Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 117 ~ Bodohnya Aku.


__ADS_3

Putri Geisya berjalan dengan cepat untuk dapat memasuki pusaran kabut tanah itu. Lalu, dia mengangkat Tangan kanannya ke depan, dengan telapak tangan yang terbuka lebar. "Deinto!" Sinar oranye dengan bentuk bulat penuh segera terpancar. Lalu, membesar dengan perlahan, dan menabrak kabut tanah itu dengan cukup keras. Kini, Putri Geisya dapat melihat jalan dihadapannya. Langkahnya terlihat sangat cepat, bola Matanya begitu tajam ketika menatap ke arah dua Pria yang tengah berdiri dihadapannya.


Kedua Pria yang sempat terdiam itu segera menunjukkan raut Wajah licik ketika melihat diri Putri Geisya yang tengah berada dihadapannya. Lalu, salah seorang Pria yang mengenakan pakaian hitam itu, menatap ke arah luka Putri Geisya yang cukup dalam.


Dia tersenyum sambil menunjukkan giginya yang amat runcing dan tajam, bak gergaji. "Hehe, cukup tangguh juga Gadis ini!" Katanya, sambil mengangkat alis kirinya saat melihat Putri Geisya.


Pria itu terlihat sangat tidak ingin membuang banyak waktu, dan memberikan celah kesempatan untuk Putri Geisya. Tiba-tiba Pria itu menghilang dari tempatnya dan saat ini dirinya tengah berada tepat dibelakang tubuh Putri Geisya, dan dari dalam telapak tangannya keluar benda hitam yang terlihat sangat asing dan memiliki ujung yang tajam.


"Hi No Yari....." Dengan bola Mata merah yang melirik ke arah samping kanan, sambil sedikit menolehkan kepalanya, Pria itu memberikan serangan itu kepada Putri Geisya.


Pada saat bersamaan, Putri Geisya menghentikan langkahnya, lalu dia terdiam sejenak, ketika dirinya merasakan sesuatu yang cukup aneh. Dengan sigap Putri Geisya memalingkan tubuhnya ke arah belakang, sambil mengangkat Tangan kanannya untuk dapat menggenggam Benda itu dengan erat.


Pria itu tersenyum licik saat Putri Geisya dapat mengetahui serangannya. Kemudian, tangan kirinya mengeluarkan sinar oranye yang cukup terang. Akan tetapi sepertinya Pria itu sudah mengetahui gerakan dari Putri Geisya, dengan cepat Tangan kirinya mengeluarkan sinar hitam, dan segera mungkin dia mencengkeram Tangan Putri Geisya dengan kuat.


Tanpa berpikir panjang Pria itu menendang perut Putri Geisya sampai dia terjatuh di atas tanah.


"Emh!" Putri Geisya segera menyentuh tangan kanannya yang terluka, sambil terus memperhatikan Pria itu.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku! Aku sungguh tidak pernah memiliki masalah apapun dengan mereka?! Apa tujuan mereka menyerangku, sampai seperti ini?!" Dalam benak Putri Geisya yang masih memperhatikan Pria berkulit putih yang berada dihadapannya. Kemudian, Putri Geisya bangkit dengan perlahan, raut Wajahnya tampak dingin, lalu dia mengepalkan telapak tangannya dengan sangat erat. "Apapun alasan mereka, yang aku yakini tujuannya hanya satu, yaitu menginginkan kematianku!" Dalam benak Putri Geisya, kemudian dia memejamkan sepasang Matanya, sambil mengatur masuk dan keluarnya udara didalam tubuhnya.


Pria itu berjalan dengan cukup cepat ke arah Putri Geisya, dan Pria satunya yang tengah berada didepan dahan Pohon, berlari dengan cepat untuk dapat mendekati Putri Geisya. Kemudian, kedua Pria itu mengeluarkan kekuatan untuk dapat menyerang Putri Geisya.


"Kuroi Hi!" Keduanya menatap diri Putri Geisya dengan dingin dan tajam, telapak tangan mereka kini tengah terpancar sinar hitam bercampur putih seperti bola.


Putri Geisya kemudian membuka sepasang Matanya dengan cepat, dengan tatapan tajam dan serius. Putri Geisya meloncat ke atas, lalu telapak tangannya bersatu. "Deinto!" Ucapnya, sambil menutup kembali sepasang Mata itu dengan rapat. Lalu, dia arahkan kedua tangannya dihadapan kedua Pria yang tengah berada dihadapannya.


Kedua Pria itu terkejut, saat Putri Geisya melakukan hal iyu, sungguh mereka tidak menyangka Gadis itu akan menghindari serangan mereka dengan cara seperti itu. Kekuatan yang mereka keluarkan kini malah melukai diri mereka sendiri, beserta dengan serangan Deinto dari Putri Geisya. Keduanya, terjatuh sambil memuntahkan darah dari dalam Mulut mereka masing-masing.


"Gadis ini cukup cerdik juga!" Kedua Pria itu kini tengah menatap ke arah Putri Geisya. Mereka sungguh tidak menyangka atas apa yang baru saja dilakukan oleh Putri Geisya.


Tak lama kemudian kabut tanah yang mengelilingi mereka, perlahan melonggar dan menghilang. Yoyo yang telah mengalahkan puluhan ekor ular yang cukup besar itu, segera dia memperhatikan sekitar, sungguh dirinya sangat terkejut saat kabut itu menghilang dan dapat membuka jalan. "Apa yang sebenarnya telah terjadi?!" Kata, Yoyo. Lalu, dia segera memalingkan Wajahnya ke arah belakang, dilihatnya kedua Pria itu tengah terjatuh dengan darah yang keluar dari Mulut keduanya.


Yoyo menatap mereka dengan cukup heran, lalu dia segera memalingkan pandangan dan melihat Putri Geisya yang segera memijakkan Kakinya diatas tanah. Dengan perlahan Putri Geisya berjalan untuk dapat menghampiri kedua Pria itu.


"Siapa yang telah memerintahkan kalian untuk membunuhku?!" Tanya, Putri Geisya dengan raut Wajah yang terlihat serius saat tengah mencoba untuk berbicara kepada Pria itu.

__ADS_1


Mereka terdiam dingin saat Putri Geisya bertanya kepada mereka, kemudian salah seorang Pria yang memakai pakaian hitam dengan Wajah yang dipenuhi garis merah, mencengkram tanah yang berada disampingnya. Lalu, segera dia lemparkan dihadapan Putri Geisya.


"Ketha!" Dengan cepat kedua Pria itu telah tidak berada lagi dihadapan Putri Geisya.


Putri Geisya yang melihat tanah yang akan mengenai tubuhnya, segera mungkin dia menghindar, dan kembali menatap ke tempat dimana kedua Pria itu berada.


"Ternyata benar, ada yang menginginkan kematianku!" Kata, Putri Geisya yang terlihat tengah menatap ke arah depan dengan tatapan tajam. Tak lama kemudian luka pada tangan kanannya kembali terasa sakit, akibat luka itu. "Hmh!" Putri Geisya menggenggam lengannya dengan erat.


Yoyo yang tengah berlari untuk dapat menghampiri Putri Geisya, segera dia menghentikan langkahnya saat melihat Putri Geisya yang hanya terdiam. Lalu, Yoyo kembali melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk dapat mendekati Putri Geisya.


"Kau tidak apa?" tanya, Yoyo yang sedikit merendahkan kepalanya dan menatap Wajah Putri Geisya.


Putri Geisya yang sadar akan kehadiran dari Yoyo, segera dia menatap ke arah samping kiri, lalu tangan kirinya yang semula tengah memengang lengan kanan, perlahan dia menepuk perut Yoyo, dan memalingkan tubuhnya, sambil berjalan untuk dapat meninggalkan tempat itu.


"Kau masih akan tetap bersamaku? Jika kau tidak sanggup sebaiknya kembalilah, dan tetap bersama dengan para anggota sok pintar itu! Aku bisa menangani masalahku sendiri, dan sebenarnya aku tidak butuh bantuan dari kalian! Tujuan utamaku hanya untuk mendapatkan Pedang jiwa, jadi sebenarnya kalian tidak berarti apa-apa bagiku!" Putri Geisya berjalan dengan cukup cepat, lalu menghela napasnya.


"Seharusnya aku tidak mengikuti mereka! Jika saja aku dapat mengambil Pedang jiwa itu dari tangan Changyi, mungkin saat ini Ayah, Ibu akan baik-baik saja!" Dalam benak Putri Geisya yang menggenggam erat telapak Tangannya, sambil terus berjalan untuk dapat meninggalkan tempat itu dengan segera.

__ADS_1


__ADS_2