
"Raa" panggil Kayla
Sebenarnya kamar Rara dan Kayla bersebelahan, Rara hanya berniat melihat Kayla sebentar namun ternyata ia tertidur saat ia sedang bercerita betapa kesepiannya dia saat tidak ada Kayla. Namun sayangnya Kayla tidak bisa mendengarkan.
Rara pun terbangun dengan suara panggilan yang kecil itu. Ia membernarkan posisi duduknya.
"gue dimana?" tanya Kayla
"lo dirumh sakit"
Kayla sedang mengingat-ingat kembali kenapa dia bisa masuk rumah sakit. Ia benar-benar lupa, sedikit demi sedikit ia berusaha mengingat kejadian yang membuatnya pingsan. Tanpa sadar kini air matanya pun menetes.
"Vinnn" lirihnya
"huftt" Rara menghembuskan nafasnya pelan
"All dimana?" tanya Kayla
"kenapa lo masih perduli sama pembunuhan itu!!"
"nggk All bukan kaya gitu orangnya"
"ck asal lo tau yaa, yang ngerawat lo saat lo di rumah sakit cuma gw!" bohong Rara
Padahal yang selalu ada di dekat Kayla saat ia sakit adalah All. Bahkan pada malam hari saat Kayla drop sesak nafas. All yang membantunya untuk bernafas kembali dan memanggilkan dokter. Semetara Rara ini adalah kunjungan pertamanya.
"bohong" sela Kayla
"mau sampai kapan lo itu dibutain matanya sama All"
"sampai lo sndiri nyesel senyesel nyesel nya?"
"dia aja tega ndorong gue sama cowo lo ketebing"
"mau lo percaya apa lagi sama manusia modelan kek diaa" Rara terus saja mencuci otak Kayla agar membenci All.
__ADS_1
Kayla diam di tidak tahu siapa yang harus ia percaya saat ini.
"kalo lo nggk percaya lo bisa ikut gue nnti sore ketemu pak polisi, biar mereka ngenjelasin siapa sebernarnya All"
Kayla diam pikiran ny bingung antara setuju dan tidak setuju. Namun hatinya masih saja percaya bahwa All adalah seorang yang baik baginya.
****
"jika kamu berbuat kesalahan satu kali lagi saya benar-benar akan mengusir mu keluar dari rumah saya" ucap Hendri lantang.
Sementara Tantri dan Tasya sedang asik menguping namun mereka tidak bisa mendengar karena rungan itu adalah kedap suara. Bahkan suara dentuman musik dj tidak bisa terdengar dari luar.
"udah ah mahh nanti ketauan" sela Tasya
"yudh deh mamah juga udah pegel berdiri"
Mereka akhirnya pergi setelah beberapa menit kepergiannya. All keluar dari ruangan itu. Ia berjalan lesu kearah kamarnya. Ia ingin sekali menghadap kepada Tuhan hari ini juga.
"bunn All capee" keluhnya smbil melihat foto usang milik bundnya.
Tak henti-hentinya ia menangis ia tidak bisa menyalahkan takdir atas apa yang terjadi kepadanya.
"kenapa bunn dunia selalu ajaa nggk adil sama All"
"bunn All pengin nyusul bunda boleh"
Bibi sudah berada di depan pintu kamar All. Seperti biasa hanya dirinya yang bisa menenangkan dan memberi support kepada All disaat seperi ini. Namun saat tangan ny ingin membuka daun pintu segera saja di hentika oleh Tantri. Dan Tasya merebut kotak P3K yang di bawa oleh bik Siti.
"mendingan bibi urusin pekerjaan dapur" usir Tasya
"ini masalah keluarga kami!!" sambung Tantri
Bibi tidak bisa berkata lagi ia segera meninggalkan kamar All dan tidak jadi mngobati lukanya.
Sementara Tantri dan Tasya masuk.
__ADS_1
"wahh ternyata bisa nangis juga kamu" ejek Tasya
All segera bangun dari tepi ranjangnya. Sekarang badannya benar-benar seperi mandi darah. Banyak sekali darah yang bercucuran di wajah maupun tangannya. Pakiannya pun robek karena terkena pukulan rotan beberapa kali oleh papahnya.
"bagus deh kalo lo mau nyusul bunda lo"
"jadi keluarga ini nggk ada lagi yang namanya beban" hardik Tantri
brug...
Tasya melemparkan kotak P3K kedada All.
"sebaiknya lo mandiri deh"
"ternyata ibunya yang tukang SELINGKUH melahirkan anak yang tukang PEMBUNUH" Tantri mengucap sambil menekan kata-katanya.
All tidak tahu apa maksud dari kata selingkuh, apa yang sebenarnya terjadi kepada ibundanya smpai-sampai ia dicap sebagai tukang selingkuh.
"bunda All itu nggk sprti yang kalian omongin" ia jadi teringat waktu Rara juga yang mungkin itu didepannya, yang membuatnya hilang kendali sampai-sampai mendorong ny dengan keras.
"Alvina itu orang yang nggk pernah bersyukur"
"udah di kasih cowo kaya mas Hendri aja masih bisa selingkuh" oceh Tantri
"dan ternyta anaknya lebih parahh" sambung Tasya
"apa sii yang kalian omongin"
"bunda All orng baik-baik"sela All
"heh!! lo aja belum pernah kenal sama bunda lo main beragumen sendiri" hardik Tasya
Bebagai hinaan yang dilontarkan dari mulut Tantri dan Tasya, All hanya bisa diam. Dan seperti biasa ia tidak memasukkannya kedalam hati dan menganggapnya seperti angin lewat.
Walaupun tentu saja ada rasa tidak terima di hati All. Ia yakin 100% bahkan 1000%, bundanya jauh dari kata yang mereka ucapkan. Entah apa yang membuatnya begitu yakin. All kini merasakan pusing hebat di kepalanya. Darahnya tidak ada henti-hentinya nya keluar.
__ADS_1
Dan akhirnya ia pingsan sendiri dikamar. Tubuhnya jatuh kelantai sangat keras.
"bunn All mau nyusul bunda" katanya sebelum menutup mata.