Takdir Yang Dipermainkan

Takdir Yang Dipermainkan
Awal Sakit


__ADS_3

"atas dasar apa kau mencampuri rumah tangga ku" ucap Hendra


"apa kau tidak tahu sopan santun!!" pekik Tantri


"dia ibumu, hanya demi wanita ****** itu kau sampai berteriak di hadapannya!!"


"aku tahu mana yang baik dan buruk bagi anakku"


"aku melakukannya agar masa depanmu itu tidak suram"


"jika saat itu kau masih bersama dengan Alvina mungkin kau benar-benar akan memutuskan hubungan keluarga dengan kami semua dan hidup dengan sengsara" terang Ratna


"perusahaan itu bahkan aku sendiri yang mendirikannya tanpa bantuan dari mu!!" elak Hendra


"lupakan semuanya dan hidup dengan yang sekarang, dia Alvina sudah tiada!!" pekik Ratna

__ADS_1


"dan kalianlah yang sudah membunuhnya"


"atas dasar apa kau menuduh kami" sela Tantri


"aku sudah cukup sabar dengan sikapmu sedari kita menikah dulu, kau bahkan sama sekali tidak pernah melirik ku dan terus berlarut dalam masa lalu mu" terang Tantri ia merasa paling tersakiti.


"aku menikahimu hanya karena permintaan dari dia dan sama sekali tidak ada cinta!!" terang Hendra


"apa yang begitu hebat didalam diri Alvina sampai-sampai kau begitu mencintainya"


Perdebatan panas dimulai sedari tadi, semakin lama berdebat semakin jantung Hendra tidak karuan. Dia merasakan sesak sekali bahkan nafasnya mulai tidak teratur.


Semakin kesini dia juga semakin mengetahui hal yang sudah ibunya dan istrinya sembunyikan darinya. Ini benar-benar salah Hendra jenoa saat itu dia tidak mau mencari tahu tentang istrinya terlebih dahulu. Dia lebih memilih untuk memendam semuanya dan tidak ingin tahu apapun seolah Alvina tidak pernah datang dalam hidupnya.


"bahkan kau sendiri yang membunuhnya!!" pekik Tantri dengan suara yang sangat lantang membuat seluruh ruangan bergema. Tantri tidak kuat menahan emosi karena sedari tadi Hendra terus membela mantan istrinya itu. Sementara Tantri sama sekali tidak dianggap.

__ADS_1


"aku selama ini terus berada disisimu tidakkah kau melihatnyaa wahai suamiku" pekik Tantri dengan air matanya.


Sementara Hendra diam pikirannya kacau, dia tidak sanggup untuk berbicara lagi. Mereka semua tidak tahu tentang Alvina lalu kenapa mereka main hakim sendiri dan sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Hendra dan Alvina saat itu.


"sudah baik wanita itu mati apakah dia lebih penting dari pada wanita yang melahirkan mu haa!!" kini tinggal ibunya sendiri yang membentaknya


"mereka tidak mengetahui apapun tentang dirinya bagaimana dia menyelamatkan ki dari kegelapan dunia ini" batin Hendra sebelum dia memejamkan mata dan jatuh kelantai.


Mata Hendra sayup-sayup, ia merasa semua hal ini adalah salahnya. Kematian Alvina saat itu adalah salahnya. Dia sama sekali tidak mau mempercayai seseorang yang selalu ada disampingnya bahkan orang yang mau menemani disaat susah ataupun senang. Semua suara seakan menyalahkan Hendra. Dia kini terpojok, apa lagi penyiksaan-penyiksaan yang dia lakukan kepada Alisha saat masih tinggal dengannya.


Hendra merasa seperti seseorang yang sangat bodoh saat ini. Dia tidak bisa lagi memutar ulang waktu, andai waktu itu didalam hubungnnya ada sebuah kepercayaan maka dia akan hidup bahagia sampai saat ini dengan Alvina dan putri mereka bahkan mungkin mereka akan mempunyai anak lagi. Dia merasa bersalah atas apa yang dia lakukan kepada putrinya itu.


Pantas saja didalam hati Hendra sama sekali tidak ada rasa benci kepada Alvina ataupun Alisha. Setiap dia ingin membenci tetapi hati kecilnya selalu menolak. Tetapi ego dari Hendra lebih besar, alasan dia tidak mau menyelidiki tentang kasus selingkuh istrinya itu karena dia sangat takut, sangat takut bahwa Alvina sengaja selingkuh darinya. Maka dari itu dirinya tidak mau mengungkit apa yang terjadi jepada istrinya.


"Hendraa" pekik Ratna

__ADS_1


__ADS_2