Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 72


__ADS_3

Geisya kemudian berjalan ke luar dari rumah Nyonya Huanran. Dia memperhatikan langit yang biru terlihat sangat cerah dengan matahari yang berada ditengahnya, Geisya segera duduk disebuah tangga.


Masa lalu Geisya.


Ayah dan ibu Puteri Geisya tengah tertidur lelap. Lalu tiba-tiba istana mereka di serang oleh sekelompok siluman yang kejam. Geisya saat itu tengah terduduk di kamarnya, dia mendengar suara gaduh dari luar kamar.


Suara pedang, teriakan ibu nya yang membuat Geisya terkejut dan segera keluar dari dalam kamar. Dia melihat ayah dan ibu nya tengah disiksa oleh sekelompok siluman itu.


"Ayah...Ibu...." Teriak Geisya dengan sangat keras.


Lalu di hadapan nya tiba-tiba berdirilah sosok pria yang terlihat sangat angkuh, dan mengerikan. Dalam fikir Geisya dia pasti lah Raja nya, perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Namun, ayah dan ibunya yang tengah terluka meminta Kepada Geisya untuk meninggalkan istana segera. Entah apa yang Geisya akan perbuat namun dia memang tidaklah mampu melawan para Siluman itu sendirian. Akhirnya dia menuruti permintaan Ayah dan ibunya untuk pergi dari Istana sambil menangis terisak dia berlari meninggalkan Istana.


°°


Geisya yang tengah duduk di tangga terlihat sangat benci pada Siluman itu. dan juga terhadap dirinya sendiri, dia mengepalkan tangannya yang dia letakkan di lututnya. Dengan gemetar dia terlihat sangat sedih dan menyesali perbuatannya pada saat itu.


"Ayah...Ibu... Maaf kan aku, jika saja aku dahulu dapat mengalahkan Siluman itu pasti aku akan membantu kalian! Aku minta maaf tidak mampu menjadi anak yang berguna bagi kalian maafkan aku!." Ucap Geisya dengan Terus menyesal.


Kemudian pundak nya di sentuh oleh lengan Changyi yang berada dibelakang Geisya. Gadis itu menengok ke belakang dia melihat Changyi yang tengah memandangnya dengan tatapan sendu.


"Changyi?! Sejak kapan kau...?." Ucap Geisya dengan sedikit terkejut.

__ADS_1


"Boleh aku duduk?." Ucap Changyi."


Geisya menganggukkan kepalanya.


"Silahkan." Ucap Geisya.


Segera Changyi duduk di samping Geisya, pria itu menatap langit biru yang sangat cerah.


"Kau tau, disaat aku tidak mampu menyelamatkan nyawa orang yang telah tiada apa yang ku rasa? penyesalan. Aku merasa diriku ini tidak berguna, Namun ada satu hal yang membuat ku tidak akan pernah menyerah yaitu untuk terus berjuang dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri." Ucap Changyi."


Geisya memperhatikan Changyi yang berkata kepadanya dengan begitu serius.


"Jadi...jangan pernah sekali pun menyalahkan dirimu sendiri, semua yang terjadi bukan kesalahan mu. Mengerti?." Ucap Changyi sambil menatap Geisya yang berada di sampingnya dengan tersenyum.


"Changyi?." Ucap Geisya.


Changyi memperhatikan Geisya yang memanggilnya.


"Hemm?."


"Terimakasih." Ucap Geisya.

__ADS_1


Changyi memperhatikan Geisya kemudian dia bertanya pada Gadis itu lagi.


"Untuk apa?." Ucap Changyi.


"Untuk semua." Ucap Geisya Sambil tersenyum manis.


"Hmm, tidak perlu sungkan begitu terhadap ku. Kita kan teman." Ucap Changyi.


"Hanya teman ya...?." Ucap Geisya dengan lirih.


Changyi memperhatikan Geisya yang terlihat sedih kembali dengan menundukkan pandangannya ke bawah.


"Jika aku meminta lebih, Apa itu akan kau berikan? Hmm?." Ucap Changyi sambil menatap Wajah Geisya.


Geisya terkejut dengan ucapan Changyi kepadanya. Kemudian dia menatap pria itu yang memperhatikan Geisya dengan senyum di bibirnya.


"Changyi....sudah lah aku sedang tidak ingin bercanda dengan mu." Ucap Geisya.


Kemudian Geisya segera bangun dari duduknya dan akan segera memasuki rumah. Changyi memperhatikan Geisya yang akan pergi meninggalkannya dengan cepat pria itu menggenggam tangan Geisya. Geisya terkejut segera dia membalikkan tubuhnya kebelakang.


"Changyi?!." Ucap Geisya.

__ADS_1


"Aku menyukai mu Nona Geisya." Ucap Changyi sambil menatap Wajah Geisya.


Geisya terkejut mendengar ucapan pria itu yang tiba-tiba menyatakan perasaannya terhadap Geisya.


__ADS_2