
Berkat kekuatan itu yang membuat nya menjadi sadar bahwa Dewa Langit telah mempercayakan nya untuk melindungi Negeri yang di tinggali nya sekarang ini.
Dia juga tidak akan pernah melupakan tujuan utama nya untuk membunuh para Siluman dan memberantas ke tidak adilan yang terjadi di Dunia ini, dan lagi dia harus menjaga Pedang Jiwa yang Dewa Langit sudah di amanah kan untuk Changyi jaga dan nanti nya dia akan berikan kepada seseorang yang juga memiliki tanda mata langit.
"Changyi, semua orang di seluruh penjuru negara sangat menginginkan Pedang Jiwa ini, kau harus berhati-hati dalam menjaganya."
Changyi memperhatikan Kotak Kayu dengan ukiran yang berada di atas Meja Kayu yang tertata dengan rapih.
"Kau pasti yang telah membuat meja dari kayu itu bukan?."
"Benar."
Dengan sedikit malu Haili mengakui perbuatanya.
"Kau tenang saja selama pedang itu bersama ku siapapun tidak ada yang bisa mengambil nya dari ku, terlebih lagi kekuatan yang ku miliki bukan sepenuhnya dari pedang itu."
"Sukurlah, hem.... Changyi aku sangat bosan berada di dalam Gua terus sepanjang hari, ayolah kita pergi berjalan-jalan sebentar saja."
"Hmm... boleh."
__ADS_1
"Tetapi bagaimana dengan Pedang Jiwa ini?."
Changyi memperhatikan Kotak Kayu yang berisikan Pedang Jiwa. Tak lama Kotak Kayu itu menghilang dari hadapan mereka.
Haili terkejut melihat Kotak Kayu itu hilang. Dia menatap Changyi dengan panik.
"Changyi?!, dimana kotak kayu itu sekarang?."
"Kau tenang saja aku sudah menyembunyikan kotak itu dengan aman, dan sekarang kita bisa keluar dari sini." Ucap nya sambil melirik Haili.
"Baik lah."
Di Halaman Istana
Puteri Yumika sedang duduk di dekat taman. Yumika di kenal dengan puteri yang sangat dimanja oleh Kaisar dan Permaisuri.
Karena dia lah seorang Puteri satu satu nya yang berada di keluarga nya. Anak dari para selir ayah nya semua laki-laki, kecuali salah seorang selir ayahnya yang memiliki satu anak perempuan. Namun, Puteri Yumika tidak ingin berteman dengan adik nya itu.
Saat melihat Geisya yang begitu berani dia sangat ingin memiliki seorang teman wanita yang seumuran dengannya.
__ADS_1
Hari itu Yumika memutuskan untuk mencari Geisya di hutan. Dengan berhati-hati Yumika akhirnya dapat keluar dari istana tanpa sepengetahuan dari penjaga istana.
"Fiuh... akhirnya aku berhasil keluar dari istana, dan sekarang saat nya untuk bertemu dengan Geisya, aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepada nya, itu sangat lah tidak sopan. bukan?."
Dengan cepat Yumika berjalan menuju hutan. Tidak butuh waktu lama dia memasuki hutan.
"Tapi dimana Geisya berada?."
Yumika terlihat sangat bingung karena hutan adalah tempat yang sangat luas. Juga menyeramkan.
"Aku sungguh terkesan pada gadis itu, dia mampu berada ditempat ini tanpa rasa takut sedikitpun yang menyelimutinya, tidak seperti diriku yang payah ini."
Sambil terus berjalan Yumika selalu memperhatikan kanan dan kiri. Namun, tak berapa lama langkah nya terhenti karena melihat prajurit istana jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
"Ini bukan kah Prajurit dari Istana Qiatan? apa yang baru saja terjadi? mengapa mereka bisa menjadi begini? lalu dimana kak Qua Win berada?."
Gadis itu memandang i sekitar hutan sampai dia menemukan saudaranya yang tidak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang Yumika segera menghampiri saudaranya itu. Dengan cepat dia menyentuh tubuh Qua Win dan membalikkannya. Dia terkejut melihat pakaian yang kotor dan wajah yang penuh dengan luka.
__ADS_1