Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 74


__ADS_3

Geisya menatap Haili dengan serius. Tak lama Nyonya Huanran kembali menghampiri mereka yang tengah duduk sambil berbincang-bincang.


"Jadi kapan kalian akan menghadapi Siluman itu?." Tanya Nyonya Huanran.


Changyi memperhatikan Nyonya Huanran yang tengah berbicara dihadapan mereka.


"Malam ini juga." Ucap Changyi.


"Apa kalian yakin?." Ucap Nyonya Huanran.


"Sangat yakin, kalau begitu terimakasih atas kebaikan anda terhadap kami Nyonya. Kami bertiga pamit, Selamat malam." Ucap Geisya dengan segera bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah Nyonya Huanran.

__ADS_1


Mereka bertiga segera berjalan keluar, Nyonya Huanran hanya mampu memperhatikan ke tiga orang itu dari dalam rumahnya.


"Semoga kalian selalu berada dalam perlindungan Dewa." Ucap Nyonya Huanran.


Ke tiga orang itu berjalan menyusuri pedesaan. Kemudian Geisya dikejutkan dengan sebuah Gua yang berada di dekat bukit yang cukup curam dan gelap, Terdengar suara aneh dari dalam Gua itu. Tanpa rasa ragu Changyi yang berada dipaling depan segera berjalan menuju Gua itu dengan melewati jalan setapak yang sangat mengerikan.


Saat Changyi sudah berada di dekat Gua, Changyi mengulurkan tangannya untuk membantu Geisya yang akan melewati jalan itu. Geisya segera meraih uluran tangan Changyi, Haili yang berada dibelakang Geisya segera mengikuti nya. Setelah beberapa lama akhirnya mereka berhasil melewati jalan itu. Changyi, Geisya dan Haili segera berjalan untuk memasuki gua.


Saat guncangan itu sudah berhenti Changyi dan ke dua temannya segera memasuki Gua. Di dalam sana aroma darah yang sudah terlalu lama sangat menyengat membuat siapapun yang mencium nya merasakan mual.


Geisya mengerutkan dahinya dia memperhatikan Gua itu dengan was-was. Baru saja mereka menginjakkan kaki nya ke dalam Gua tidak disangka Siluman itu sudah menyambut kedatangan mereka dengan ribuan kelabang yang cukup besar keluar dari balik batu menghampiri mereka.

__ADS_1


Haili terkejut melihat ribuan kelabang yang cukup besar menghampiri mereka. dengan cepat Haili dan Geisya menghadapi kelabang-kelabang itu dengan pedang milik mereka masing-masing.


Changyi memperhatikan Geisya dan Haili yang tengah menghadapi kelabang itu. Kemudian Changyi berjalan memasuki Gua semakin dalam dia tidak melihat Siluman Yin Eyu berada di dalam sana. Changyi membalikkan tubuh nya dan memperhatikan sekeliling, kemudian dari arah belakang sebuah tangan yang sangat panjang berwarna hitam dengan kuku yang panjang dan melengkung telah berlumuran darah mengarah pada punggung Changyi. Changyi memutar bola matanya ke arah samping kiri kemudian dia menggerakkan tangan kirinya untuk menggenggam tangan itu.


Changyi tidak bisa melihat Siluman itu namun dia dapat Melihat tangan yang tengah di genggamannya.


Tak lama tangan itu menghilang dan tiba-tiba Wujud asli dari Siluman Yin Eyu ternyata adalah seorang Wanita. Dengan wajah yang rusak bola mata berwarna merah, sekujur tubuh berwarna hitam. Rambut acak-acak kan, Lidah berwarna hitam mengulur ke bawah dengan cukup panjang. Di ke dua sisi bibir nya terlihat sebuah tulang yang melengkung menusuk ke dalam dengan darah yang terus bercucuran mengeluarkan aroma yang tidak sedap.


Di bibir gua Haili dan Geisya masih terus mencoba untuk membunuh binatang itu. namun aneh nya saat mereka membunuh kelabang itu tak lama Hewan melata itu hidup kembali dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Geisya tidak sengaja melihat sebuah tempat yang tertutup dengan tulang- tulang itu ada air yang menetes keluar.


"Apa tujuan dari Siluman ini? dia juga membunuh manusiakah? jika benar mengapa para penduduk Desa masih hidup dengan normal? Siluman ini hanya menutup bendungan air saja. Ini sungguh aneh, tujuan dari Siluman ini tidaklah jelas." Dalam benak Geisya sambil terus menyerang ribuan kelabang yang terus menerus datang.

__ADS_1


__ADS_2