
Geisya akhirnya mengikuti cara yang Yoyo rencanakan, kemudian Yoyo tersenyum kepada Geisya dan segera dia menatap siluman itu dengan pandangan serius.
"Matilah kau!." Ucap Yoyo yang kemudian berlari kearah siluman itu. Kekuatannya dia kumpulkan di tangan kanan, Lalu Yoyo melewati siluman itu dari sela kaki yang terbuka, kekuatan Yoyo segera dia arahkan tepat kaki sebelah kiri siluman itu. Siluman yang terfokus oleh Yoyo tidak menyadari Geisya sudah bersiap untuk menyerangnya. Pedang Geisya dia arahakan tepat dimata sebelah kiri milik siluman aneh itu, Yoyo yang melihat hal itu segera bangun dan membantu Geisya untuk ikut menyerang siluman itu.
Aaaarghh.....!!
Siluman itu berteriak dengan cukup keras, tangannya segera mengarah pada tubuh Geisya namun dengan cepat Geisya menepisnya menggunakan tangannya. Darah bercucuran keluar dari mata siluman itu, dia nampak kesakitan. Tak lama siluman itu menghilang bersama dengan cairannya.
"Huftt... Akhirnya. " Ucap Geisya merasa lega.
Yoyo menatap wajah Geisya yang terlihat sangat lelah. Sebenarnya dalam benak Yoyo dia sangatlah ingin membantu Geisya untuk memapah tubuhnya, namun dia hanya merasa tidak enak jika dia melakukan itu maka Geisya akan berfikir bahwa Yoyo telah menganggap dirinya lemah.
"Ada apa?." Ucap Geisya dengan sedikit melirik Yoyo.
Yoyo yang agak terkejut dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Tidak ada." Ucap Yoyo.
"Kau masih sanggup berjalan kan? Ayo kita harus segera keluar dari sini." Ucap Geisya.
Geisya dan Yoyo akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dan mencari jalan agar bisa keluar dari tempat itu.
***
Di tempat lain, Yumika dan Haili masi berusaha untuk keluar dari tempat itu, mereka harus dengan cepat mencari tabib untuk mengobati luka pada tubuh Changyi dan Coco. Mereka sungguh tidak bisa membiarkan kedua temannya terluka.
Yumika segera menatap wajah Changyi yang berada disampingnya itu.
"Tidak! Aku tidak aka pernah berhenti, kita harus mencari tabib untuk menyembuhkan kalian berdua, lagi pula bukankah tadi kau bilang kita tidak punya banya waktu? Aku tidak akan pernah membiarkan Coco tiada." Ucap Yumika dengan tegas.
Haili yang berada disamping depan Yumika segera menoleh kebelakang dia menatap Yumika yang terlihat sangat ingin menyembuhkan Coco yang terluka parah. Dengan tersenyum tipis dia memandang wajah Yumika.
__ADS_1
Hari hampir berganti, namun mereka belum dapat menemukan tabib.
"Dasar aku tidak berguna! Seandainya Geisya yang berada di sini dia pasti sudah dapat menyembuhkan Changyi dan Coco! Mengapa aku bisa tidak seberguna ini!." Dalam benak Yumika kesal.
Tak lama akhirnya mereka menemukan sebuah ruma kecil dengan lentera berwarna oranye yang terpasang diluar rumah.
"Sepertinya disana ada orang." Ucap Haili denga senang.
Kemudian Timika menatap rumah itu dan dia sungguh merasa bersyukur setelah sekian lama berjalan sampai membuat kakinya sangat lemas, akhirnya mereka dapat menemukan titik terang.
"Kau benar, kita harus pergi ke sana." Ucap Yumika dengan senang.
Akhirnya mereka memutuskan untuk perg kesalah satu rumah itu dan berharap disana ada orang yang membantu mereka semua.
Dengan langkah hati-hati Yumika yang tengah memapah tubuh Changyi berjalan menghampiri rumah sederhana itu. Terlihat pintu yang tertutup rapat namun cahaya lentera yang terpasang diluar rumah dan pantulan cahaya yang terlihat dari jendela kaca. menandakan seseorang berada didalam.
__ADS_1
Ada yang tidak dapat dibeli dan sukar untuk dicari adalah seorang kawan sejati yang tidak akan pernah pergi disaat apapun yang terjadi.