Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 73


__ADS_3

Geisya tiba-tiba tertawa di hadapan Changyi yang memandangnya dengan serius.


"Pftt...Pftt... Dasar aneh." Ucap Geisya dengan terus tertawa dan segera melepaskan genggaman Changyi terhadap dirinya.


Changyi memperhatikan Geisya yang tengah berjalan memasuki rumah. Changyi merasa bingung terhadap diri Geisya yang tiba-tiba menertawakan nya.


"Dasar bodoh! Dia itu tidak menyukai mu, bodoh haha...." Ucap Changyi dengan tertawa sambil menutup wajah nya dengan satu tangan.


Geisya yang berada di dalam rumah sedikit tersenyum tipis. dan segera duduk disamping Haili yang tengah tertidur pulas.


Tak lama Nyonya Huanran datang menghampiri mereka dengan membawa makanan yang berada di dalam mangkuk.


"Maaf lama menunggu." Ucap Nyonya Huanran dengan meletakkan mangkuk yang berisi ubi rebus di atas meja.


Geisya tersenyum tipis memandang Nyonya Huanran.


"Terimakasih banyak." Ucap Geisya.

__ADS_1


"Sama-sama, Maaf saya hanya bisa menyediakan makanan yang seperti ini." Ucap Nyonya Huanran dengan tidak enak.


Geisya memandang Nyonya Huanran dengan sedikit terkejut. tidak di sangka Nyonya Huanran masih berfikiran begitu terhadap dirinya.


"Ini sudah lebih dari cukup, Terimakasih sekali." Ucap Geisya.


"Silahkan di makan, oh iya teman mu yang satu nya dimana?." Ucap Nyonya Huanran sambil duduk di kursi yang berada di sampingnya.


"Dia berada di luar, biar saya panggilkan." Ucap Geisya yang segera bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Changyi.


"Makanan nya sudah siap Tuan." Ucap Geisya dengan tersenyum tipis.


Changyi segera membalikkan tubuh dan memandang Geisya yang tengah berada di hadapannya.


"Oh ya? Baiklah ayo kita makan." Ucap Changyi sambil berjalan menghampiri Geisya.


Setelah beberapa lama mereka telah menghabiskan makanan yang di sajikan oleh Nyonya Huanran. Kemudian Geisya memperhatikan suasana di dalam rumah Nyonya Huanran yang terlihat sangat sunyi, sepi dan sedikit gelap. Hanya ada dua buah lampu yang menerangi rumah itu. Geisya merasakan bahwa Nyonya Huanran sangatlah merasa kesepian dalam hidup yang sendirian.

__ADS_1


Tak terasa sudah beberapa lama mereka berada di dalam rumah Nyonya Huanran. Hari semakin gelap angin berhembus perlahan, Pintu yang terbuka lebar segera ditutup oleh Nyonya Huanran.


"Oh ya Haili boleh kah aku bertanya sesuatu terhadap mu?." Ucap Geisya sambil memandang Haili yang berada di samping Changyi.


"Ada apa?." Ucap Haili dengan penasaran.


Geisya menghela nafas nya perlahan, kemudian dia menyampaikan sebuah pertanyaan yang membuat Haili sedikit merasa tidak suka saat di singgung hal itu.


"Jika aku boleh tau apa kau benar-benar susah tidak memiliki keluarga lagi? setelah kepergian ayah dan ibu mu?." Ucap Geisya.


Changyi yang berada di tengah tengah ke dua nya memandang wajah Geisya dengan mengerutkan dahi. Geisya yang memandang wajah Changyi yang terlihat sangat serius kemudian segera mengganti topik pembicaraannya.


"Hahaha.... ada apa dengan ku menanyakan hal semacam itu, sungguh sangat tidak sopan. Oh ya nanti malam kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi Siluman Yin Eyu itu, Apa kalian sudah siap." Ucap Geisya.


Changyi dan Haili memperhatikan Geisya yang tengah berbicara terhadap mereka.


"Tentu saja, semakin cepat semakin baik. Dan lagi kau juga sangat ingin bertemu dengan ke dua orang tua mu bukan?." Ucap Haili dengan pandangan serius.

__ADS_1


__ADS_2