Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 108 ~ Terpisah.


__ADS_3

Putri Geisya terlihat tengah bersimpuh dihadapan Ibundanya, kepalanya ia letakkan diatas kursi disamping lengan Bundanya, Putri Geisya tampak tak ingin berada jauh dengan Ratu Fahrani. Changyi kemudian segera keluar dari dalam Ruangan Kakek Lin Tan, ia berjalan untuk dapat melihat kondisi dari Ratu Fahrani, tatapannya seketika tertuju pada Putri Geisya, Changyi berjalan untuk dapat mendekati Ratu Fahrani dan memindahkannya.


Putri Yumika, yang melihat Changyi baru saja keluar dari dalam Ruangan Kakek Lin Tan, segera memfokuskan tatapannya kepada Changyi, begitu pun juga dengan Coco dan Haili, Changyi yang melihat Putri Geisya dan juga teman lainnya hanya terdiam, jelas Changyi sudah dapat menyimpulkan apa yang saat itu tengah mereka rasakan.


Semua hanya terdiam, suasana terasa semakin hening, rasa canggung semakin menguat, Yoyo yang saat itu tengah terdiam mematung disamping Putri Geisya, tak tau apa yang harus ia lakukan saat itu, melihat Changyi yang baru saja keluar dari dalam Ruangan Kakek Lin Tan, membuat Yoyo berasumsi sesuatu yang buruk mungkin saja akan menimpa Putri Geisya lagi.


Changyi yang telah berada disamping Putri Geisya dengan cepat ia mendekatkan tubuhnya kepada Ratu Fahrani, ia bermaksud ingin membawanya pergi ke tempat yang selayaknya. Putri Geisya yang semula tengah menatap dingin ke arah Changyi, dibuat cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Changyi terhadap Bundanya.


"Apa yang akan kau lakukan?!" Ucap, Putri Geisya yang segera mendorong tubuh Changyi agar tidak berani mendekati Bundanya.


Changyi yang melihat respon tidak baik dari Putri Geisya, dengan perlahan ia menggenggam lengan Putri Geisya sambil menatap sepasang bola Mata biru yang terlihat sangat ingin menerkamnya.


"Aku akan memindahkan Ibumu ke suatu tempat yang jauh dari pemukiman warga, dia harus benar-benar ditangani, jangan mengacau Geisya." Ucap, Changyi dengan tegas, sepasang bola Mata biru itu tampak sangat dingin tak seperti biasanya.


"Apa hak mu, untuk membawa Ibuku pergi! Aku tidak mau berpisah dengannya!" Ucap, Putri Geisya yang segera menarik lengannya dengan kasar dari genggaman Changyi.


Putri Yumika yang melihat pertikaian antara Changyi dengan Putri Geisya, segera ia berbicara kepada keduanya dengan maksud ingin meredam emosi Putri Geisya, sambil tersenyum tipis, Putri Yumika segera bercampur dalam percakapan mereka.

__ADS_1


"Changyi, memisahkan Ibu dari Anaknya itu bukanlah perkara yang mudah, itu pasti sangatlah berat bagi Putri Geisya untuk melepaskan Bundanya kepada dirimu, tetapi... Anda juga harus paham Putri Geisya, jika Ibumu tetap berada disini, aku takut akan adanya kekacauan dimana-mana, dan nantinya semua orang akan tau bahwa Ibumu itu...." Belum sempat Putri Yumika melanjutkan perkataannya, Putri Geisya yang sudah banyak mendengar beberapa kalimat pertentangan dari Putri Yumika segera ia memalingkan kepalanya ke arah samping kanan.


Tatapan yang saat itu Putri Geisya berikan sungguh amat tajam, dingin dan serasa ingin menerkam seseorang tanpa menyisakan sedikitpun celah. Putri Yumika yang melihat hal itu, sungguh merasa amat tertegun, raut Wajahnya menjadi kaku, karena Putri Geisya bukanlah Wanita lembut yang ia ketahui selama beberapa waktu terkahir ini.


"Jika kau berani bersuara lagi, aku sungguh tidak segan merobek Mulutmu itu!" Bentak Putri Geisya dengan raut Wajah dingin yang siap untuk membunuh itu.


"Sial! Beraninya dia berkata seperti itu kepadaku! Cih jika bukan karena kekuatan yang ia miliki saat ini memang diatas ku, dan juga bukanlah Wanita lembut pada umumnya, aku tidak akan segan lagi, hmm.. Aku harus menahan diri." Dalam benak Putri Yumika, ia terdiam gugup dihadapan Putri Geisya yang saat itu tengah menatap Wajahnya dengan tajam.


Haili yang mendengar perkataan dari Putri Geisya, tak mampu ia berdiam diri tanpa mengungkapkan isi hatinya, rasanya seperti tersulut api yang sangat panas, ketika mendengar kalimat semacam itu dapat dilontarkan oleh Putri Geisya.


"Selama ini aku menghormati dirimu sebagai seorang Wanita, dan lagi karena hubungan mu dengan Changyi yang terlihat cukup dekat, tetapi untuk hal semacam ini aku tidak perduli dengan kedua hal itu, jika kau tidak ingin Ibumu itu dipindahkan dari tempat ini, maka sesungguhnya aku sudah siap sedari tadi untuk mengakhiri hidupnya!" Ucap, Haili dengan sepasang Mata tajam tengah menatap Wajah Putri Geisya.


"Jika kalian ingin saling membunuh maka lakukanlah, aku tidak ada waktu untuk mengurusi tingkah kalian yang kekanak-kanakan! Geisya, aku harap kau dapat mengerti situasinya saat ini, dan kau Haili, sadarkah kau siapa yang tengah kau lawan saat ini?! Bisakah kalian tenang, apakah ini waktu yang tepat untuk mementingkan ego masing-masing? Semua ini memang berat, untuk semuanya bukan hanya sepihak!" Ucap, Changyi dengan tegas, segera Changyi mengangkat tubuh Ratu Fahrani.


Semua orang terdiam ketika mendengar ucapan pedas dari Changyi, Putri Geisya dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk dapat menatap Bundanya, ia melihat Changyi tengah menggendong tubuh Bundanya, terlihat raut Wajah tak terima yang saat itu Putri Geisya perlihatkan.


"Biarkan aku ikut denganmu." Ucap, Putri Geisya dengan perasaan cemas kepada Ratu Fahrani.

__ADS_1


"Tidak perlu, sebaiknya kau obati saja luka mu itu." Balas Changyi yang segera melirik Wajah Putri Geisya.


"Tidak... Aku tidak boleh membiarkan Changyi membawa Bunda tanpa adanya diriku!" Dalam benak Putri Geisya yang terlihat sangat cemas.


"Aku baik-baik saja, bisakah aku ikut dengan mu?" pintar Putri Geisya dengan sedikit memaksa.


Changyi yang melihat rasa cemas dalam diri Putri Geisya membuat dirinya berpikir bahwa saat ini Putri Geisya merasa dirinya tidak akan menjaga Ratu Fahrani dengan baik.


"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan melukai Ibumu, dan aku pinta jangan selalu keras kepala, aku tau kau pasti sangat sulit untuk mempercayai diriku, tetapi aku tidak pernah ingkar dengan janjiku kepada siapapun." Ucap, Changyi dengan tegas, sinar putih dengan cepatnya menyelimuti tubuh Changyi dan Ratu Fahrani.


Putri Geisya yang melihat hal itu terasa amat cemas, saat ini tidak ada yang dapat ia percaya meskipun itu Changyi, apalagi dia adalah pemusnah Siluman dan Iblis, semua terlihat sangat mustahil, semakin kuat tekad Putri Geisya untuk memperdalam seni bela diri dan masuk ke dalam ilmu alam yang saat itu tengah berlaku kepada mereka yang ingin terbebas dari penderitaan.


"Hmh, ternyata benar... Di sini memang tidak ada tempat bagi mereka yang lemah! Bunda aku pasti akan membawamu pergi bersamaku!" Dalam benak Putri Geisya yang tengah menatap Wajah Ratu Fahrani dengan perasaan cemas.


Cepatnya sinar yang menutupi tubuh Changyi membuat Putri Geisya tak dapat melihat keberadaan Changyi yang telah menghilang dari penglihatannya. Tanpa berkata-kata lagi Putri Geisya segera meninggalkan Rumah Kakek Lin Tan. Namun, sebelum ia pergi tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah foto seorang Gadis dengan raut Wajah yang serupa dengan dirinya.


"Hmh... Bukankah itu?" Dalam benak Putri Geisya yang terlihat terkejut ketika melihat sosok Gadis itu.

__ADS_1


"Hmh... Jadi begitu." Dalam benak Putri Geisya, lalu ia segera memalingkan kepalanya, dan bergegas meninggalkan Rumah Kakek Lin Tan.


__ADS_2