba, dan mencurigai seorang bandar narkoba kabur membawa 1 kg narkoba,” tutur seorang polisi dengan nada tegas.


Dengan muka agak berantakan, Pradita bersama Nabila keluar. Namun, cepat-cepat dirapikan oleh Nathalia, dan Nathania. Supaya para polisi yang menggeledah mobil mereka tidak curiga kalau mereka berdua baru saja melakukan perhelatan akbar.


Untuk menutupi hal tersebut, Pradita langsung berinisiatif bertanya pada salah satu polisi, “Maaf, Pak. Memangnya anak buah Brock masih berkeliaran? Bukankah gembong narkobanya sudah tiada?”


Sontak saja salah satu polisi itu kaget, karena informasi mengenai Brock itu cukup rahasia. Namun, polisi pria tersebut mencoba untuk menutupi ekspresi keterkejutannya.

__ADS_1


“Maaf, Mas. Tampaknya yang namanya bandar narkoba itu tetap subur seperti jamur,” jawab polisi pria dengan raut wajah datar.


Pradita mengambil ponsel UR Predacon miliknya, dan langsung memerintahkan seluruh anak buahnya di seluruh titik Cirebon untuk mencari bandar narkoba.


“Pak, sejujurnya hal yang paling aku benci di dunia ini adalah mafia yang berbisnis ilegal, dan salah satunya narkoba. Maka aku akan ikut membantu, paling lambat dalam waktu 24 jam pelakunya pasti ditemukan,” kata Pradita.


Mobil Pradita pun selesai di geledah, dan pasti bersih dari barang haram tersebut. Pradita kembali yang menyetir mobil, dan melajukan mobilnya lurus terus menuju salah satu pantai di Indramayu.


Di tengah jalan, mobil mereka dicegat oleh salah satu mobil jeep Rubicon. Otomatis Pradita menekan pedal rem secara mendadak. Ban mobil pun berdecit, dan Pradita pun segera keluar.


Akan tetapi meminta keempat istrinya tidak keluar. Baru saja Pradita keluar dari mobilnya, terdengar suara letupan senapan, dan timah panas bersarang di bahu kiri Padita.


"Aakh!" pekik Pradita dengan meringis kesakitan, lalu menarik senapan magnum berpeluru karet di yang diselipkan di pinggang belakang, "Mati kalian semua!"


Tanpa basa-basi lagi Pradita menembak secara membabi buta. Satu persatu para pembegal yang memakai penutup wajah tersebut tubang dengan memekik, karena dahi mereka terkena proyektil peluru karet.


Melihat Pradita bahu kirinya berdarah, Nira pun langsung keluar. Ia pun menembaki para pembegal yang sudah terkapar di permukaan tanah tersebut dengan senapan magnum berpeluru asli.


"Berani kalian menembak suamiku, mati kalian!" teriaknya berapi-api sambil menodongkan pistol ke kepala mereka satu persatu.


Suara rentetan letupan terdengar sangat keras, membuat para pemotor, dan pemobil yang lewat di jalur tersebut ketakutan, bahkan berputar balik. Alhasil, kelima pembegal tersebut mati berkalang tanah dengan kepala banjir cairan merah kental.


Zevalia yang terus mengawasi mereka pun keluar dari balik pepohonan. Ia menonaktifkan mode stealth cyborg armor ninja suit, dan langsung mengeluarkan pedang saber. Lalu melesat ke arah mobil Pradita dengan kecepatan secepat peluru.


“Kali ini aku pasti akan menghabisi kalian!” geramnya.


Mobil Toyota Alphard tersebut ditebas menjadi dua bagian oleh Zevalia, dan itu disaksikan oleh Pradita dengan mata kepalanya sendiri. Rupanya para pembegal tersebut adalah suruhan Komandan Arshavin yang masih belum puas terhadap Pradita yang malah memberikan akses satelit Red Queen ke Komandan Selena.


Pasukan Black Shadow berjumlah 10 orang tiba-tiba muncul. Mereka sudah mengamankan N3 sebelum mobil tersebut terkena tebasan pedang saber milik Zevalia.


Pradita menyembuhkan dirinya sendiri, “Teknik Naga Kurusetra!” serunya.


Kemudian menatap nyalang sosok cyborg armor ninja suit yang telah berada di depannya sambil menghunuskan bilah pedang saber tersebut ke leher Nira.


"Kamu benar-benar keterlaluan! hanya demi akses Red Queen tega membunuh keenam saudaramu sendiri —"


"Saudara? Hahahaha …," potong Zevalia dengan tertawa sinis, dan melanjutkan dengan mendekatkan bilah pedang sabernya lebih dekat lagi ke leher Nira, "Kau saja yang tolol mau menikahiku, dan mau termakan semua umpan yang sudah aku lempar. Sedari awal misiku adalah mendapatkan akses Red Queen dengan cara apapun, termasuk …."


Zevalia tidak melanjutkan perkataannya, dan dengan tersenyum menyeringai gagang pedang saber diayunkan ke leher Nira.


"Tidak!" teriak Nira yang sudah menutup mukanya.


Suara letupan senapan tiba-tiba terdengar disertai bom asap yang menutupi Nira, dan Zevalia. Pradita menerobos kepulan asap tersebut untuk menyelamatkan Nira, dan berhasil diselamatkan dengan melompat, lalu memeluknya, hingga berguling-guling di permukaan tanah.

__ADS_1


__ADS_2