Takdir Yang Dipermainkan

Takdir Yang Dipermainkan
Keluar Dari Rumah


__ADS_3

Hendra pergi menemui sang istri, dan Tasya disuruh kembali kekamar dan jangan memikirkan hal apa yang tadi siang dia lihat.


"mass" ucap Tantri setelah dia sadar dari pingsannya.


Hendra hanya menengok karena panggilan itu.


"apakah Tasya masih belum cukup untuk memimpin perusahaan, bahkan dia lebih pintar dari Alisha" ucap Tantri dan mulai meneteskan air mata palsu.


Hendra hanya diam dengan penuturan sang istri.


"jika kau berani memberikan semua saham itu kepada Alisha, maka aku akan mengakhiri hidupnya" ancaman Tantri.


Tantri berdiri dari kasunya dan berjalan kearah jendela.


"kau tau, ibumu itu bahkan lebih menyayangi ku dari pada kau sendiri. Aku bisa melakukan apa pun sesukaku"


"jika kau tidak segera merubah isi dari dokumen itu maka aku akan memastikan kau akan menyesal"


Inilah sikap Tantri yang sebenarnya, ia tidak pernah munafik didepan suaminya sendiri. Tantri bahkan tau suaminya itu mengidap penyakit dan dirinya lah yang selalu memberikan obat berlebihan agar suaminya segera mati dan dia yang akan menguasai keluarga Wijaya dan menjadi satu-satunya nyonya Wijaya.


Dari kecil Tantri selalu tergila-gila dengan harta, alasan kenapa ia bergitu menyukai nya adalah saat ia kecil makan saja sangat susah baginya. Sedari kecil ia sudah mempunyai cita-cita menjadi seseorang yang kaya raya. Dia tidak membiarkan anak-anak dan dirinya mati kelaparan sama halnya dengan yang terjadi kepada orang tuanya dulu.


Ia terlahir dari keluarga yang sungguh miskin, dirinya adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Kisah yang menyeramkan dan masih teringat olehnya adalah semua anggota keluarga nya mati satu persatu hanya karena tidak ada makanan. Alasan dia masih hidup adalah keluarga tidak pernah membiarkan Tantri merasakan kelaparan dan biarkan mereka semua yang menangung.


Hingga akhirnya dia bertemu dengan Ratna ibu dari Hendra, ibu Tantri adalah sahabat karib dari Ratna. Karena keluarganya terjerat hutang banyak mengakibatkan ekonomi keluarga menurun drastis. Ratna masih mempunyai hati nurani jadi dia mau saja mengurus Tantri anak sahabatnya yang tinggal satu itu.


Karena Ratna tidak mempunyai anak perempuan, maka ia mengurus Tantri dengan segenap hati tanpa sepengetahuan keluarga. Karena yang diinginkan keluarga Wijaya hanya anak laki-laki anak perempuan hanya akan membawa beban dan tidak bisa meneruskan perusahaan.


Tantri kecil memiliki wajah yang cantik bak peri itulah yang membuat Ratna begitu suka memandang wajah gadis kecil itu. Semakin lama mereka bersama semakin dalam pula rasa sayang Ratna kepada Tantri. Sampai ia lupa bahwa Hendra adalah anak kandungnya sendiri.


"apa yang kau inginkan?" tanya Hendra ia tahu pasti sekarang Tantri sedang ingin mengunggaapkan permintaan.


"usir dia keluar dari rumah!!" pinta Tantri.


"kau tidak mempunyai hak lebih dari ini!" Hendra menolak apa yang diminta oleh sang istri


"kenapa, apa karena kau masih mencintai si ****** itu?" ia membuat suasana menjadi lebih panas.


"apa karena kau melihat Alisha sebagai Alvina?"


"jaga omongan kamu" bentak Hendra


"aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan" ucap Tantri


"jangan sampai aku mengadu ke ibu, dan anak itu akan menyusul ibu tercintanya kealam baka" Tantri mengakhiri pembicaraan ini. Lalu ia berniat pisah kamar dengan sang suami, dan memilih tidur dengan Aksara.


Hendra berdecak kesal selama ini hidupnya terus mendapat masalah karena ada Tantri disampingnya.


Sementara Tantri bolak balik cemas dikamar anaknya, ia memikirkan masalah malam ini.


"bagaimana ini jika ancamanku tidak berguna bagi mas Hendra" gumam Tantri


"maka perusahaan benar-benar akan ada ditangan anak sialan itu"


"dan jika anak itu mempunyai keturunan maka akan turun kepadanya, dan anak-anak ku tidak akan mendapatkannya sama sekali" Tantri mondar-mandir sembil menggigit bibir bawahnya.


"ibu tidak akan munggain memberikan perusahaannya yang lain untukku, karena wanita tua itu sama halnya dengan ku, dia gila harta!!"


"ck, aku akan membuang anak itu jauh dari kehidupan ku"

__ADS_1


Pagi hari ini tidak ada guru Elena datang untuk mengajar All. All kira libur sementara ternyata itu adalah kelakuan dari sang ibu tiri.


"silahkan pergi dari rumah ini" Tantri sudah memerintahkan kepada pelayannya untuk mengemasi barang All pagi ini.


"permintaan gila apa inii" ucap All


"apa kau tuli? pergi dari sini dan jangan pernah kembali" tutur Tantri


"cih, apa cuma gara-gara harta kau sampai melakukan sejauh ini?"


"aku bisa mengajukan saham yang diberikan oleh papah kepada ku untuk di berikan kepada Taysa"


"apa itu yang kau inginkan" ucap All dengan senyum smiriknya.


Tantri diam sejenak dan memikirkan apa yang dikatakan All barusan.


"tidakkk, mas Hendra pasti tidak akan tinggal diam. Tidak munggain segampang ini" batin Tantri dan dia menggelenggaan kepalanya.


"penerusnya pasti akan tetap All apa lagi dia memang putri dari orang yang dicintai"


"mamah sayangg, kenapa diamm?" tutur Alisha.


Lamuanan Tantri buyar oleh panggilan All.


"dia harus keluar!!" tegas Tantri didalam pikirannya.


"bagaimana kesepakatan ku tadi?" tanya All


"pergi dari sini atau aku akan menyuruh orang untuk menyeret kamu keluar!!" pekik Tantri


"kau bahkan tidak mempunyai hak atasku!!" All menatap Tantri tajam.


"dia sudah tidak lagi membutuhkan mu, penyakitnya sudah sembuh"


"kau disini dibutuhkan hanya sebagai alat pereda emosinya" tutur Tantri.


"bukankah seharusnya kau menyadari bahwa akhir-akhir ini ayahmu tidak lagi menyakiti mu? seharusnya kau sadar"


All terdiam apa yang dikatakan Ibu tiri satu ini memang benar.


"sekarang hak itu itu sudah dilepas dan diberikan kepadaku, maka aku akan melakukan apa pun kepadamu!!"


"aku akan tetap disini sampai papah sendiri yang bilang kepadaku untuk melanggaah pergii meninggalkan rumah inii!!" ucap All dia keras kepala.


Tantri sedikit tertawa dengan penuturan All.


"heii anak sialan, apakah kau tidak lelah dijadikan barang oleh ayahmu sendiri?"


"aku sudah memberikan kesempatan yang bagus agar kau jauh dari neraka ini kenapa kau tidak melanggaah pergii?"


Ini memang suatu kesempatan yang bagus baginya, inilah yang ditunggu-tunggu oleh All yaitu kebebasan. Tapi disisi lain ia takut bahwa ayahnya akan kenapa-kenapa oleh mak lampir satu ini.


"tidakkah munggain dia akan mencelakai papah secara perlahan?" batin All.


All termenung sebentar memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"ngga, gue harus jaga papah agar tidak terjadi masalah saat didekatnya" batin All


"All ngga mau pergi" ucap All.

__ADS_1


"dasar keras kepala, sudah ku bilang kau sudah tidak diinginkan peran mu sudah habis disini dan kau sudah dipersilahkan untuk pergi"


"mau bagimana pun papah memperlakukan All, dia tetap papah All. Dia yang punya hak seluruh nya kepada All setelah bunda!!" tegas All.


"aku akan membuat mu menyesal!!" pekik Tantri.


Hendra mendengarkan pertenggaaran kecil diatas dengan mata sayup-sayup.


"lihatkah lelaki tua itu" ucap Tantri.


All melihat arah yang ditunjukkan oleh mamahnya. Lalu Tantri mendekati All dan berbisik di telinganya.


"tidakkah kau merasa kasihan kepadanya"


Tangan All gemetar ia tidak tahu apa yng terjadi kepada ayahnya itu. Ia terlihat sungguh tidak sehat.


"bukankah kau putri yang baik Alisha?" tanya Tantri.


Dada All menggebu-gebu ia tahu ini pasti perbuatan sang mak lampir disebelahnya. Memang tidak habis pikir ia tidak memiliki hati nurani sama sekali.


"pahh" pekik All.


Lalu Hendra yang tadinya ingin menutup mata menjadi membelalak karena kagett dengan suara All. Dan melihat putrinya itu.


"pergi" satu kata itu yang keluar dari mulut Hendra. Ia membalikkan badannya seolah tidak kuat melihat wajah khawatir putri kecilnya.


"kau dengar? kau sudah tidak layak untuk tinggal jadii silahkan langgaahkan kaki keluar segera" pinta Tantri.


Awalnya All masih saja diam dia tidak tahu maksud dari papahnya, munggain maksud keluar adalah karena ingin mengakhiri pertenggaaran bukan mengusirnya.


Sampai Hendra berbalik dan berkata.


"keluar sekarang juga dari rumahku" suaranya membuat satu rumah merinding, pertama kalinya Hendra mengeraskan volume suara setelah sekian lama.


Dengan rasa khawatir dan kecewa perlahan Alisha memundurkan langgaahnya keluar rumah.


"pahh jaga diri papah baik-baik" teriak All


"nonn Alisss" teriakk bibi, dia tidak bisa lagi kerja dirumah ini jika tidak ada Alisha.


Ini kedua kalinya All pergi dari rumah dan yang kedua kali ini munggain All tidak akan kembali. Bibi Siti menangis sejadinya, kenapa ini bisa terjadi. Kenapa tuan begitu tega terhadap anak kandungnya sendiri.


"papah udah ngga butuh All" dengan air mata yang masih mengalir All berlari keluar garbang rumah.


Ia tidak tahu harus pergi kemana, munggain ia akan tinggal sebentar dirumah mama Rindi sampai ia mempunyai rumah sendiri dari celengannya.


Disisi lain Hendra kembali ke ruang pribadi miliknya, dan disana ia mulai menghancurkan barang-barang.


Alasan Tantri tahu atas ganguan Hendra adalah karena sikapnya yang selalu emosional dan suka sekali menyakiti maupun bermain darah. Tapi tidak ia lakukan kepada Tantri ataupun anaknya hanya dilakukan kepada All seorang.


Selain sebagai rasa benci terhadap Alvina, Hendra juga suka menyakiti All kerena saat melakukan ia berpikir bahwa yang didepannya bukanlah All namun Alvina ****** kecilnya itu.


"siall" ucap Hendra.


"saya tidak membiarkan Tantri membunuh Alisha begitu saja" ucap Hendra


"biarkan Alisha hidup dan pergi, suatu saat nanti aku akan mencarinya kembali"


"dasar wanita sialan!!" gumam Hendra.

__ADS_1


__ADS_2