Takdir Yang Dipermainkan

Takdir Yang Dipermainkan
Masa Kecil


__ADS_3

Disaat Vallen akan dibawa oleh polisi Kayla menghentikan langakah mereka semua dengan teriakkannya.


Kayla mendekati Vallen dengan nafas yang menggebu-gebu, dia tiba-tiba sangat benci kepada Vallen.


Plakkk


Satu tamparan melayang dipipi Vallen lagi dan lagi. Kayla tidk ouas hanya dengan satu tamparan rasanya ini sangat tidak adil dengan apa yang Vallen telah lakukan kepada mereka bertiga.


"apa yang kau lakukan" pekik Vallen


"maaf nona kami harus membawa tersangka utama" ucap polisi


"jangan bawa dia dulu, aku ingin mendengar apa alasan dia melakukan semuanya" ucap Kayla


"apa yang ingin kau dengar, aku tidak akan mengatakan apa pun" cetus Vallen.


"kauu tidak pantas untuk hidup!!" pekik Kayla


"siapa kau mengatur ku untuk hidup atau tidak"


"jika aku bisa memilih maka aku tidak ingin hidup menjadi Vallen saat ini" balas Vallen dengan pekikan nya.


"kau itu moster, tidak memiliki hati nurani sama sekali" cela Kayla


"kau memisahkan kami bertiga tanpa alasan!!" bentak Kayla


"kau pikir aku ingin melakukannya haaa!!" teriak Vallen.


Tidak ada yang ingin mengalah saat ini. Mereka berdua sama-sama menggunakan nada tinggi untuk berbicara.

__ADS_1


"kau sendiri baru teringat kepada Alisha sekarang"


"dimana kau saat Alisha diremehkan semua orang kau bahkan tidak cocok untuk menjadi teman atau sahabatnya" cetus Vallen dengan senyum devilnya.


Kata-kata yang dikeluarkan oleh Vallen sangat masuk kedalam hati Kayla. Ini salahnya karena waktu itu terhasur oleh pemikiran Vallen dan Rina.


"ini semua terjadi karena kau, kau merubah segalanya"


"kau tidak mempunyai perasaan sama sekali"


"apa yang membuat mu menjadi moster seperti ini, bahkan rasa sakit yang kau alami tidak seimbang dengan apa yang dialami oleh Alisha dan Rara!!" pekik Kayla


"berani sekali kau mengatakan bahwa apa yang ku alami belum sebanding dengan mereka berdua" Vallen menunjuk dada Kayla.


"kau tidak tahu rasanya kehilangan dunia mu"


"kau hanya merasakan kehilangan sosok laki-laki" Vallen mulai menitihkan air matanya mengenang bagaiman dulu kehidupannya.


"kauu tidak akan pernah tau apa itu rasa sakit"


"sebelum kau sendiri merasakan nya" setelah mengatakanya Vallen terenyum devil, seolah-olah tidak menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.


FALSHBACK


"ayahhh"


"hikss.. hiksss..." tangis pilu seorang Vallen kecil.


Melihat kedua orang tuanya yang sekarang sedang berkelahi.

__ADS_1


"Vallen kau tunggu disini biar kaka yang melerai ibu dan ayah" ucap kaka tertua Vallen.


Mereka ada 5 bersaudara semuanya laki-laki Vallen adalah anak terakhir sekaligus perempuan sendiri.


"mass, apa yang kau lakukan"


"aku ingin berpisah dengan mu cepat tanda tangan" ayah dari Vallen menggered paksa ibu Vallen dia juga mengancam ibu Vallen jika tidak ingin tanda tangan maka dia akan membunuh salah satu anak mereka.


"dasar ayah gilaa, lepaskan ibuku" kaka tertua berusaha melepaskan cengkraman ayah dari rambut ibunya.


"minggir" dengan satu tendangan anak itu terpental.


Mereka masih kecil, kaka tertua duduk dibangku kelas 2 SMP.


"jangan menyakiti anak ku, aku bersedia berpisah dengan mu!!" tegas ibu Vallen


Setelah menandatangani surat pisah itu, rumah yang mereka tempati itu adalah milik ibu dari Vallen namun sertifikat rumah berada ditangan ayah Vallen dan kepemilikan juga sudah diubah.


"aku akan membalas apa yang terjadi hari ini kepadamu Hendraa!!" teriak ayah Vallen.


Ini terjadi karena perusahan milik ayah Vallen bangkrut karena hutang. Saking banyaknya hutang ayah Vellan kepada Hendra sangat banyak. Karena tidak bisa membanyar jadi ayah Vallen menjual perusahaannya. Namun tidak cukup masih tersisa sedikit hutang.


Karena ayah Vallen menganggap istri dan anak-anaknya adalah beban baginya jadi dia ingin mengusir keluar mereka. Ia ingin hidup sendiri agar lebih leluasa apa lagi keuangan juga sedang menipis. Mana mungkin ayah Vallen sanggup untuk menghidupi mereka semua. Apalagi anaknya juga banyak.


"keluarrr!!" ayah Vallen menarik kasar ibu Vallen untuk segera keluar.


Padahal hari itu sedang huja lebat tanpa belas kasih ayahnya mengusir mereka semua. Perusahaan bangkrut dan rumah yang ditempati juga setelah ini akan dijual oleh ayah Vallen.


"Hendra dia adalah sebab dari semuanya" ayah Vallen berteriak lagi, seolah-olah ingin meneruskan dendamnya kepada anak-anaknya.

__ADS_1


Vallen yang mendengar kata Hendra, sejak saat itu dia mengingat jelas nama itu. Nama yang membuat hidupnya terasa seperti neraka.


__ADS_2