
Pada saat mereka memasuki Pedesaan itu. Changyi, Geisya, Haili dan Shao dikejutkan oleh para warga yang tengah menarik-narik tubuh seorang pria tua. Kemudian Shao Lan berteriak cukup keras yang membuat semua orang terkejut.
"Kakek!."
Haili memperhatikan wajah Shao dengan terkejut, dia memanggil pria tua itu dengan sebutan Kakek.
"Ada apa ini?." Ucap Changyi dengan penasaran.
Warga yang berbondong-bondong menarik tubuh Kakek tua kemudian menghentikan langkah mereka.
"Siapa kau? Apa tujuan mu kemari?!." Ucap Salah seorang warga.
"Jangan sakiti kakek ku!." Ucap Shao dengan keras.
Warga yang memperhatikan Shao kemudian memaki-maki Shao dan kakek nya di hadapan semua orang.
"Jadi kau adalah cucu nya! Kau dan dia harus pergi dari tempat ini begitu juga dengan kalian! Apa kau tau karena ulah Kaka mu sekarang ini Desa kami terancam. Semua warga sangat ketakutan untuk keluar dari rumah nya!." Bentak salah seorang warga.
Changyi memperhatikan seluruh warga yang nampak nya begitu kesal terhadap kedatangan mereka yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
"Hm...Sungguh miris sekali, memang nya jika Kakek tua ini kalian usir dari tempat tinggal nya, sudah yakin kah kalian Pria misterius itu tidak akan membunuh kalian semua?." Ucap Changyi sambil memandang para warga.
Penduduk yang tengah berada di hadapan Changyi terdiam sejenak mereka kemudian memikirkan ucapan dari Changyi.
"Tetapi setidak nya pembawa sial ini sudah kami usir dari Desa kami!." Sahut salah seorang warga.
"Pembawa sial?! Ku lihat sungai yang di depan sana kering tanpa di ada nya air, Aku dan dan teman ku bisa membantu kalian untuk mencari tahu masalah yang sebenarnya terjadi, tetapi dengan satu syarat lepaskan Kakek itu dan biar kan dia tinggal di tempat ini dengan nyaman." Ucap Geisya dengan penuh keyakinan.
Para penduduk hanya terdiam diri mereka sebenarnya sudah tau masalah sungai di tempat mereka mengapa bisa menjadi kering. Itu di sebabkan oleh Siluman Yin Eyu yang tengah bersemayam di dalam Gua tempat Hulu sungai mengalir hingga ke hilir. Namun, apalah daya para warga tidak sanggup melawan Siluman Yin Eyu
"Kami memang sangat membutuhkan bantuan, untuk mengusir Siluman Yin Eyu yang tengah bersemayam di dalam Gua. Karena Siluman itu kami kesulitan untuk menemukan Mata air." Ucap salah seorang warga.
"Kami akan membantu kalian, tetapi dengan syarat yang tadi sudah ku ajukan. Dan jangan pernah kalian coba-coba untuk mengusik nya. Bagaimana, Setuju?." Ucap Geisya dengan Tegas.
"Heh, Jangan bercanda kau Nona!. Siluman itu sangat lah kuat, tubuh nya terbuat dari perak, Bola mata nya berwarna merah darah sungguh menakutkan sekali." Ucap Salah seorang warga.
Changyi dan Haili memperhatikan penduduk desa yang sangat ketakutan saat menyinggung tentang Siluman itu.
"Tentu saja kami yakin, Tetapi jika kalian menyetujui permintaan kami, Bagimana?." Ucap Changyi.
__ADS_1
Seluruh warga terdiam kembali mereka memandang satu sama lain. Dan salah seorang warga meminta kepada warga lain untuk melepaskan tubuh Kakek Shao Lan.
"Kita percaya kan saja pada mereka, Lepaskan Kakek Weida."
Segera warga yang memegangi tubuh Kakek Weida melepaskan nya. Kemudian Shao Lan Memandang Kakek nya dan berlari untuk memeluk tubuh dari Kakek Weida.
"Kakek." Teriak Shao Lan.
Semua orang memperhatikan Cucu dan Kakek itu yang saling berpelukan untuk melepas rindu.
"Hey tetapi ingat jangan pernah lupakan janji kalian terhadap kami!." Ucap Salah seorang warga.
"Kami tidak pernah ingkar." Ucap Changyi dengan tegas.
Kemudian para penduduk pergi meninggalkan Kakek Weida dan Yang lain nya. Mereka semua kembali ke dalam Desa. Kakek Weida kemudian memandang Changyi dengan pandangan penuh dengan tanya.
"Siapa kalian sebenarnya? Mengapa kalian bisa bersama dengan cucu ku?." Ucap Kakek Weida.
Changyi memperhatikan Kakek Weida kemudian dia menjawab tanya Pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Kami hanya lah seorang pengembara biasa yang tidak sengaja bertemu dengan Shao saat terjadi pembunuhan di Desa nya."
"Semua ini ulah Leo, Jika saja dia mendengarkan nasehat ku mungkin semua nya tidak akan pernah menjadi seperti ini." Ucap Kakek Weida dengan sedih memandang Shao di dekapan nya.