Takdir Yang Dipermainkan

Takdir Yang Dipermainkan
Bunda All


__ADS_3

Selesai makan malam All pamit duluan untuk menuju kamar, di kamar ia merasa sungguh bahagia ia membayangkan bagaimana jika bundanya ada di sampingnya sekarang ia pasti akan lebih bahagia. Ia menuju balkon kamar tamu disana ia membiarkan angin malam menerpa wajah nya.


tok tok tokk... pintu kamar di ketok Rindi.


"All"panggil Rindi. Alisha yang mendengar namanya disebut langsung pergi menuju pintu kamar dan lekas membukanya.


"ada apa tann"tanya All


"All tante malam ini boleh tidur bareng kamu nggak"izin Rindi


"boleh kok tan emng om Rifal kemana tann"


"lgi di luar negri udah ada sebulan"


Malam ini Rindi merasa kesepian sama seperti malam-malam sebelumnya. Ia berfikir bahwa ingin tidur bareng dengan Alisha karena jarang sekali ada teman menginap. Mereka berdua bersiap-siap untuk tidur. Sebelum itu mereka melakukan ritual sincare bagi kaum wanita sebelum tidur, mereka berdua memakai masker wajah dan membaringkan tubuh. Rindi merasa ia seperti anak SMA.


"tante mau cerita sedikit tentang bunda kamu"


"bener tann, All juga mau nanya siapa nama bunda All"


"namanya cantik kok kaya orangnya"


"ALVINA ANINDIATA" Rindi menyebutkan nama bunda Alisha dengan senyum dan tatapan sedu menatap langit-langit kamar.


"itu nama bunda All tan?"tnya Alisha


"nama yang cantik"

__ADS_1


"yah begitu pun parasnya, dia wanita yang begitu ramah dan penceria"Rindi menggambar kan sosok Alvi dengan mata terpejam. Sementara All asik mendengarkan


"ALISHA ANINDIATAA itu nama kamu kan All


tanya Rindi"


"iya tan sekarang All tau marga belakang nama ku yaitu marga bundaku"


"Tann bunda sama aku miripnya dimana" tnya All


"sifatmu persis bunda mu dan hidungmu persis dengan bunda mu lekuk tubuh mu juga, namun bunda mu itu orangnya cebol kalo kamu tinggi hahaha" Rindi mengingat masa SMA dimana ia selalu mengatai Alvi dengan sebutan cebol.


"Tan kira-kira tinggi bunda berapa yaa"


"tante nggak yakin, mungkin cuma setinggi bahu mu" Rindi bercerita sambil tertawa ia hari ini merasakan bahagia.


Mereka asik berbicara dan akhirnya All tertidur pulas di samping Rindi.


Waktu Rindi mendengar kabar bahwa sahabat satu-satunya ia akan melahirkan ia terburu-buru datang ke rumah sakit. Ia agak telat datang dikarenakan saat itu Elgara sedang rewel dia harus menenangkan anaknya terlebih dahulu.


Setelah sampai rumah sakit ia berjalan sedikit berlari di koridor rumah sakit, ia menanyakan pasien bernama Alvina setelah mendapat nomor ruangan ia bergegas kesana. Sampai di ruang rawat ia mendengar di dalam ada seorang pria paruh baya ia bisa menebak bahwa yang di dalm adalh suami Alvi.Namun ia tidk menyangka dengan apa yang di dengar.


"aku akan mambawa pergi anak ini jauh dari ibu sepertimu"ucap Hendra. Yah di luar ia mendengar bhwa Hedra mengatakan itu kpd Alvi saat sedang koma.


Rindi memutuskan untuk menunggu Hendra keluar dari rungan, saat sudah keluar kini gantiaan ia yang masuk. Ia sempat berpas pasan dengan Hendra namun laki-laki itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Rindi pun melewatinya. Ia syok ternyata Alvi sudah bangun dari komanya.


"Rinn aku mendengar apa yang dikatakan suamiku"ucapannya sambil mngeluarkan air mata

__ADS_1


"All aku tidak tahu apa masalahmu dengannya"


"namun All apa kah kau tidak kasihan dengan anakmu yang harus pisah dengan bundanya?"tanya Rindi


"aku memikirkan bagaimana nantinya ia tumbuh tanpa sosok bunda"


"namun aku pikir hidupku tidk akan lma lagi"


"aku hanya ingin minta tolong padamu jaga lah anakku dari kejauhan, Rin tolong sayangi dia aku ingin dia mendapatkan kasih sayang seorang bunda" tepat setelah mengatakannya Alvi kritis Rindi berteriak kepada dokter dan suster.


"dan aku berjanji akan menjaganya untukmu All"batin Rindi


Saat itu Hendra dan Rindi berada di ruang tunggu. Rindi dapat melihat raut wajah kekhawatiran Hendra. Ia tau bahwa Hendra pasti mencemaskan istrinya tidak mungkin tidak. Ia ingin bertanya ada maslah apa namun di urungkan. Ia mendapatkan tlf dari art di rumahnya bahwa anaknya sedang menangis dan ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Ia tidak berpamitan dengan Hendra karena raut wajhnya yang tidak bersahabat.


Dan smpai saat ini ia tidk tahu bagaimna keadaan sahabtnya itu, hnya saja saat ia tanya pada salah satu perawat di rumah sakit itu, ia mendapatkan kabar bahwa sahabatnya sudah tidak ada. Ia syok mendengar kabar itu, lebih syok lagi bahwa Hendra tidak memakamkan istri nya di lingkungan rumahnya namun jenazahnya dipulangkan ke rumah tempatnya lahir.


Dan satu minggunya ia baru tahu kabar tentang kejadian rumah tngga sahabatnya itu dari asisten Hendra yang tak lain adalah Tantri. Ia menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Alvina, tentu saja Rindi kaget bukan main. Ia juga tidak menyangka, namun Rindi kenal betul siap Alvina dia orangnya tidak mungkin berbuat hal keji seperti itu.


at the moment


Rindi belum sepenuhnya tidur, ia membuka matanya dan mencium kening Alisha sedikit lama, jujur ia merindukan sosok Alvina. Ia sudah berjanji akan menjaga Alisha untuk Alvina. Maka dari itu Rindi sengaja mendekatkan Alisha dengan Elgara sedari kecil.


Hendra sedari tadi belum tertidur, ia sekarang berada di ruang kerja miliknya. Ia agak menyesal karena sudah mengatakan hal yang begitu menyakitkan kpd anaknya sendiri. Ia sekarang sedang melihat album dimana ada foto seorang wanita cantik sedang memegang bunga pernikahan. Yah dia Alvina, sejujurnya setelah ia kehilangan cinta pertamanya ia tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun lagi ia menikah dengan Tantri karena perjodohan dari sang ibu.


Ting


Ponsel Hendra bunyi menandakan ada sebuah pesan, ia segera melihat siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini. Ternyata ini dari tentangganya Rindi.

__ADS_1


"Hendra anakmu sekarang ada bersama ku dirumahku" pesan yang singkat namun membuat hati sang pembaca tenang.


Hendra tidak khawatir lagi tentang putrinya ia sekarang sudah tau dimana putrinya berada. Sebenarnya Hendra menyayangi All hanya saja caranya yang berbeda ia tidak menunjukkan nya secara langsung, namun kasih sayangnya juga tidak terlalu banyak. Ia masih bisa mengkhawatirkan putrinya tapi tidak mananyakan bagaimana keadaannya. Hendra tidak terlalu memperdulikan kasih sayang ia hanya berfokus pada karir di hidupnya sebagai seorang pembisis kelas atas. Ia tidak peduli jika istrinya sekarang hanya bisa menghambur-hamburkan uangnya saja.


__ADS_2