Tanda Mata Langit

Tanda Mata Langit
Chapter 109 ~ Tidak sendiri.


__ADS_3

Putri Geisya bermaksud untuk kembali ke Istananya, yang saat itu tengah dipimpin oleh Pamannya sendiri, Putri Geisya berharap semoga Pamannya dapat membantu dirinya saat ini, dengan langkah pasti Putri Geisya meninggalkan Rumah Kakek Lin Tan.


"Semoga Paman Mo dapat membantuku, hah... Hanya Buku itu satu-satunya harapanku." Dalam benak Putri Geisya yang tengah berjalan untuk dapat menuju Istananya.


Putri Geisya menggenggam kuat telapak tangannya, ia terlihat begitu sangat berharap dengan tujuannya kali ini. Langkah yang semula pelan perlahan semakin cepat.


Yoyo yang melihat kepergian dari Putri Geisya secara tiba-tiba membuatnya merasa sangat cemas, ketika ia melihat Haili, Coco dan Putri Yumika yang terlihat hanya diam saja ketika melihat kepergian dari Putri Geisya, hal itu tidak dapat membuat Yoyo berdiam diri, kini saatnya bukan untuk saling mementingkan ego dalam diri. Namun, bersatu mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin memburuk, jika Changyi yang bertugas untuk menjaga Ratu Fahrani, sedangkan Putri Geisya yang berusaha untuk menyembuhkan Ratu Fahrani maka tujuan mereka seharusnya sama, saling membantu satu dengan yang lainnya.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang lagi Yoyo segera berjalan keluar dari dalam Rumah Kakek Lin Tan, ia kemudian berlari sekencang mungkin untuk dapat mengejar Putri Geisya yang saat itu belum terlalu jauh dari pandangannya. Haili menghela napas panjang, kemudian dia berjalan keluar, Yumika dan juga Coco yang melihat sikap dari Haili hanya terdiam, tetapi sepertinya Putri Yumika memiliki rencana besar.


Haili yang tengah berada diluar Rumah Kakek Lin Tan, tampak tengah menatap langit biru dipagi yang cerah itu, kemudian pandangannya tertuju kepada Putri Geisya dan juga Yoyo. Terlihat keduanya saling beriringan, tetapi dipaksa bagaimanapun juga Haili tidak sanggup untuk melakukan semua sandiwara itu, yang terlihat dalam bayangannya hanya darah, kekacauan yang dibuat oleh sekelompok Monster itu, karena selamanya mereka akan tetap seperti itu meskipun mereka semula hanyalah korban.


Sedangkan dijalanan Putri Geisya dikekutkan akan kehadiran dari Yoyo yang tiba-tiba saja berjalan untuk dapat mendekati dirinya, Putri Geisya sedikit melirik ke arah samping kanan, dilihatnya Yoyo tengah berada disampingnya.


Putri Geisya tampak tak menyangka, disaat semua orang tengah menyudutkan dirinya, ia ternyata masih memiliki seorang pendukung yang mengerti kondisinya saat itu. Namun, Putri Geisya tak langsung bahagia karena perkataan dari Yoyo.

__ADS_1


"Seharusnya kau tidak mengikutiku, aku bisa pergi sendiri tanpa adanya dirimu, aku selalu baik-baik saja ketika aku melakukannya dengan sendirin." Ucap, Putri Geisya yang terus belari diatas jalan berbatu.


Yoyo yang mendengar perkataan dari Putri Geisya membuat dirinya terkejut, karena apa yang ia katakan sama sekali tidak benar.


"Mana ada, tidak mungkin Manusia dapat hidup sendiri didunia ini, semua membutuhkan pertolongan, jika kau mampu melakukannya sendiri, mungkin akan ada satu hal yang menghantui dirimu." Ucap, Yoyo yang melirik ke arah Putri Geisya.


Putri Geisya yang mendengar perkataan dari Yoyo dengan segera ia menatap Wajah Yoyo yang saat itu tengah berada disampingnya.

__ADS_1


"Itu adalah kesepian, sampai kapanpun kau akan merasa sepi jika tidak memiliki siapapun, meskipun kau hebat, kau kaya, kau kuat, jika hidupmu sendiri tidak bahagia semua akan terlihat percuma." Ucap, Yoyo yang segera memalingkan pandangannya sambil tersenyum menatap langit biru.


__ADS_2