Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 84


__ADS_3

Geisya yang tidak bisa membiarkan Yoyo berada dalam kesulitan segera dia menghampiri Siluman itu dan menghadangnya. Siluman itu memandang wajah Geisya dengan kesal lalu tengan besarnya memukul tubuh Geisya dengan satu kibasan Geisya pun terjatuh ke tanah. Kemudian dia memandang Yoyo yang sedang menjadi sasaran Siluman itu.


Cairan berwarna merah itu sangatlah panas tubuh Geisya sungguh merasa sangat kesakitan, terbesit perasaan ingin berhenti. Namun, itu tidaklah mungkin sesuatu yang sudah dimulai maka harus segera dia akhiri dengan cepat. Tidak boleh ada keinginan untuk berhenti ditengah jalan dan berakhir menjadi seorang pecundang. Itulah yang Geisya pikirkan dalam benaknya selain membebaskan ayah dan ibunya dia juga tidak ingin hanya menjadi seorang wanita yang selalu dianggap lemah oleh semua orang.


Geisya segera menggenggam erat pedangnya itu kemudian dia bangkit dengan perlahan dan berteriak cukup keras.


"Dasar kau Siluman tidak tau diri!! Akhh... Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup dengan mudah, dan aku sangat ingin engkau mati dengan sangat tragis ditangan ku!."

__ADS_1


Dengan segera Geisya berlari untuk menghampiri Siluman besar itu. dengan tatapan penuh dengan kebencian, dan kemarahan yang dirasakannya.


"Mati lah kau! Deinto!!." Ucap Geisya dengan segera sinar listrik memenuhi pedangnya. tatapan matanya tajam seperti tatapan macan yang tengah memandang mangsanya. Gerakannya sangat gesit angin yang hanya berhembus perlahan bahkan tidak terasa itu dengan cepatnya berhembus kencang.


Siluman aneh itu melirik Geisya yang tengah mencoba untuk menyerangnya dari belakang dengan cepat Siluman aneh itu membalikkan tubuh dan menyerang tubuh Geisya dengan sesuatu yang terlihat seperti usus yang cukup besar dan menjijikkan.


Geisya yang melihatnya segera dia berlari dan mengarahkan pedangnya pada usus itu. Geisya memotong usus yang mencoba untuk melukai tubuhnya. Saat dia berhasil memotongnya cairan berwarna merah hampir saja mengenai tubuhnya namun dengan gesit Geisya dapat menghindarinya.

__ADS_1


Geisya yang terlihat sangat kecil dihadapan Siluman itu. Kesulitan? Iya dia memang mengalami kesulitan. Namun, dia kembali tersadar bahwa dia tidak boleh terus menerus mengandalkan orang lain dia harus percaya pada kemampuannya sendiri.


"Aku pasti bisa, hanya Siluman jelek sepertimu mana mungkin aku akan kalah." Dalam benak Geisya yang mencoba untuk meyakinkan dirinya.


Tenaganya sudah terkuras habis, namun seorang Pendekar tidak akan pernah mundur walaupun banyaknya rintangan yang dihadapinya. Ayah Geisya pernah berkata pada puterinya untuk selalu berjuang meskipun itu harus mengorbankan dirinya sendiri.


"Hmm, benar Pendekar sejati tidak akan menyerah sebelum semua usai." Ucap Geisya dengan mencoba untuk menopang tubuhnya sendiri atas seimbang.

__ADS_1


Kini pedang yang telah digenggamnya dipenuhi oleh cahaya berwarna oranye. Tanpa pikir panjang Geisya segera menyerang tubuh Siluman itu dengan pedangnya tanpa rasa ragu dan tanggung-tanggung Geisya sudah sangat siap untuk menghabisi Siluman aneh itu.


Dia berlari dan segera mengarahkan pedangnya tepat ditubuh Siluman itu kemudian terlihat cahaya yang memenuhi tubuh Siluman aneh itu. Terlihat Siluman aneh itu nampak biasa saja dengan serangan yang Geisya berikan. Tubuh kecilnya dihempas begitu saja dengan tangan besar dari Siluman aneh itu.


__ADS_2