TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 99 Boy and girl


__ADS_3

Setelah hari itu,mereka menjalani hari sebagaimana mestinya.


Hari yang ditunggu Hafi dan Mita siang malam akhirnya datang juga.Mita sudah mulai merasakan perutnya mengencang dan tatkala sakit yang luar biasa datang.


Bukan berdiam diri saja,bahkan dirinya terus berjalan-jalan di bawah dekat dengan kolam dan saung.Mengusap perutnya yang kadang kencang dan kadang lagi menghilang.


Perkiraan dokter lebih cepat ternyata.Setelah pemeriksaan terakhir dan mengunjungi rumahnya yang baru,Mita mengeluh bahwa dirinya sering merasakan sakit pada perut nya,dan ternyata hanya kontraksi palsu.


"Mahh!!...." Mita teriak karena mendapati air mengalir dari pangkal pahanya.


Ara yang sedang duduk di ruang tengah pun berjalan tergopoh mendekatinya.


Dengan susah payah Mita mencoba duduk di sofa sebelahnya.Padahal hanya tinggal duduk,namun kepanikan nya mengalahkan akal sehat.


"Duduk sayang! Biar mamah telfon Hafi dulu."


Menarik nafas dalam dan menghempaskan perlahan lewat mulut.Mita terus mencoba saat perutnya mulai sakit.


Tak lama Ara kembali dan mencoba memapah Mita untuk masuk ke dalam.


"Mbak..mbakk!!"


Seorang art mendekatinya,terlihat Apron dan sehelai kain pembersih meja di bahunya.


"Tolong ambilkan tas yang sudah di siapkan Mita di kamar bawah"


"Yang seperti apa Nyonya?"


"Warna merah mbak!" Mita menjawab nya,dengan sesekali menahan sakit.


"Sabar ya sayang,Hafi sedang di perjalanan!"


Mita pun mengangguk, Ara yang berada di sebelahnya terus mengipasi Mita menggunakan buku tulis milik Daffin.


Ruangan itu ber AC tapi entah kenapa keringat Mita bahkan terus mengalir sebiji jagung.


Tangan nya mengerat di tangan Ara ketika rasa itu mulai datang.


"assalamualaikum.. Mah!"


Mendengar suara itu Ara menoleh.


"Riza!!..."


Riza yang datang bersama istrinya langsung diteriakki oleh Ara.Dan mereka pun mendekat.


"Za,tolong mamah! Bawa Mita ke rumah sakit! Sepertinya keponakan mu sudah tidak sabar melihat dunia!"


Riza pun sedikit bingung dan melihat sekitar.


"Hafi mana mah?"


"Mamah sudah menelfon Hafi sepuluh menit yang lalu,tapi sepertinya dia terkena macet!"


Ara melepaskan genggaman Mita,dia pun meraih tas yang sudah di siapkan oleh Mita tak jauh dari nya.


"Ayo Za,bawa Mita ke mobil!"


Ara terus memaksa Riza, hingga dia pun akhirnya menggendong Mita.Meletakkan dua tangan nya di bahu dan leher Riza,kening Mita menyentuh pipi Riza,seketika Galina yang tak jauh dari sana memegang dada nya,ada rasa yang aneh di hati nya.


"Tahan Mit!" Mita pun mengangguk dan mencengkram kerah Riza,dia merasakan sakit yang luar biasa kembali lagi.


"Sakit Za!"


"Iya kita ke rumah sakit!..." Riza menoleh ke belakang,istrinya masih terpaku di sana.

__ADS_1


"Na,Ayok!!.."


Gadis itu pun mengangguk dan berjalan cepat.


"Na,bisa mengendarai mobil?"


Galina menggeleng.


"Ya sudah biar Mamah saja.Kau memegang Mita saja dibelakang Za,Galina ayok masuk!!"


Riza tercengang dengan Mamah nya yang sudah mulai melajukan mobil.


"Hubungi Hafi untuk langsung ke rumah sakit saja!"


Ara memberikan ponselnya pada menantu di sebelahnya.


"Aaaaaa aw!!" Mita menarik rambut Riza,sebagai pelampiasan rasa sakitnya.


"Ya Tuhan Hafi sialan,dia yang mau jadi Ayah gua yang harus kesiksa begini!" Riza menggerutu,pasalnya Mita terus menarik,mencakar dan hampir saja menggigit lengan Riza.


Istrinya yang tahu itu melihat dengan mata yang sendu.


"Sakittt!!! Huu...hu..huuu!" Mita terus mengambil dan membuang nafas.


Dugh!!!


"Aww!! Mah pelan-pelan dong! Mita hampir saja terkena sandaran jog Mamah!"


Melirik dengan ekor matanya,Galina bisa melihat jika Riza melindungi wajah Mita yang akan terkena sandaran jog.Bahkan Riza merelakan kepala nya yang terbentur.


Hingga sampai di IGD Riza langsung menggendong kembali Mita dan meletakkan di brangkar.Tangan Mita bahkan terus menggenggam tangan Riza karena sakitnya sudah beruntun.


.


.


.


Di depan rumah sakit dia bertemu dengan Galina dan Ara.


"Mah,mana Mita?"


"Dibawa masuk oleh Riza!"


Hafi pun kembali berlari,mengejar dan tiba-tiba tangan Riza di lepaskan dan diganti oleh tangan Hafi.


"Sayang..."


Mita membuka mata,dan menoleh ke samping.Suaminya sudah di sana,menggenggam tangan nya erat.Bagian bawah baju Mita sudah berdarah begitu pula dengan Riza yang langkahnya langsung berhenti ketika Hafi sudah meraih tangan istrinya.


"Langsung penanganan saja Pak,kebetulan dokter sudah ada dan siap karena beberapa menit lalu Nyonya sudah menelfon!" Ucap perawat di sana yang menarik brangkar Mita.


Memasuki ruang persalinan,dan benar saja Alat sudah ada,jalan lahir pun sudah lengkap.


Memposisikan kaki Mita,mereka di sana sudah bersiap untuk membantu Mita melahirkan.


Hafi yang selalu menemani dan berjongkok di sebelah Mita,mencium,menelungkup,dan terus menyemangati istrinya.


"Semangat ya Ibu Mita,terus di coba.Rambut bayi sudah terlihat!" Kata dokter di sana.


Mengambil nafas banyak-banyak,Mita langsung mencoba mendorong bayinya keluar.


"Terus Bu,wah Ibunya pandai sekali!"


Hingga Hafi mendengar sesuatu robek,karena di sengaja oleh dokter.

__ADS_1


"Ya Tuhan sayang,rasanya aku tidak mampu jika harus menggantikan mu.Maafkan aku!"


Hafi memeluk,air matanya menetes.Namun Mita tersenyum dan beberapa kali masih mencoba hingga suara tangisan terdengar.Mita menelan air liur nya.


"Mana anak ku?"


"Tunggu sebentar ya Bu!"


Hafi saja belum berani melihat,dan setelah di letakkan di dada Mita,suaminya baru bisa melihat.


"Satu lagi ya Bu,yang satu tidak sabar ini karena temannya sudah keluar!"


Dengan sekali tarikan nafas dan Mita mulai mendorongnya.Bunyi seperti cipratan air terdengar diiringi tangisan Bayi.


Tangisan dari mata Hafi kembali menetes deras.Kedua nya di letakkan di dada Mita.


"Boy and Girl,cantik dan tampan seperti ayah dan ibunya!" Dokter pun memotong tali pusar,dan menjahit milik Mita.


Perawat mengambil kembali kedua bayi itu dan membersihkan nya.Hafi tak henti-henti nya sujud syukur dan menciumi Mita.


.


.


.


"Mah,mereka sudah keluar"


Ara mengangguk.Menantu nya yang satu terlihat sangat antusias ingin melihat.Hal itu tak luput dari pandangan Ara dan Riza.Bahkan Riza memperhatikan gerak gerik istrinya.


"Lihat nya nanti saja jika sudah di pindah kamar!"


Galina menoleh pada Riza,dia pun mengangguk.


"Iya mas"..


.


.


.


Sudah di pindahkan ke ruang VVIP nomor satu,yang sudah dihias beraneka pernah pernik blue and pink.Bibir Mita terus mengembangkan senyum.


Berawal dari kehamilan pertama yang harus kehilangan itu.Kini bahkan Tuhan memberikan dua sekaligus kepada nya.


Baby boy dengan berat dua koma delapan dan baby girl dengan berat dua koma enam.Hafi terus saja duduk di samping mereka,Mita saja tak dihiraukan olehnya.


Memakan potongan buah pir yang di kupas oleh Galina,hingga Mita melempar bantal ke arah suaminya.


"Ahhh!.." Hafi menoleh.


"Apa?!.."


"Dari tadi kau melihat nya terus,aku kapan?"


Hal itu sontak membuat Ara tertawa,ternyata menantunya sedang cemburu dengan kedekatan Ayah dan anak-anak nya.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2