
Putri Geisya bingung harus berbuat apa ia saat ini, mungkinkah ia harus melawan sedangkan saat ini lawannya adalah Bundanya sendiri, ataukah ia akan pasrah ketika Bundanya yang sudah tidak mengingat dirinya itu menginginkan tubuhnya untuk dijadikan santapan makan malam? Bimbang Putri Geisya tampak sangat bimbang, segera ia bangkit sambil menyentuh lututnya yang terasa sangat sakit.
Tubuhnya saat itu tampak sangat menyedihkan, terlihat tubuh yang sudah menggigil kedinginan karena badai salju turun seakan bersahutan, menghujani tubuhnya.
"Bunda! Aku mohon sadarlah!" Rambut panjang yang terurai itu seakan melayang diterpa angin malam, tubuhnya hampir saja membeku kedinginan, Putri Geisya berlari untuk dapat mendorong tubuh Bundanya yang kian membesar. Sekuat tenaga ia mencoba untuk mendorong tubuh Bundanya, terdengar suara erangan yang begitu kuat dan keras dari dalam mulut Bundanya. Seakan tengah merasakan sebuah kesakitan yang begitu sangat dalam. Putri Geisya berhasil mendorong tubuh Bundanya sampai membentur sebuah dahan Pohon besar.
"Bunda... Aku mohon sadarlah! Sadarlah! Kau itu Manusia bukan Monster! Apakah kau yang telah membunuh Yoyo? Bukan dirimu kan? Kau belum membunuh siapapun kan? Bunda! Tolong jawab diriku!" Ucap, Putri Geisya yang berusaha untuk membuat Bundanya sadar, dia harap hal itu akan berhasil.
__ADS_1
Tetapi, lengan dengan kuku panjang itu seakan ingin segera mencabik tubuh Putri Geisya, Ibunda dari Putri Geisya terus mengerang... Menahan rasa sakit dalam tubuhnya, seakan tengah menolak suatu hal yang membuatnya sampai saat itu masih bertahan.
Brukk....! Bunda Putri Geisya berhasil mendorong tubuh Putrinya sampai jatuh diatas tumpukan salju yang sangat dingin, badai salju masih belum berakhir.
Putri Geisya menatap tajam Wajah Bundanya, tatapan dari sepasang bola Mata biru yang tahan itu seakan mengisyaratkan suatu hal, penolakan, kesedihan, penderitaan semua bercampur menjadi satu. Ia begitu sangat tidak ingin melukai Bundanya. Ibunda dari Putri Geisya seakan tak dapat mengingat lagi siapakah dirinya, dan apa yang telah ia perbuat saat ini.
"Haaaaarr!" Bunda Putri Geisya seakan tak mau tau akan keadaan dari Putrinya, ketika Putri Geisya akan digigit oleh gigi tajam milik Bundanya, ia dikejutkan dengan sebuah Pedang jiwa dengan sinar yang sangat kuat tengah melayang dari arah belakang tubuh Bundanya. Putri Geisya yang terkejut segera ia membanting tubuh Bundanya untuk berada dibawah dan ia mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan sasaran dari Pedang jiwa milik Changyi.
__ADS_1
Changyi dan juga Haili terkejut dengan apa yang tengah dilakukan oleh Putri Geisya saat itu.
"Apa yang telah kau lakukan?!" Teriak Haili dengan kesal.
"Dia Ibuku! Apakah kalian tau itu! Berhenti untuk melukai dirinya." Ucap, Putri Geisya yang menatap Wajah Bundanya dengan sangat dalam.
Changyi yang mendengar hal itu tampak begitu sangat terbelalak dengan apa yang telah Putri Geisya katakan.
__ADS_1