
Pagi ini cuaca sangat mendukung, Tasya sedsng berada didalam ruang riasnya. Begitu juga dengan Elgara. Ia ditemani oleh mamahnya, sementara Tasya berasa dengan neneknya. Masih belum banyak oara tamu undangan yang datang mungkin mereka akan datang pada waktu sore harinya.
Dengan perasaan gugup namun Tasya sungguh bahagia. Ini hari dimana neneknya ulang tahun sekaligus pesta pernikahan yang telah lama dinanti. Berbeda dengan Elgara justru dia tidak telihat bersemangat, benar-benar kecewa dengan takdirnya.
"sayang maafin mamah yaa" Rindi mengusal air matanya. Ia masih tidak tega membiarkan anaknya harus terpaksa menikahi wanita yang sama sekali tidak dia cintai.
"mahh, bukan salah mamah juga papah" Elgara berusaha menyakinkan mamahnya itu.
Walaupun pikirannya mengatakan untuk kabur saja. Tapi mana mungkin ini janji harus ditepati, ia tidak akan memalukan keluarganya.
Puncak acara hari ini adalah nanti malam, siang dan pagi mungkin penyambutan tamu juga sesi foto bagi para tamu undangan. Tamu pun sangat spesial dari kalangan konglomerat.
"sayang ayok turun ke bawah buat nyapa teman mamah" ajak Tantri kepada Tasya
Tasya yang sudah siap dengan gaun indahnya itu turun dengan elegan. Disusul oleh Elgara juga yang sudaj siap dengan jasnya. Baju mereka couple membuat orang yang melihatnya sungguh iri. Apa lagi mereka berdua sungguh tampan dan cantik.
Karena teman dari Tantri dan Hendra sangat banyak maka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyapa mereka satu-persatu. Di tengah acara itu juga, Elgara harus membiarkan Tasya terus mengandeng tangannya.
"putrimu sungguh cantik" puji teman dari Tantri
"ya dia satu-satunya tuan putri kami" jawab Tantri
"ehh, bukannya si Hendra masih satu putri lagi" ucap salah satu dari mereka
__ADS_1
"owh iya dimana dia, aku tidak melihatnya" saut yang lain
Tantri terdiam tidak tau harus menjawab apa. Walaupun ia tahu pasti diantara temanya akan ada yang menanyakan hal ini.
"dia tidak ada" mereka yang mendengar sedikit syok.
"jeng gimana ceritanya bukannya dia juga darah daging dari Hendra?"
"dia memutuskan untuk tinggal sendiri" terang Tantri
"apa ada yang salah dari keluarga kalian?"
"tidak dia mungkin ingin mengembangkan usahanya sendiri tanpa ada bantuan dari kami" ucap Tantri ragu. Ia tidak tahu mereka akan percaya atau tidak
"ck memang kenapa kau dia saya usir" batin Tantri
"toh bukan kamu yang kasih makan!!" cetusnya didalam hati.
Lalu dia segera meninggalkan mereka dan berpindah tempat untuk mengunjungi yang lain.
"hadeh, bukanya pernikahan ini seharusnya anak pertamanya bukan yang kedua" bisik salah satu tamu
"husttt, dia putri kesayangannya sementara yang pertama dia kan putri dari wanita yang sudah lama meninggal" jawab temannya
__ADS_1
"tetapi agak tidak adil membiarkan mereka menikahkan orang yang mungkin tidak saling mencintai"
"heii, bagaimana kau tahu. Sudahlah tidak usah bergosip jika ketahuan kita akan terusir"
Ada banyak orang yang suka pernikahan ini tapi tidak sedikit juga yang tidak suka. Yang tidak suka mungkin mereka sedikit tau cerita atau mungkin mengarang.
Sudah ada setengah hari, cuaca panas kedua mempelai memutuskan untuk masuk keruangan masing-masing. Masih ada beberapa jam, sore nanti mereka juga harus berdandan lagi untuk puncak acara malam ini. Dimana akad akan dilangsungkan. Ell juga sedang belajar mengucapkan kata akad itu.
"apa dia tidak datang?" batin Ell
"apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Rindi sembari mendekati anaknya.
"ngga maahh" jawab Ell
"kamu yakin dengan pernikahan ini??" Elgara hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari mamanya.
"Ell ngga usah di paksa, bukanya perusahaan juga sudah membaik"
"berapapun uang yang diberikan pak Hendra untuk menyuntikkan dana ke perusahaan, kita bisa membayar sedikit demi sedikit"
"mamah ngga mau kamu nyesel seumur hidup" ucap Rindi.
Dia sendiri bersikeras untuk membatalkan pernikahan. Ia tidak mau anaknya benar-benar menyesal nanti.
__ADS_1