Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Tekad Kuat.


__ADS_3

Putri Geisya tak membuang waktu lagi untuk dapat menyembuhkan luka Yoyo, ia dahulu didalam Istananya adalah seorang Putri yang tidak mau diam, selalu berusaha untuk mencari suatu hal yang dapat membuatnya menjadi seseorang yang berguna, ayah Putri Geisya pernah membekalkan ia sebuah kekuatan bernama Deinto, ia juga diam-diam belajar untuk menguasai ilmu pengobatan, dan tidak disangka ia mampu menguasai ilmu itu. Tetapi hanya berbekal itu saja, baginya itu belum cukup, kekuatan Deinto yang ia miliki juga belum terbentuk dengan sempurna. Putri Geisya berjalan dengan perlahan untuk dapat mendekati Yoyo dan Haili. Ia kemudian bersimpuh dihadapan Yoyo yang saat itu tengah tidak sadarkan diri.


Terdengar suara teriakan yang begitu sangat keras, Ratu Fahrani terus memberontak kepada Changyi, Changyi yang sangat terganggu dengan perbuatan dari Ratu Fahrani maka ia terpaksa harus melumpuhkan tubuh Ratu Fahrani dengan membuatnya tidak sadarkan diri, Changyi dengan kuat menekan leher bagian belakang Ratu Fahrani tak lama kemudian suasana ditempat itu menjadi terasa sangat hening, Putri Geisya tersentak ia dengan cepat membalikkan pandangannya ke arah Changyi rasa cemas dalam diri Putri Geisya ketika melihat Bundanya tidak sadarkan diri.


"Apa yang telah kau lakukan kepadanya?" tanya Putri Geisya dengan tegas.


Changyi yang tengah menggendong tubuh Ratu Fahrani, ia sedikit melirik ke arah Putri Geisya.


"Tenanglah aku tidak akan membunuhnya." Jawab Changyi dengan tegas.

__ADS_1


Haili yang saat itu tengah berjalan untuk dapat mendekati tubuh Changyi, terlihat tatapan dingin dan rasa benci yang teramat dalam, ketika ia menatap Wajah Ratu Fahrani.


"Seharusnya kita membunuhnya, tidak dapat dipungkiri bukan jika dia yang akan membunuh kita!" Ucap, Haili tegas.


Changyi terdiam ketika mendengar perkataan dari Haili, pandangannya segera ia alihkan kepada Putri Geisya yang saat itu tengah berusaha untuk menyembuhkan Yoyo.


"Jangan gegabah Haili, tekad Wanita itu begitu sangat kuat, kita lihat saja apa yang akan ia lakukan selanjutnya." Ucap, Changyi yang segera menatap Wajah Haili.


Geisya yang tengah berusaha untuk menyembuhkan luka Yoyo, tampak sangat terkejut dengan apa yang telah Haili ucapkan. Sambil terus menyalurkan kekuatan penyembuhan Putri Geisya segera menjawab pertanyaan dari Haili.

__ADS_1


"Itu mustahil... Tidak mungkin suatu penyakit itu datang tanpa adanya sebuah penawar, aku rasa pemikiran mu terlalu sempit, jika memang benar tidak ada satu pun penawar yang dapat menyembuhkannya, maka cari apa penyebab dari penyakit itu, kemudian hancurkan!" Ucap, Putri Geisya dengan tatapan dingin dan tajam sambil terus berpokus pada kekuatannya.


Haili tersentak ketika ia mendengar kalimat itu dapat terlontar dengan leluasa dari mulut Putri Geisya, Changyi kemudian menambah perkataannya agar membuat Putri Geisya mengerti akan posisinya saat ini.


"Hmh... Bicara mu sungguh sangat hebat sekali, aku tidak menyangka seorang Wanita yang hanya berbekal tekad mampu berkata dengan lantangnya." Ucap, Changyi yang tengah menatap Wajah Putri Geisya dengan dingin, awalnya ia memang sangat baik kepada Putri Geisya. Namun, setelah mendengar beberapa kebenaran dari Mulut Wanita itu ia terlihat sangat tidak ingin memperlakukan Putri Geisya dengan baik lagi.


"Hmh... Sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu baik kepadamu, sehingga kau dapat seenaknya saja melakukan apa yang kau inginkan!" Dalam benak Changyi yang tengah sedikit mengerutkan dahinya.


"Hanya? Ternyata kau menilai diriku setinggi itu, hmh... Tetapi, sepertinya ada sesuatu yang kau lupakan, sebelum menjadi Kupu-kupu yang indah bukankah dia hanyalah ulat yang menjijikkan" Ucap, Putri Geisya dengan tegas.

__ADS_1


Tenaganya sudah hampir pada puncaknya, tubuhnya seakan tak mampu lagi bertahan, seharian bertarung, sampai harus terluka dan kini ia harus berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkan Yoyo. Kelopak Matanya terlihat hitam, Wajahnya memucat, bibirnya pun juga sedikit membiru, karena kedinginan ditambah lagi tubuh yang sangat letih. Putri Geisya segera menakan kuat dada Yoyo dengan telapak tangan kanannya, sinar biru terpancar memasuki celah-celah rongga kecil dalam tubuh Yoyo.


"Agar tidak direndahkan oleh orang lain, maka kau harus berkata mampu dalam mengatasi segala masalah yang ada, kemudian carilah jalan keluarnya entah bagaimanapun caranya, disaat kau sudah berkata mampu maka kau harus bisa melakukannya!" Dalam benak Putri Geisya yang terlihat tengah pokus untuk dapat menyembuhkan luka Yoyo.


__ADS_2