
Ke tiga orang itu segera berlari ke luar dari dalam Rumah Kakek Weida. Saat berada dihalaman wajah ke empat orang itu sangat serius memandang satu sama lain.
"Kembalikan pedang ku!." Ucap Geisya dengan tegas.
Leo menatap Geisya dengan pandangan acuh.
"Hehe...Pedang itu sudah ku buang jauh!." Ucap Leo dengan mengeles.
"Baiklah jika kau tidak ingin memberikan pedang itu kepada ku, maka aku akan mengambil nya sendiri." Ucap Geisya dengan serius.
"Coba saja jika kau mampu heh!." Bentak Leo yang berada di hadapannya.
Saat Geisya dan Haili ingin menyerang Leo dengan kekuatannya entah apa yang tejadi pada tubuh mereka berdua.
"Hah?! Ada apa ini?! tubuh ku tidak bisa bergerak?!." Ucap Geisya dengan bingung.
Tawa keras dari Leo menggema ditempat itu. Changyi memperhatikan ke dua temannya telah terkena sihir yang dimainkan oleh Leo.
"Dengan atau tidak ada nya pedang itu aku pasti bisa mengalahkan mu." Dalam benak Geisya sambil memperhatikan tubuh nya yang sama sekali tidak bisa digerakkan.
Jangan kan mengeluarkan kekuatan, menggerakkan tubuhpun itu sangat sulit dirasa oleh Haili dan Geisya.
Changyi memperhatikan ke dua temannya yang tidak mampu melawan Leo. dengan cepat Changyi berjalan ke arah leo yang tengah berada di depan nya. Sinar berwarna putih memenuhi tangan Changyi. tak lama sebuah pedang dengan kilatan berada digenggaman Changyi.
Leo menatap pedang yang digenggaman oleh Changyi.
"Pedang Jiwa." Dalam benak Leo.
"Serahkan pedang itu, dan teman mu akan selamat!." Ucap Leo memandang Changyi dengan licik.
__ADS_1
Changyi membalas senyum licik yang diberikan oleh Leo kepadanya.
"Hmm....Mimpi saja kau!."
Pedang Jiwa yang tengah digenggaman oleh Changyi diarahkannya kebawah. Hingga ujung pedang membentur tanah. Dia terus berjalan semakin mendekat ke arah Leo. Sebuah sinar terpancar dari pedang itu. Ditancapkannya pedang Jiwa milik Changyi di tanah. Kemudian Pria itu mundur cukup jauh dari pedang miliknya.
"Jika kau menginginkan pedang ku, ambillah. Cabut pedang itu dari Dalam tanah." Ucap Changyi dengan pandangan yang dingin.
"Hehehe....Hanya menyambut pedang saja tentu itu hal yang sangat mudah bagiku." Ucap Leo dengan sombong.
Geisya Dan Haili memperhatikan Changyi yang begitu saja menyerahkan pedangnya pada Leo.
"Apa rencana mu Changyi?." Dalam benak Geisya.
Leo Segera menggenggam pedang jiwa yang tertanam didalam tanah. Dengan perasaan sombong dan yakin dia mencoba untuk menarik Pedang Jiwa milik Changyi. Changyi yang berjalan menjauh dari pedangnya hanya menatap Leo dengan pandangan super dingin.
Kemudian Leo dengan cepat menarik Pedang Jiwa dengan tangan kanannya. Tanpa rasa curiga sedikitpun dia sangat senang saat sudah mendapatkan pedang itu.
"Aku akan menjadi penguasa di dunia ini! Hahaha......" Ucap Leo dengan bangga saat sudah berhasil mengambil pedang jiwa dengan mudahnya.
Changyi memperhatikan tanah yang mulai retak sedikit demi sedikit mengarah pada diri Leo yang tengah menggenggam Pedang Jiwanya. Leo yang tengah sangat senang itu kemudian merasa bingung saat melihat tanah yang diinjaknya bergetar dan terbelah menjadi dua bagian. Dan cahaya berwarna putih bercampur biru memenuhi Pedang Jiwa itu. Leo merasa sangat kesakitan tangannya tidak mampu melepaskan Pedang Jiwa dari genggamannya.
"Ada apa ini?!." Ucap Leo dengan panik.
Tubuh nya terjatuh ke dalam tanah yang membelah itu dengan Pedang Jiwa milik Changyi. Tak lama tanah yang terbelah itu tertutup kembali dengan cepat. Suara teriakan Leo yang cukup keras terdengar dari atas.
"Sakit...sakit sekali.....Ku mohon tolong aku...." Suara rintihan Leo yang terkubur hidup-hidup didalam tanah.
Tak lama tubuh Geisya dan Haili dapat digerakkan kembali. Dan Pedang Jiwa juga Pedang Petir milik Geisya itu keluar dari dalam tanah. Terbang ke arah Changyi, dengan cepat pria itu menangkap ke dua Pedang itu. Geisya dibuat takjub dengan apa yang di lihat nya.
__ADS_1
"Luar biasa, Pedang itu sungguh luar biasa." Ucap Geisya.
Geisya dan Haili segera menghampiri Changyi, Pria itu memperhatikan ke dua temannya yang berada di hadapan Changyi. Kemudian Changyi memberikan Pedang Petir kepada Geisya.
"Milik mu."
Geisya segera mengambil Pedang itu. Kemudian dia melihat ke arah tanah yang tertutup rapat seperti sedia kala. Suara teriakan dari Leo pun sudah tidak terdengar lagi.
"Apa dia sudah tiada?." Ucap Geisya dengan penasaran.
"Seharusnya begitu, namun jika dia menganut ilmu hitam maka dia masih hidup didalam tanah itu." Ucap Changyi sambil memandang ke arah tanah.
"Kalau begitu, tidak menutup kemungkinan dia akan kembali?." Ucap Geisya sambil memandang ke arah Changyi yang berada dibelakangnya.
"Hmm...Namun di dalam sana dia sudah terkurung, jika dia mampu ke luar dari dalam sana itu hal yang sangat sulit di lakukan oleh seorang penganut ilmu hitam." Ucap Changyi menjelaskan.
Kemudian Geisya membalikkan tubuh dan memandang ke dua temannya yang berada dibelakang. Dengan cepat dia berlari dan memeluk tubuh kedua pria itu. Changyi dan Haili dibuat terkejut oleh tingkah Geisya yang tiba-tiba sangat aneh.
"Hey! Ada apa ini?." Ucap Changyi dengan bingung.
"Tidak ada, aku hanya merasa sangat senang sekali ketika bertemu dengan kalian." Ucap Geisya dengan Terus memeluk ke dua pria itu.
"Dasar gadis!, hmmm tetapi jangan menangis dibahu ku ya! Aku tidak ingin baju ku ini basah karena air mata mu." Ucap Haili dengan Tegas.
Dengan cepat Geisya menarik tubuhnya dan memandang Haili dengan perasaan kesal.
"Enak saja! Hey aku ini tidak pernah menangis ya!." Ucap Geisya.
"Oh ya?." Ucap Changyi membalas ejekan dari Haili kepada Geisya.
__ADS_1