
Geisya bukanlah Wanita hebat ia sadar akan hal itu, tetapi menjadi bodoh ketika pertarungan, itu bukanlah sifatnya. Berawal dari dia yang lemah, dan suatu hari nanti akan menjadi kuat, mencari hal-hal yang sulit untuk ia taklukkan, menjadi seorang pendekar Wanita yang akan dihargai kedudukannya? Bentuk tanda tanya besar dalam benak dan pikirannya, bukan hanya ingin menyelamatkan kedua orangtuanya. Namun, ia juga begitu sangat ingin diakui oleh semua orang siapakah dirinya.
"Aku tak tau bagaimana saat ini kondisi kedua orangtuaku, mungkin saat ini mereka sudah tidak lagi mengenali diriku, sungguh ironi kau Geisya, alih-alih ingin menyelamatkan kedua orangtuamu, tapi saat ini saja kau tengah terjebak dalam suatu kondisi yang sangat memperihatinkan, tetapi janjiku kepada bumi dan langit, aku Geisya, akan meluluhlantakkan dunia yang dipenuhi dengan kekejaman dari para Iblis itu! Aku berjanji! Hidup hanya sekali... Matipun hanya sekali, maka dari itu jika tidak mampu menjadi orang baik, setidaknya jadilah orang yang berguna!" Dalam benak Putri Geisya, ia terus berjalan menyusuri jalanan sampai pada akhirnya dari atas langit turun sesuatu yang membasahi pipinya. Dingin rasa itu, Geisya menatap ke arah langit tampaknya salju mulai turun, langit juga masih tampak gelap, seakan pagi sangat enggan menampakkan diri dihadapannya.
Semua terlihat mencurigakan, langit terus saja gelap dan menjadi malam. Namun, agaknya hal itu tidak Putri Geisya hiraukan.
Geisya menghentikan langkahnya sebentar, lalu ia segera menolehkan pandangannya ke arah belakang, yang saat itu tengah berdiri Yoyo sambil memandangi langit yang menyemburkan salju dingin.
"Yoyo, kita harus cepat! Sebelum salju ini turun semakin banyak, kita harus mencari tempat berlindung." Ucap, Geisya yang segera berjalan dengan langkah cepat.
Rambut panjangnya yang terurai, terhembus angin yang tiba-tiba saja kencang menerpa tubuhnya, langkahnya terlihat gemetar. Namun, Putri Geisya tidak akan pernah berhenti, apapun yang nantinya akan ia temui, apapun yang nantinya akan terjadi, ia harus menghadapinya, kenyataan yang pasti akan bertatap muka dengan dirinya.
"Ayah... Ibu... Dimana pun kalian saat ini, tolong bertahanlah sebentar saja! Salju aku mohon, kali ini kau turun dengan membawa kebahagiaan untukku!" Dalam benak Putri Geisya yang terus berjalan menyusuri jalanan yang mulai tertutup oleh salju putih.
Pandangannya mulai kabur, karena salju begitu lebat menutupi pandangannya, sampai pada akhirnya Yoyo yang tengah berjalan sambil terengah-engah berteriak kepada Geisya.
"Putri, disana... Sepertinya kita bisa beristirahat disana...." Ucap, Yoyo yang menunjuk sebuah Goa kecil diseberang jalan mereka.
Putri Geisya yang sedikit terkejut, segera menoleh ke belakang untuk dapat menatap Yoyo, ia kemudian memperhatikan arah jari telunjuk Yoyo, dilihatnya ada sebuah Goa kecil, yang bisa mereka jadikan sebagai tempat untuk berteduh.
__ADS_1
"Iya... Kita akan pergi ke sana." Jawab, Putri Geisya yang segera berjalan dengan perlahan untuk dapat menuju Goa kecil itu.
Setibanya didekat Goa, Putri Geisya tanpa berpikir panjang ia dengan cepat masuk ke dalam Goa yang sudah menunggu kehadiran dirinya, disusul dengan Yoyo. Didalam Goa itu semua tampak begitu sangat gelap. Sedangkan diluar Goa hujan salju terlihat sangat besar, disertai dengan angin kencang, tubuh Putri Geisya menggigil kedinginan. kemudian ia segera duduk dibelakang dinding Goa, Yoyo yang melihat hal itu, tampak sangat ingin membantu Putri Geisya, ia kemudian kembali berbicara kepada Putri Geisya.
"Putri, tunggulah disini, aku akan pergi sebentar saja untuk mencari kayu bakar ditempat ini, mungkin saja aku dapat menemukannya, tunggulah diriku." Ucap, Yoyo yang segera keluar dari dalam Goa kecil itu.
Putri Geisya yang tengah menatap salju dari dalam Goa kecil, segera memalingkan pandangannya untuk dapat mantap Yoyo.
"Tetapi... Diluar masih sangat tidak memungkinkan untuk dirimu keluar, jangan terlalu nekat, aku tidak akan mati hanya karena kedinginan." Ucap, Putri Geisya dengan tegas.
Yoyo yang mendengar perkataan dari Putri Geisya ia tampak sedikit terkejut, juga rasa empati dalam dirinya, terlihat jelas Putri Geisya kini tengah terluka.
"Aku paham, kau tidak akan mati hanya karena hal sekecil ini, tetapi apakah kau tau hal kecil bisa saja menimbulkan dampak yang sangat besar, jangan terlalu keras kepala, Putri, takkan terjadi hal buruk dengan diriku, jika itu sampai terjadi aku berjanji tidak akan menyusahkan dirimu." Ucap, Yoyo yang segera meninggalkan Putri Geisya sendirian didalam Goa.
"Dirimulah yang keras kepala!" Dalam benak Putri Geisya sambil menundukkan kepalanya.
Angin berhembus dengan sangat kencang, Yoyo berjalan untuk dapat mencari kayu bakar didekat tempat itu, badai salju tampak sangat tidak bersahabat dengan dirinya. Hampir saja ia kalah dengan ribuan salju yang menerpa tubuhnya.
Sedangkan Putri Geisya terlihat tengah melamun dalam ingatannya.
__ADS_1
"Ayah... Bunda... Lihat Putrimu ini suatu hari nanti akan menjadi pendekar hebat seperti Ayah!" Ucap, Putri Geisya ketika tengah berbicara dengan Ayah dan Bundanya.
Seorang Pria gagah dan tampan, terlihat tengah menghampiri Putri Geisya dengan tubuh tinggi, kemudian Pria itu merendahkan tubuhnya untuk dapat berhadapan dengan Putri Geisya.
"Putriku, untuk menjadi seorang Pendekar angin, kau harus mampu menjadi seorang Gadis yang kuat, ketika dunia kejam terhadap dirimu, Putriku... Ingat satu hal, apa tujuanmu." Ucap, Ayah Putri Geisya Raja Xiao han.
"Tujuanku! Tujuanku, membalaskan dendam kalian, ayah... Ibu...." Ucap, Putri Geisya yang segera tersadar.
Bug... Bug... Harrrr....
Putri Geisya terkejut, ketika mendengar suara ribut diluar seperti tengah ada yang berkelahi dengan sangat hebat.
"Tidak mungkin itu Yoyo, huft... Baiklah." Ucap, Putri Geisya yang segera bangkit dari duduknya, ketika ia berjalan dengan hati-hati untuk dapat keluar, ia mencium aroma darah yang begitu sangat menyengat.
"Yoyo....!" Ucap, Putri Geisya dengan perasaan panik dan cemas dalam dirinya.
Putri Geisya kemudian segera berlari untuk dapat keluar dari dalam Goa, sungguh terkejutnya dia ketika melihat dua Iblis pemakan Manusia tengah berebut makanan dihadapannya. Putri Geisya menatap ke arah potongan kayu bakar yang telah berserakan, dengan darah merah yang menodainya.
"Tidakkk.... Tidak...." Ucap, Putri Geisya dengan rasa tak percaya dalam dirinya.
__ADS_1
Salah satu Iblis itu segera menatap tajam Wajah Putri Geisya, Geisya yang melihat hal itu tampak sangat murka dengan perbuatan Iblis keji itu.
"Kalian membuat diriku sangat marah... Tentah apapun kalian, tetapi aku merasa ini perbuatan dari Raja kejam itu, apakah sudah dimulai? Bunda... Apakah kau akan menjadi salah satu anggota dari mereka?" ucap, Putri Geisya dengan perasaan tak menyangka.