
Putri Geisya yang tengah berjalan, terlihat terus mengalahkan dirinya sendiri. Setiap langkah kakinya yang menginjak tanah, terlihat sejak yang tertinggal ditanah. Yoyo yang masih memperhatikan Putri Geisya segera dia mengikuti Gadis itu, kemudian Yoyo berbicara dengan suara yang cukup lantang.
"Jika saja aku tidak meninggalkan keluargaku hanya demi mencari Pedang Jiwa, mungkin saat ini aku sudah pergi bersama mereka, itu jauh lebih baik, karena setidaknya aku mendampingi mereka, jika saja pada malam itu, aku tidak mendengarkan ucapan dari Adikku untuk meninggalkan Rumah, mungkin saat ini aku masih bisa bersama mereka, hah... Akan tetapi semua yang bermula dengan kata "Jika saja" terdengar sangat menyakitkan!" Ucap, Yoyo yang tengah menatap ke arah langit biru, dengan sorot dari bola Matanya yang sangat dalam. Ketika melihat Matahari sudah mulai meninggi.
Putri Geisya tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, saat dia mendengar perkataan dari Yoyo. Lalu, Putri Geisya segera memalingkan wajahnya ke arah belakang untuk dapat melihat diri Yoyo. Saat itu juga Yoyo mulai menatap Wajah Putri Geisya, keduanya saling terdiam, kemudian Putri Geisya kembali berbicara.
"Kau memang benar, kata "Jika saja" terdengar sangat menyakitkan." Dengan segera Putri Geisya memalingkan kembali Wajahnya, kemudian dia mulai melanjutkan langkah kakinya.
Yoyo segera berlari ketika mendengar perkataan dari Putri Geisya, dengan cepat dia meloncat tinggi disamping Putri Geisya, sambil mengangkat Tangan kanannya yang sudah mengepal diudara.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, kini saatnya tunjukkan siapa diri ini yang sesungguhnya! Bagiku, kau cukup tangguh, ya meskipun kau adalah seorang Gadis yang pemarah." Kata, Yoyo yang segera memalingkan Wajahnya untuk dapat melihat Putri Geisya, sekali lagi dia berlari dengan cepat untuk dapat meninggalkan Putri Geisya dari tempatnya.
Putri Geisya yang mendengar perkataan dari Yoyo, merasa bahwa Pria itu cukup konyol. Lalu, tanpa terasa Bibir mungil kecil miliknya tersenyum tipis. Saat sudah sekian lama menyembunyikan senyum itu.
"Aku harus mempercayai diriku sendiri, dengan kekuatan ini mungkin aku tidak cukup kuat untuk mengembalikan keadaan, tetapi dengan tekad ini aku percaya, apapun bisa aku hadapi!" Putri Geisya yang masih melihat Yoyo tiba-tiba saja raut Wajahnya menjadi dingin.
Yoyo yang terus berjalan dengan riang gembira, tampaknya tidak memperhatikan jalanan dengan benar. Saat bertemu dengan jalan yang bercabang, Yoyo tetap saja berjalan lurus ke depan.
Yoyo yang tengah berjalan dengan segera dia menghentikan langkahnya, tampaknya Pria itu cukup terkejut akan suara dari Putri Geisya.
__ADS_1
"Hehe, aku sudah tahu, hanya saja aku ingin mencoba jalanan ini." Kata, Yoyo yang segera memalingkan Wajahnya ke arah Putri Geisya, sambil tertawa kecil. Wajah malu yang dia sembunyikan itu tampak jelas dimata Putri Geisya.
Putri Geisya hanya terdiam, kemudian dia kembali berbicara kepada Yoyo.
"Oh, lantas bagaimana rasanya jalan itu?" kata, Putri Geisya yang tengah bercanda kepada Yoyo, akan tetapi raut Wajahnya masih sangat cuek dan dingin dihadapan Yoyo.
"Pfft... Gurauan macam apa itu?!" Kata, Yoyo yang segera mendekati Putri Geisya, lalu Yoyo kembali berbicara serius kepada Putri Geisya saat sudah berada disampingnya. "Apakah kau tidak curiga bahwa kedua orang itu sebenarnya telah diperintahkan seseorang untuk melenyapkanmu?" ucap, Yoyo yang tengah memperhatikan Wajah Putri Geisya dengan serius.
Putri Geisya yang tengah menatap Wajah Yoyo, saat mendengar perkataan itu. Dengan cepat dia memalingkan pandangannya. Sambil memikirkan suatu hal.
__ADS_1
"Aku rasa bukan Raja biadab itu pelakunya, hmm... Siapapun dia aku yakin dia pasti sangat membenciku." Dalam benak Putri Geisya yang segera melangkahkan kakinya dan meninggalkan Yoyo yang masih menatapnya dengan penasaran.