
Seharian All tidak pulang ke rumah, ia terlalu lama dirawat. Ia juga tidak memberitahu orang rumah dirinya ada disini.
"kak Ell, All minta tolong jangan beritahu mereka yaa kalau yang donorin ini All" ucap All
"emang kenapa?" tanya Ell
"mereka mungkin tidak akan perduli"
Ell hanya mengangguk namun dia tidak berjanji.
Tantri dan Tasya lagi-lagi dibuat kesal oleh ketidak pulangan All kerumah. Sebab mereka berdua lah yang akan kena marah oleh Hendra jika sampai putrinya itu tidak pulang-pulang.
"dasar sampah, cuma nyusahin orang aja" gerutu Tantri.
Pasalnya dia sudah kena omel oleh suaminya sedari tadi.
"awass aja kalau pulang" Tantri mondar-mandir didepan pintu menunggu kepulangan All yang tak kunjung datang.
Sampai waktu menjukkan hampir pukul tangah malam. Tantri memilih untuk pergi tidur dikamar Taysa anaknya.
Hendra pagi ini sudah dibuat pusing oleh berbagai pertanyaan dari awak media pasal pembunuhan yang dilakukan oleh anaknya. Padahal ia sendiri tidak tahu apa-apa. Akibat dari kejadian ini juga kantor nya sedang mengalami krisis karena sang investor ingin membatalkan perjanjian mereka.
Harga diri Hendra jatuh begitu saja, jika sampai kehilangan semua investor maka perusahaan nya akan bangkrut. Media juga bertanya-tanya dimana Hendra menyembunyikan putrinya itu. Padahal dari kemarin ia tidak mengetahui dimana Alisha itu.
Ia berpikir mungkin akan menghubungi Rindi.
*apakah putri ku bersamamu?* pesan Hendra
*kami sedang dirumah sakit* jawab Tantri
__ADS_1
*biarkan dia pulang, ada yang ingin saya bicarakan*
Rindi memberitahu kepada All bahwa dirinya sudah ditunggu oleh sang ayah dirumah. Tanpa pikir panjang ia mengemasi barangnya. Sejujurnya ia takut, namun ia harus melawan rasa takut itu. Lalu Rindi mengantarkan All pulang.
"All nanti kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan ngomong ke mamah yaa" ucap Rindi
"okee mamm, makasihh udah mau jagain All selama inii" All mencium punggung tangan Rindi sebelum ia meninggalkannya.
"kemana aja kamu?" tanya Tantri
"ternyata masih ingat buat pulang"
"maafin All mahh, All ada urusan"
"gue kira lo bakalan kabur Hhahaha" ejek Tasya
"ternyata masih punya muka juga buat pulang"
"masuk papahmu sudah menunggu mu" ucap Tantri.
"bukanya papah pulang malam, kenapa dia sampai mau menunggu ku pulang" batin All
"gawatt luka kemarin belum sembuh" All masih merasakan sakit disekujur tubuh.
Kemarin dokter menyarankan untuk tinggal beberapa hari dirumah sakit, bukan hanya karena dia baru saja mendonorkan ginjal tapi juga ada beberapa luka dibelakang punggung nya. Hanya dokter dan All yang tau.
All melangkahkan kakinya keruangan tempat papahnya sudah menunggu. Ia mulai membuka pintu dengan sedikit getaran ditangan. Ia menepis rasa takut dan harus berani menghadapi kenyataan.
"alishaa" kata pertama yang keluar dari mulut Hendra
__ADS_1
All tertegun pasalnya ini baru pertama kali papahnya memangil namanya. Ia semakin takut apakah kesalahan yang dibuat kali ini sangat fatal sehingga papahnya menyerahh.
"i-iyaa pahh" rasa takutnya menjadi
Hendra perlahan menghembuskan nafasnya.
"selesaikan lah masalah mu sendiri, saya tidak ingin hanya karena itu perusahaan yang sudah dibangun bertahun-tahun bangkrut begitu saja".
"baik pahh, All bakalan berusaha untuk menstabilkan kondisi"
"jika sampai 3 hari ini kamu belum bisa menyelesaikan maka, mau tidak mau kamu harus menghadapi konsekuensinya"
All bingung apa konsekuensi yang akan dihadapinya jika sampai 3 hari kasus ini terus berlanjut. Jika dirinya mansih mendari trending topik diantara masyarakat. All hanya berpikir mungkin papahnya seperti biasa akan menghukum cambuk atau semacamnya. Tapi kenapa ia harus bipang terlebih dahulu.
"jika masalah ini terus membesar dan berdampak buruk bagi ku maka silahkan kamu melangkah kan kaki keluar dari rumah saya!" tegas Hendra, ia menyilangkan kakinya seraya berkata seperti itu.
Hendra tidak memikirkan perasaan All sama sekali, padahal didunia ini yang ia punya hanyalah sosok ayah tiada yang lain lagi.
"pahh All mohon jangan usirr All duluu"
"All nggk tau harus kemana" rintihnya
"silahkan keluar" hanya kalimat itu yang All dengar.
Percuma saja All memohon kepada sang ayah, dia tidak akan mendengarkan sama sekali. Hukumnya hanya akan bertambah berat jika ia menolak. Sama seperti waktu ia masih kecil.
All pernah menolak untuk mengikuti les pelajaran matematika, karena baginya dia tidak memiliki potensi dibilang itu. Alhasil dia hanya memperoleh bentakan cacian dan tamparan dari sang ayah. Dan mulai dari situ All sadar ayahnya tidak akan menyayangi nya kecuali dia menjadi apa yang diinginkan oleh ayahnya.
uhukkk... Hendra menaruh tangan kanan nya didepan mulut. Ia melihat ada secercak darah ditangan. Pertanda dia harus minum obatnya atau penyakit nya akan selalu menggerogoti tubuhnya. Sebenarnya dari tadi Hendra sedang menahan diri untuk tidak meluki siapapun. Ia tahu kemarin Alisha baru saja dilukai oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Karena penyakit paranoid nya. Ia tidak bisa menahan emosinya sendiri, Hendra bahkan meminum obatnya lebih dari yang di sarankan oleh dokter.