
"jadi sekarang dia membutuhkan pendonor" tanya Bobi kepada bawahan Tantri itu.
Mereka semua mengangguk dengan cepat.
"jika kau kasihan donorkan lah jantung mu" cetus slah satu dari mereka.
"gue masih sayang sama nyawa guee!!" jawab Bobi.
All sudah selesai dengan mandinya sedari tadi namun dia tidak ingin mengikuti pembicaraan tersebut. Dia hanya diam-diam mendengarkan.
"All" panggil Bobi, dia merasa sudah lama dia berada dikamar mandi.
Lalu segera ia membuka pintu kamar karena sedari tadi dia berada disana.
"aku harap dia tidak akan melakukannya" batin Bobi.
"ada apa kau mencari ku?" tanya All sembari mendekati mereka.
"apa kau lupa ada tahanan disini" cetus Bobi
"lepaskanlah kamii" rengek salah satu dari mereka
"apa untungnya bagiku" ucap All
"jika kau mau melepas kami, kami janji tidak akan membunuhmu setelah ini" terang pria yang terlihat lebih tua
"cih omong kosong" cela Bobi
"bagimana kau bisa melepas target begitu saja" cetus pria yang terlihat muda
"stttt" jawab dua pria di sampingnya
__ADS_1
All memutarkan bola mata malasnya, ia sendiri juga bingung mereka bertiga mau diapakan. Masa iya All akan terus mengurung mereka, apa jebloskan saja kepenjara.
"heii, bagaimana pendapat mu" ucap Bobi dia melambaikan tangan karena melihat All terbengong.
"ahh, kurung saja mereka seperti ini"
"ini sudah mau larut malam kita urus saja besok" ucap Bobi
"kami laparrr" rengek dari pria muda
"huftt, Bob tolong jagakan mereka aku akan turun dan membeli sesuatu" kata All
"tapi apakah akan aman?" tanya Bobi
"aman nyonya tidak memerintahkan yang lain hanya kami saja, yang lain nyonyaa perintahkan untuk mencari pendonor" cetus pria muda dengan senyum lebarnya. Membuat yang lain geram karena memberitahukan segalanya. Dari tadi juga dia yang membocorkan informasi kepada Bobi yang lain hanya menambahkan saja.
"ohhh, bagus jadi gue bisa keluar" ucap Alisha dengan perasaan lega.
Keluar dari hotel, langkah Alisha kini terburu-buru, perasaannya sangat tidak enak. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Alhasil dia nemesan makanan dan memerintahkan seseorang untuk mengirimkan ke alamar hotek yang All tempati, karena dia akan pergi kesuatu tempat.
"kami juga sudah berusaha hikss...hikss.." ucap Ratna sesegukan
Mereka semua menghembuskan nafas secara gusar. Sangat khawatir jika ini adalah malam terakhir bagi Hendra.
"cepatlah sedikit karena waktu pak Hendra tidak banyak" ucap Dokter
"bagaimana ini apakah ayah akan benar-benar meninggalkan kita?" ucap Taysa
"tenang lah, nenek akan mengabari bawahan nenek dan ibumu" sela Ratna
Berkali-kali Ratna menghubungi ponsel mereka namun tidak ada yang menjawab. Seolah mereka menonaktifkan handphone.
__ADS_1
"sial" gerutu Ratna
Dengan perasaan cemas kini Ratna tidak ada. cara lain lagi. Dia adalah ibu dari Hendra apapun akan dia lakukan untuk membuat anaknya bisa hidup.
"dokter biarkan saya menjadi pendonor bagi Hendra!!" cetus Ratna dengan nafas terengah-engah
"maaf bu, sepertinya jantung anda juga tidak bisa memenuhi syarat sebagai pendonor" dokter menghela nafas gusar.
"kau tidak akan sebelum mencobaa" pekik Ratna yang membuat dokter itu bingung.
Karena keras kepala akhirnya suster memeriksa terlebih dahulu apakah bisa atau tidak.
"nenek tolong jangan lakukan itu" Taysa berusaha menghentikan apa yang akan neneknya lakukan.
"jika kau tidak ingin nenek mu mati, segera cari ibumu dan bawalah pendonor kesini!!" tegas Ratna
Dengan bimbang akhirnya Taysa memilih untuk pergi kerumah. Ia tidak habis pikir disaat seperti ini malah Tantri tidak ada dirumah sakit. Sebenarnya apa yang dia lakukan kegiatan apa yang membuatnya hingga sibuk seperti ini. Apa dia sedang berusaha untuk membunuh Alisha lagi.
"aku harap mamah juga sedang berusaha mencari pendonor" batin Taysa dia tidak bisa menghentikan derai air matanya.
Agak butuh waktu untuk melihat hasil apakah memenuhi syarat atau tidak. Ratna mempunyai harapan besar kepada dirinya. Entah kenapa kini jiwa keibuannya keluar dengan sendirinya, ia sedang berusaha untuk melindungi anaknya.
"maaf nyonya benar seperti yang dikatakan dokter, anda tidak bisa menjadi pendonor" suster itu mengatakan dengan bibir yang bergemetar.
"tidak mungkin" Ratna mulai sesak nafas mendengar apa yang disampaikan oleh suster itu
"tidakk, kalian semua pembohong!!" pekik Ratna. Yang akhirnya dia pingsan karena mungkin sudah cape. Obat yang sedari tadi Ratna pegang sudah ada ditangan dokter tanpa sepengetahuan siap pun.
"suster tolong bantu saya, jika tidak ada pendonornya kita lakukan cara lain".
"walaupun keberhasilannya hanya mencapai 15%" terang dari dokter itu.
__ADS_1
"baik dokter" suster itu mengikuti langkah dokter yang sudah tergesa-gesa.
Suster tahu dokter pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk pasiennya.