
Geisya terjatuh ketanah namun itu tidak lantas membuatnya menyerah begitu saja. Dengan segera Geisya bangkit dan menyerang tubuh siluman itu dengan pedangnya. Dia berlari dengan cepat ditengah cairan panas yang seakan merebus tubuhnya itu. Dengan sekuat tenaga Geisya menggoreskan beberapa sayatan pada tubuh siluman itu.
Tubuhnya gemetar, keringat mengucur perlahan membasahi wajahnya. dengan terengah-engah dia berusaha untuk mengatur nafas. Dengan cepatnya siluman itu membalikkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya yang tajam beserta kuku panjang dan runcing seperti belati. Geisya segera menghindar dari semua serangan yang siluman itu berikan. Beberapa serangan dapat dia hindari namun saat kedua tangan siluman itu mengulur Geisya terperangkap didalamnya. Saat tangan besar itu akan menindih tubuh Geisya yang terlihat kecil. Geisya menahannya dengan sekuat tenaga. Meskipun kekuatannya tidak seberapa namun dia akan terus bertahan dan mengalahkan siluman itu.
"Belum.. Be.. Belum berakhir." Ucap Geisya yang tengah menahan telapak tangan besar milik siluman itu.
Bola matanya yang berwarna biru segera memancarkan cahaya oranye angin yang bertiup perlahan seketika menjadi besar. Geisya masih berusaha untukmenahannya lalu pedang yang berada di genggamannya mengeluarkan sinar berwarna oranye. Dengan sekuat tenaga Geisya menebas tangan siluman itu dengan cepat, salah satu tangan dari siluman itu terputus Geisya memperlihatikan letak jatuhnya namun dia dibuat tercengang oleh potongan tangan itu yang masih dapat bergerak da melayang kearah siluman itu, betapa terkejutnya dia tangan yang sudah dia tebas dapat menyatu kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Huh." Ucap Geisya yang kelelahan.
Yoyo memperhatikan Geisya yang tengah melawan siluman itu denga sisa tenaganya. Karena perasaan tidak tega dia membantu Geisya untuk melawan siluman itu. Terlihat tubuh siluman itu tengah membelakangi dirinya dengan cepat Yoyo mengangkat tanganya tak lama terlihatlah sebuah pedang yang tengah digenggam olehnya. Yoyo segera bangun dan menusukkan pedang itu pada punggung siluman aneh itu. Pandangan siluman itu lalu tertuju pada Yoyo.
"Hehe... Kemari hadapi aku? Jika kau seorang pria maka seharusnya kau malu melawan gadis manis seperti dia! Huh dasar siluman payah!." Ucap Yoyo yang mengejek siluman itu, sambil mengangkat tangan kanannya dan dikepalkannya lalu dia menurunkan jari jempolnya kebawah dihadapan siluman itu.
"Huh... Bagus! Aku hargai semangatmu, tapi maaf saja kali ini kau akan kalah ditanganku, lihatlah semesta mendukungku, huh." Ucap Yoyo yang tengah memberikan serangan pada siluman itu.
__ADS_1
Geisya yang memperhatikan hanya terdiam kemudian dia berlari untuk meloncati tubuh siluman itu dan menebas kepalanya. saat sudah melakukan penerangan semua luka yang berada ditubuh siluman itu kembali seperti semula, begitu juga dengan kepalanya yang sudah terputus.
Geisya dan Yoyo dibuat bingung dengan hal itu. terlebih lagi tubuh mereka sudah seperti mendidih. Yoyo segera memperhatikan Geisya kemudian dia memperhatikan tubuh siluman itu tak lama kemudian Yoyo tersenyum tipis dan dia segera berlari menghampiri Geisya. Geisya memperhatikan Yoyo yang tengah berada disampingnya.
"Hey jutek, aku punya rencana." Ucap Yoyo yang tengah memperhatikan siluman itu.
Geisya hanya melirik kearah samping, kemudian Yoyo membisikkan sesuatu ditelinga Geisya.
__ADS_1
Geisya yang mendengar rencana Yoyo yang kurang masuk akal, dengan segera dia memperlihatkan ekspresi aneh kepada Yoyo.