
Karena pulang awal All langsung rebahan dirumah. Ia lupa jika Bobi akam datang malam ini. Dia mengunci pintu dan perlahan menutup mata. Tidak lama setelahnya All menghirup bau tidak sedap, seperti asap. Dengan gugup ia segera bagun. Dan seperti dugaannya rumah dia sekarang sedang terbakar.
All berlari panik keruang tamu, sementara kunci rumahnya berada dilaci kamar. Ia lupa mengambilnya saat berlari. Ia menggedor-gedor pintu dengan panik berharap ada seseorang yang akan menyelamatkannya.
"nikmati siksaan mu" suara serak dari balik pintu
All tidak bisa lagi kembali kekamar karena api juga sudan berada tepat dibelakangnya. Air matanya bercucuran All benar-benar sudah sesak nafas. Ia berfikir hidupnya akan berakhir disini.
"kak Ell" rengek All
"bunnnn"
Namun ternyata tak dikira, teman All yaitu Bobi yang bersifat agak seperti wanita memiliki tenaga cukup kuat. Dengan beberapa kali di dobrak pintu itu terbuka. Segera All langsung memeluk Bobi dengan kencang.
"ada gue" ucap Bobi.
Ia menggendong All keluar dan pemadam kebakaran datang setelahnya.
Jadi kini All tinggal dirumah Bobi, bukan Bobi yang tinggal dirumah All. Mungkin sampai rumah All selesai direnovasi. Beruntung hampir setengah uang All tidak ia simpan di lemari atau semacamnya tapi ia tabung di bank.
"jadi gue yang ngerepotin" ucap All
"santaii kali kaya ama siapa"
"mau makan apa lo?" tanyanya
"samain aja kaya kamu Bob"
__ADS_1
Bobi mengangguk mengerti dan segera menyiapkan makanan untuk pagi ini. Karena semalam mereka harus kerumah sakit terlebih dahulu untuk memastikan agar Alisha baik-baik saja.
All teringat suara samar-samar dari balik pintu kemarin malam. Ia menceritakan dengan diteal kepada Bobi. Lalu sesegera mungkin Bobi menyelediki mereka berdua melihat rekaman cctv yang berada disekitarnya rumah All. Sayangnya hanya ada satu kamera yang menyala, yang lain sepertinya sudah dirusak. All dan Bobi hanya melihat punggung besar mikik lelaki itu.
Namun Bobi bisa menyimpulkan bahwa lelaki itu sepertinya tinggi tidak jauh dari rumah All. Karena ia hanya berjalan kaki untuk sampai dirumah All. Dan tidak ada teman untuk membantu menjalankan rencanannya.
"dasar nenek lampir sampai segitunya kepengin gue mati" batin All meroasting mama tirinya.
"kaya dia juga orang yang sama yang ngasih racun dimakan mu itu" ucap Bobi.
Dan All baru menyadarinya, dipikir-pikir apa yang dikatakan Bobi adalah benar.
Tidak berselang lama rumah All sudah jadi dan dia memutuskan untuk pulang saja. Ia mengatakan pada Bobi bahwa dia sendiri baik-baik saja dan dapat melindungi dirinya sendiri.
Tapi disaat ia berjalan pulang All kini All mendapatkan serangan langsung. Ada seseorang yang hendak menusuknya dengan pisau. Karena sempat menghindari jadi hanya mengenai perut sebelah saja. Tetapi darah yang keluar agak banyak, All sempat memegang tangan pria tersebut namun ditepis dan segera berlari.
"woiii" teriakk Bobi yang mengagetkan pria itu dan segera berlari masuk kembali ke gang.
Tak sempat mengejar Bobi lebih memilih menyelematkan taman satu perjuangan nya itu. Ia menggendong All dengan modal nekat ia berlari ke rumah sakit tampa adanya kendaraan. Tentu saja darah dari All hampir membasahi kaos yang dikenakan Bobi.
Dengan tenaganya Bobi sampai dirumah sakit. Ia benar-benar berlari agar All tertolong, tidak ada kendaraan disepanjang perjalanan yang menawarkan Bobi untuk mengantarkannya.
Entah kenapa akhir-akhir ini Bobi selalu kuat jika berada disamping All. Padahal dia sendiri sudah lama tidak berolahraga ataupun ngegym. Tapi memang tubuhnya sendiri hampir sama dengan seorang atlet dan memiliki sebuah roti diperutnya walaupun hanya 4.
Tantri senang mendengar kabar dari sang anak buahnya itu, dan melihat foto yang ia kirimkan.
"cepat lah mati tidak ada yang menginginkan mundi dunia ini!!" ucap Tantri dengan senyum devilnya.
__ADS_1
"kau jangan pulang terlebih dahulu sebelum mendengar kabar bahwa anak itu benar-benar tiada" pinta Tantri.
"baik boss"
Entah berapa uang yang dibayarkan oleh Tantri terhadap Jack karena ia sangat patuh kepadanya.
Dengan raut muka gelisah bahkan Bobi belum mengganti baju yang terdapat noda darah itu. Ia terus bolak-balik didepan ruang UGD. Jantungnya tidak karuan bahkan ia sesak nafas. Ia teringat pada almarhum kakanya yang juga menjadi korban karena kebencian seseorang. Dan itu persis seperti apa yang dialami oleh Alisha.
Saat itu Bobi masih kecil jadi dia tidak tahu harus berbuat apa, kakanya mati begitu saja karena fitnah dari seseorang. Bahkan kasus dari kematian kakaknya seolah-olah ditutup-tutupi oleh pihak berwajib.
Dari kecil itu terus dendam dengan orang itu sayangnya orang itu sudah menemui ajalnya sebelum Bobi membalaskan dendamnya. Dia hanya keluarga satu-satunya yang dimiliki oleh Bobi, alhasil Bobi harus menafkahi dirinya sendiri setelah kepergian sang kaka. Hingga sampai pemilik restoran mau memperkerjakan Bobi yang masih kecil itu. Walaupun hanya sekedar mencuci piring.
Suster membujuk Bobi untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Suster juga mengatakan bahwa para dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa Alisha.
Ternyata All termasuk manusia yang beruntung, ia selamat dari racun itu walaupun dirinya harus dirawat selama beberapa hari.
"udah untung lo selamat" gerutu Bobi.
All mendekati tubuh Bobi ia merentangkan tangannya seolah ingin berpelukan. Dengan sigap Bobi menangkap tubuh kecil itu.
"makasihh lo udah mau nyelametin nyawa gue" rintih All.
"lo ngomong apa sii, kita kan teman" sela Bobi.
"yeahh, dan selamanya akan seperti itu"
All tahu bahwa Bobi yang mati-matian membawa nya agar bisa sampai dirumah sakit tepat waktu. Walaupun tidak memakai kendaraan hanya bermodalkan tenaga. Jaraknya juga tidak dekat bahkan lebih jauh sedikit dari restoran tempat mereka berdua berkerja.
__ADS_1