
Ratna membiarkan anak itu pergi sendiri, tidak ada yang bisa dia lakukan. Ibunya akan tetap menerima sebuah hukuman, sampai kapanpun Ratna tidak akan pernah melepaskan Tantri.
"buu siapa yang mendonorkan jantungnya untuk ku" tanya Hendra dengan suara yang kecil seolah tidak bertenaga.
"putrimu" cetus Ratna dia tidak mungkin akan menyembunyikan hal sebesar ini kepada putranya.
"putriku?" Hendra bertanya-tanya didalam pikirannya seolah-olah dia lupa bahwa dia memiliki 2 orang putri.
"Alisha anak dari Alvina apa kau melupakannya" cetus Ratna lagi sambil mengupas buah.
"Alisha" mulutnya bergetar saat mengatakan nama putri satu-satunya yang terlahir dari rahim wanita yabg dia cintai.
"yaa itu dia, jantungnya sekarang sedang berdetak didalam tubuhmu"
Dengan gerakan pelan, Hendra mengelus perut bawahan bagian kirinya. Dimana jantung All terpasang disana.
"kau benar putri ki dan Alvina"
"kau peri kecil kami" batin Hendra.
__ADS_1
Sebenarnya dia sudah menyesal sedari lama. Dari dimana All diusir dari rumah dia baru sadar bahwa rumah sepi jika tidak ada dia. Saat All pergi walaupun rumah ramai karen selalu dibuat pesta oleh Tantru dan teman-teman namun bagi Hendra terasa begitu sangat kesepian. Hingga Hendra memutuskan untuk jarang pulang ke rumah. Soal Tantri menukar obanya Hendra sama sekali tidak curiga, karena setahunya tidak ada yang mengetahui tentang penyakitnya.
"apakah kau menyusul ibumu nak" panggillan spesial pertama Hendra kepada All, namun sayang dia sudah tidak ada.
Kali pertama Hendra meneteskan air matanya untuk Alisha. Ada rasa tidak terima jika harus All yang mengorbankan jantung demi menyelamatkan nyawanya. Kenapa dia melakukan itu, bahkan disaat All diusir tidak ada yang bisa dilakukan oleh Hendra.
"sudah lah jangan menangis" Ratna mengusap air mata anaknya dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Hendra. Dirinya juga menyesal kenapa menyia-nyiakan orang sebaik All.
"ibu akan membawamu menemui makan putrimu jika kau sudah pulih" terang Ratna, namun bagi Hendra itu terlalu lama. Dia ingin saat ini juga datang kemakam putrinya dan meminta maaf.
Taysa sangat syok saat dia tiba dirumah lalu bibi Siti memberitahu bahwa ibunya dibawa oleh 2 orang polisi. Sekarang dia sedang melaju cepat ke kantor polisi untuk segera membebaskan ibunya.
"sebesar apapun kesalahan ibu, dia tetap anakmu" ucapnya.
Dia marah kepada neneknya sendiri, ibunya pasti punya alasan kenapa melakukan hal seperti ini. Kenapa neneknya tidak mau sama sekali untuk memaklumi.
"buuu" pekik Tasya saat sudah sampai di kantor polisi
"dimana ibuku!" bentaknya.
__ADS_1
Semua orang menatap benci kearah Taysa karena meninggikan suaranya padahal disana sedang dalam keadaan yang tenang.
"siapa yang kau cari" tanya salah satu polisi wanita
"ibuku, dia adalah istri dari pengusaha besar Hendra Wijaya" sombongnya.
"maksudmu tersangka bu Tantri?" tanya polisi wanita itu.
"yaa, dimana dia sekarang" tanya Taysa
Lalu Tasya mengikuti langkah polisi wnaita itu untuk membebaskan ibunya.
"Taysaa" pekik Tantri
Mereka berpelukan, Tantri mengeluarkan air matanya seraya meminta bantuan kepada Taysa agar dia cepat dibebaskan. Tasya memiliki banyak uang dikartunya, hanya dengan membayar denda maka Tantri akan bebas. Satu-satunya orang yang masih perduli kepada Tantri hanya Tasya seorang.
"buu biarkan aku berbicara kepada mereka, aku akan membebaskan mu dengan membayar berapapun dendanya" terang Tasya.
"baiklah ibu akan menunggu mu" jawab Tantri.
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol sebentar sampai akhir Tasya pergi untuk menyewa pengacara dan akan membebaskan ibunya itu.