
Ke tiga orang itu memandang Kakek Weida yang merasa sangat sedih.
"Tidak perlu menyalahkan seseorang, Hari ini Kakek pasti lelah sekali bukan, bagaimana jika Kakek kembali ke rumah untuk beristirahat." Ucap Geisya dengan pandangan lembut.
"Benar, oh ya kalian beristirahatlah terlebih dahulu di rumah ku, sebelum kalian pergi untuk menghadapi Siluman itu." Ucap Kakek Weida.
"Kak, Terimakasih ya sudah membantu ku. Aku sayang dengan kaka-kaka ini." Ucap Shao Lan dengan tersenyum manis memandang ke tiga orang itu.
"Hmm, Kaka juga sangat sayang kepada Shao." Ucap Geisya dengan membalas senyuman anak itu.
Changyi dan Haili hanya tersenyum tipis memandang Shao yang lucu dan menggemaskan itu karena kepolosannya.
"Kalau begitu mari ikuti aku." Ucap Kakek Weida sambil berjalan memasuki Desa.
__ADS_1
Segera Geisya, Changyi dan Haili mengikuti kakek Weida yang sudah berjalan terlebih dahulu didepan mereka.
Sesampainya di salah satu rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat nyaman. Kakek Weida segera membuka pintu yang tidak terkunci, Dia mempersilahkan ke tiga orang itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Geisya tanpa ragu memasuki rumah kakek Weida. Kemudian Changyi yang berada disamping Haili segera duduk di kursi kayu yang berada didepan Geisya. Geisya memandang Changyi yang begitu kelelahan juga Haili yang segera duduk disamping Changyi.
Geisya kemudian menatap kakek Weida yang masuk ke dalam salah satu ruangan bersama dengan Shao Lan. Geisya yang penasaran dia mengikuti langkah kakek Weida yang membawa Shao Lan ke suatu tempat.
Geisya memandang sebuah ruangan yang layaknya kamar seseorang. Dia mengintip ke dalam lalu Geisya melihat Kakek Weida mengambil sesuatu dari dalam kotak hitam. Di lihat nya itu adalah sebuah pedang yang sangat tajam, entah apa yang akan di lakukan kakek Weida namun saat Geisya ingin menghampiri Pria itu dengan cepat kakek Weida menusukkan pedangnya pada tubuh Shao Lan.
"Jangan!."
Kakek Weida yang terkejut segera dia membalikkan tubuhnya dan memandang wajah Geisya dengan tatapan menyeramkan. Dengan segera Changyi dan Haili saat mendengar teriakan Geisya berlari kebelakang dan menemui Geisya yang tengah berada di luar kamar.
__ADS_1
"Mengapa....?! Mengapa...?." Ucap Geisya dengan sedih.
Changyi dan Haili sangat terkejut melihat banyaknya darah yang bercucuran membasahi tempat itu. Changyi memperhatikan sebuah pedang yang telah berlumuran darah dan tubuh Shao sudah tergeletak tak bernyawa di lantai.
"Hehehe...Terimakasih sudah membantu ku, Tetapi kalian juga harus ikut mati bersama Shao Lan ke Neraka." Ucap Kakek Weida.
"Kakek Weida dia cucu mu!." Ucap Geisya dengan sedih memandang Shao yang sudah tiada.
"Cucu? Coba kau lihat baik-baik siapa diriku ini, sayang." Ucap Kakek Weida.
Tak lama wajah Kakek Weida berubah menjadi Leo, pembunuh bertopeng itu. Mereka ber tiga terkejut tidak disangka Leo lah yang menyamar menjadi Kakek nya.
"Kau....Lalu Dimana Kakek mu?!." Ucap Geisya dengan Tegas.
__ADS_1
"Jika aku bisa menyamar menjadi dia, berarti dia sudah tiada." Ucap Leo sambil tersenyum tipis.
"Apa?! jadi kau juga telah membunuh kakek mu sendiri!. Kau.....Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu!." Ucap Geisya dengan pandangan dingin, ke dua tangan yang berada dipinggang segera dia kepalkan dengan sangat kuat.