
"Teman...?! Apakah ini yang kalian sebut dengan teman? Tatapan yang kalian berikan tampak begitu sangat jijik ketika menatap diriku! Dan kau Changyi, untung saja aku tidak termakan dengan rayuan mu, kau Yumika... Aku menyesal, sangat menyesal pernah menyelamatkan dirimu! Inikah balasan yang pantas untuk diriku! Dunia ternyata sekejam ini, hmh... Tidak ada yang bisa kau percaya kecuali dirimu sendiri! Bunda... Aku pastikan kita akan pergi dari tempat ini, aku berjanji." Dalam benak Putri Geisya, raut Wajahnya tampak sangat dingin ia tak mampu berkata apapun, karena saat ini ia merasa tengah terpojok dalam situasi yang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk membela diri.
Kakek Lin Tan kemudian menatap ke arah Putri Geisya ia tertegun ketika Wajah Putri Geisya begitu sangat mirip dengan Cucunya Yori Tama. Namun, jelas mereka sangat berbeda Wanita itu memiliki paras yang sangat cantik tanpa luk dikeningnya, dan dia juga terlihat seperti seorang Wanita dari keluarga bangsawan.
"Aku jijik dengan Monster seperti itu! Jika kalian masih memerlukan tempat tinggal, musnahkan Wanita hina itu, tetapi jika kalian memilih untuk melindunginya, pergilah secepatnya dari Rumah ku!" Ucap, Kakek Lin Tan yang terlihat begitu sangat murka.
Putri Geisya yang mendengar setiap kalian penghinaan yang terlontar dari Mulut Kakek Lin Tan, membuat hatinya terasa amat sakit, ia dengan kuat mengepalkan kedua telapak tangannya. Terlihat tatapan jijik dari Putri Yumika kepada Geisya, Putri Geisya sungguh tidak tahan lagi dengan semua itu.
"Tuan yang terhormat... Maaf jika kehadiran ku membuat mu tidak suka, maaf jikalau kedatangan diriku membuat petaka, tetapi dia hanya korban, anda pikir Ibunda menginginkan kondisi yang seperti itu? Anda pikir saya terima? Saya paham... Mungkin Makhluk semacam itu begitu sangat rendah, merugikan banyak orang, tetapi apakah anda tidak berpikir yang merasa ter-rugikan bukan hanya anda, saya juga... Anda pikir saya sangat ingin berada ditempat ini?! Tidak... Jika bukan karena Changyi yang telah membawa Ibu saya, saya pun tak ingin, Manusia mana yang mau menjadi sebuah benalu dalam hidup orang lain? Saya pastikan dia belum melukai siapapun, dan itu tidak akan pernah terjadi." Ucap, Putri Geisya dengan tegas raut Wajahnya tampak dingin ketika memandang Wajah Kakek Lin Tan.
Kakek Lin Tan yang mendengar perkataan dari Putri Geisya merasa sangat kesal, karena Putri Geisya memiliki tekat yang begitu kuat, tetapi biar bagaimanapun juga Ibunda Putri Geisya cepat atau lambat pasti akan memakan korban.
"Apakah kau tau meskipun dia kau rawat sebaik mungkin, suatu saat nanti ia pasti akan melukai dirimu! Bukan hanya kau tetapi akan banyak korban yang berjatuhan, aku sungguh tidak menyangka kau rela membiarkan ribuan nyawa umat Manusia mati demi menyelamatkan satu nyawa!" Ucap, Kakek Lin Tan dengan tatapan dingin dan tegas.
Putri Geisya yang sudah paham akan hal itu, tanpa tinggal diam ia segera membalas ucapan dari Kakek Lin Tan.
__ADS_1
"Aku mengerti! Tetapi apakah menurut anda, saya akan tetap membiarkan Ibu saya tetap dalam kondisi yang seperti ini?! Apakah menurut anda saya akan diam saja ketika dia akan melukai orang lain?! Tentu saja tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, saya mengerti bagaimana perasaan anda sebagai seorang keluarga yang telah kehilangan orang yang sangat anda kasihi karena ulah Makhluk seperti ini, tetapi bukan hanya anda, saya juga turut merasakannya, apakah anda tau kejadian yang anda alami tidak sepedih yang saya rasakan, dia pantas untuk hidup, saya berjanji, saya pasti akan mengembalikan kondisinya seperti sedia kala!" Ucap, Putri Geisya yang segera menatap ke arah Ratu Fahrani dengan lembut.
Kakek Lin Tan hanya terdiam ketika mendengar perkataan dari Putri Geisya yang amat tegas, tekatnya ternyata begitu sangat kuat. Kakek Lin Tan kemudian segera membalikkan tubuh untuk dapat meninggalkan tempatnya. Semua orang hanya terdiam, ketika mendengar perdebatan diantara kedua orang itu.
"Kau sungguh naif anak muda, suatu hari nanti mereka yang begitu sangat kau lindungi pasti akan menghancurkan dirimu sendiri, mereka bukan lagi mereka yang terdahulu, semoga saja apa yang kau inginkan dapat tersampaikan." Dalam benak Kakek Lin Tan yang segera berjalan untuk masuk ke dalam ruangannya.
Suasana ditempat itu terasa amat sunyi, tak ada suara membuat mereka semua merasakan kecanggungan, Yoyo yang tengah berdiri disamping Putri Geisya sungguh merasa amat perihatin akan kondisinya saat itu, ketika semua orang menyalahkan dirinya, dan tak ada satu pun yang dapat mempercayai dirinya, tetapi ia dapat melihat Putri Geisya yang mampu berdiri tegak ditengah kekacauan yang ada.
Tak lama kemudian Changyi segera berjalan untuk dapat menemui Kakek Lin Tan, ia bermaksud untuk meminta maaf atas kekacauan yang telah ia ciptakan. Haili yang melihat hal itu hanya terdiam, kemudian dia berjalan untuk dapat menjauhi Putri Geisya, ia dengan segera menghampiri Putri Yumika dan Coco, Yoyo yang melihat hal itu merasa sangat tidak enak hati, ia tau bagaimana rasanya ketika dijauhi oleh orang banyak, tetapi ia tidak tau bagaimana perasaan Putri Geisya saat itu, jika ia lemah mungkin saat ini Putri Geisya akan menangis dan tak mampu berkata dengan lantang kepada Kakek Lin Tan, tetapi terlihat kekuatan batin yang ia miliki sungguh sangat besar, yang membuat dirinya mampu bertahan dalam ketidak nyamanan.
"Aku pasti akan menyembuhkan dirimu! Aku berjanji, aku akan menjadi Putri mu yang paling kuat, sehingga tidak ada lagi orang yang dapat menyakiti kita!" Dalam benak Putri Geisya, genggaman yang ia berikan begitu sangat erat.
"Bunda... Aku tidak akan membiarkan dirimu berlama-lama ditempat ini, aku pasti akan membawa mu pergi dari sini, tetapi sebelum ia beristirahat lah disini, aku bermaksud ingin kembali ke dalam Istana Kerajaan, ada sesuatu yang harus aku ambil, semoga benda itu masih tertata dengan rapi pada tempatnya, karena hanya itulah yang saat ini dapat membantu diriku." Dalam benak Putri Geisya, ia terdiam cukup lama karena tengah merencanakan suatu hal.
Didalam Ruangan Kakek Lin Tan terlihat Changyi tengah berada diluar Ruangan, Kakek Lin Tan yang tengah mengaduk sebuah teh dalam cangkir terlihat tidak memperhatikan Changyi.
__ADS_1
"Kakek, bisakah kita bicara?" ucap, Changyi yang tengah berada diluar Ruangan Kakek Lin Tan.
Kakek Lin Tan segera mengangkat sendok kecil yang terbuat dari perak putih, kemudian diletakkannya diatas sebuah meja.
"Masuklah." Ucap, Kakek Lin Tan yang segera berjalan sambil membawa cangkir teh, kemudian dia terduduk diatas kursi.
Changyi yang mendengar perkataan dari Kakek Lin Tan dengan segera ia masuk ke dalam Ruangan milik Kakek itu, Changyi kemudian berdiri dihadapan Kakek Lin Tan dengan tatapan serius.
"Duduklah." Ucap, Kakek Lin Tan yang segera memerintahkan Changyi untuk duduk di sebuah Kursi kayu yang tengah berada dihadapannya.
"Saya rasa anda sudah paham apa yang akan saya bicarakan dengan anda disini." Ucap, Changyi yang tengah menatap Wajah Kakek Lin Tan dengan serius.
"Biarkan dia... Aku merasa dia akan bertanggungjawab atas apa yang telah ia katakan, dia terlihat sangat keras kepala, jika nantinya ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan aku hanya khawatir ia akan salah jalan, bimbinglah dia, karena bagaimanapun juga dia seorang Wanita." Ucap, Kakek Lin Tan yang terlihat sangat tegas ketika berbicara kepada Changyi.
Changyi tertegun ketika melihat Kakek Lin Tan begitu sangat santai dan tidak murka seperti sebelumnya, entah apa yang telah terjadi, tetapi Changyi merasa bahwa Kakek Lin Tan telah mempercayai Putri Geisya.
__ADS_1
Changyi tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia terdiam sambil menatap sorot Mata hitam dari Kakek Lin Tan.