
Raja Siwang menatap ke arah dalam ruangan itu, terlihat kedua orang tua dari Putri Geisya tengah terikat oleh sebuah besi yang melilit tubuh mereka, Raja Siwang yang terlihat sangat marah dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk dapat masuk ke dalam tempat itu. Ibu dari Putri Geisya yang saat itu tengah memejamkan sepasang Matanya, dengan perlahan ia membuka tubuhnya yang saat itu terlihat sangat memprihatinkan. Dengan perlahan Ratu Fahrani mengangkat kepalanya, saat itu dihadapannya terlihat bayangan hitam, karena pandangannya belum terlihat dengan jelas. Sampai pada akhirnya sepasang bola Mata hijau itu dapat melihat Raja Siwang yang tengah berdiri dihadapannya. Perasaan Ratu saat itu begitu sangat terkejut ia tak menyangka Raja Siwang akan menemui dirinya dimalam itu.
"Untuk apa kau kemari?! Jika kau datang kemari untuk menanyakan dimana keberadaan dari Putriku Geisya maka simpan saja semua itu, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengatakannya kepada dirimu! Jika kau ingin membunuhku lakukanlah, tetapi jangan pernah kau lukai Putriku! Kau hanyalah Mayat hidup yang tidak memiliki kebahagiaan dalam kehidupanmu terdahulu! Siwang aku pastikan Putriku pasti akan membunuhmu! Aku yakin akan hal itu!" Ucap, Ratu Fahrani dengan sepasang bola Mata tajam yang tengah menatap Wajah Raja Siwang.
Raja Siwang yang saat itu masih dalam keadaan murka, semakin merasa jengkel dengan apa yang telah diucapkan oleh Ratu Fahrani kepada dirinya, dengan cepat Raja Siwang mengangkat tangannya gerakkannya begitu sangat cepat kini jarinya yang panjang dan putih seperti lengan mayat itu tengah mencengkeram leher Ratu Fahrani dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Emh...! Emh...!" Ucap, Ratu Fahrani dengan tubuh yang terasa sangat sakit ketika Raja Siwang mencengkram lehernya dengan sangat kuat.
Sang Raja yang masih belum terbangun tidak dapat membantu Ratu Fahrani yang saat itu tengah disiksa oleh Raja Siwang. Raja Siwang terus menatap Wajah Ratu Fahrani dengan sepasang bola Mata tajam, tatapannya begitu sangat mengerikan. Tak lama kemudian dari sela jari milik Raja Siwang keluar cairan merah yang sangat kental yang berasal dari leher Ratu Fahrani. Ratu Fahrani yang saat itu tidak dapat memberontak terlihat sangat kesulitan untuk bernapas, dadanya terasa sangat sesak. Raja Siwang yang tengah menatap Wajah Ratu Fahrani dengan tatapan benci, segera ia berbicara kepada Ratu Fahrani dengan nada bicara tegas.
"Aku pasti akan menemukan Putri Geisya dengan sesegera mungkin! Jika dia ingin melenyapkan diriku mengapa dia harus melarikan diri?! Sudah jelas bukan ia sangatlah takut kepada diriku! Bagaimana jika kalian aku benar-benar jadikan Mayat hidup yang sangat mengerikan! Membunuh siapapun tanpa memandang bulu, ahahaha... Benar jika aku mengubah dirimu menjadi Zombie pastilah Putri Geisya akan merasa sangat terpukul, bukan? Pasti itu akan menjadi sesuatu yang begitu sangat menyenangkan bukan sepasang keluarga saling membunuh, hahaha...! Tamatlah kau!" Ucap, Raja Siwang dengan sepasang bola Mata yang berganti menjadi merah merekah.
__ADS_1
"Anakku Geisya, maafkan ibu... Pergilah sejauh mungkin." Dalam benak Ratu Fahrani dengan perasaan sedih.
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan yang begitu sangat keras dari dalam ruangan itu. Dan disambung dengan suara tawa yang menggema dari dalam tempat itu.
Aaaaah!!!!
__ADS_1
Wahahaha.... Wahahaha! Geisya jangan pernah mempermainkan diriku! Ucap, Raja Siwang yang segera kembali tertawa.