TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 12 Kotak musik dan kartu


__ADS_3

Semua yang ada disana merasa aneh dengan biodata yang Riza share di grub chat keluarga.


"Mita masih sendiri? Bagaimana bisa dia mengaku Mina anak nya?"


Riza mengedikan bahu, sama dengan yang lain.Riza pun tidak mengetahui jika Mita sudah mempunyai anak.


"Tapi, kalau dipikir.Kak Mita tidak pernah menyebutkan sekali pun bahwa Mina anak nya.Dia hanya mengenalkan kalau balita itu bernama Mina.Coba Mamah ingat lagi" Giliran Inggi yang berbicara.


Tangan nya menopang wajah,mereka berdiskusi bak seorang detektif yang sedang menelaah kasus rumit.


Fandi yang tahu sebenarnya saja dia diam,hanya menggelengkan kepala dan berlalu pergi dari sana.


"Papah tidak tertarik,cari saja sendiri siapa Mita.Papah terserah dengan Hafi saja!"


Mata Inggi beralih pada Riza kakak nya.


"Kak!"


"hemm" Riza hanya berdehem saja.


"Kak,kak Hafi kan sudah ada cewek.Kakak mana?"


Mendengar itu Riza memutar bola matanya cengah.Pertanyaan Inggi bisa juga jebakan.


"Buruan kak,cari pacar biar kaya kak Hafi.Kalau kalian sudah menikah,papah dan mamah pasti mengijinkan ku juga"


Umur nya sudah cukup untuk menikah sebenarnya.Wanita jaman sekarang seumuran Inggi sudah banyak yang menikah.Tetapi tidak dengan Inggi,dia patuh kepada Mamah dan Papah nya,terlebih lagi kedua kakak nya yang sangat menyayangi,dan menjaga.


Sebagai keturunan Brahmana perempuan satu-satunya,menjaga Inggi adalah hal yang pertama.Meski mereka dibekalli ilmu bela diri yang mumpuni,tetap saja perempuan harus lah di jaga.


"Mikir perempuan pusing Nggi! Kakak masih ada kamu,tugas kami menjaga kamu."


"Alasan saja!" Ara menjawabi dengan enteng.


Inggi yang mendengar kalimat Riza,merangsek di pelukan kakak nya.Pura-pura manja.


"Ahh uchh uluh-uluhh kakak ku sangat baik hati sekali"


"Aww,sakit dodol!!"


Riza menjitak kepala Inggi karena gadis itu menggigit lengan nya.


Ara dan Oma Maria hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


.


.


Ucapan Mita ternyata hanya ucapan belaka,nyata nya gadis itu berjalan melewati gang sempit dengan banyak kerumunan orang.


Halte bus yang dia singgah,dan meminta di turunkan di sana memang benar adanya.Hanya saja tak jauh dari sana ada sebuah lorong dan jalan kecil yang menembus sebuah pedesaan yang cukup ramai.


Berkali-kali Mita menganggukkan kepala untuk menyapa kerumunan orang yang sedang duduk.Selain tas yang dia gendong berisi perlengkapan Mina,terselip kantong kresek di jemarinya.


Akan ada banyak anak kecil dan pemuda desa yang biasa mengganggu nya.Seperti biasa,Mita akan berusaha menguasai diri dengan menyodorkan sesuatu di tangan.


Benar saja,bukan tatapan biasa yang mereka lihat,melainkan tatapan yang lain.

__ADS_1


Segerombolan anak kecil sudah Mita lewati,setelah ini di jembatan kecil pasti banyak pemuda bermain gitar disana.


Mata Mita sudah melihat itu dari kejauhan hingga tak begitu lama dia pun mulai mendekat.


"Cewek,darimana?"


"Ikutan nongkrong kita yuk!"


"Sini gabung dong!"


"Sendirian aja?"


"Adek siapa namanya?"


Mita hanya tersenyum mendengar nya dan menyodorkan kantong kresek yang dia genggam.


"Nih bang buat cemilan rame-rame.Permisi ya? ... Mina dadah dulu sama abang-abang nya!"


Mita pun memegang tangan Mina yang melambai,balita itu pun juga tersenyum.


"Makasih Neng!"


"Iya Bang"


Mita berlalu dari sana,menghembuskan nafas dengan lega.Bagi nya tidak usah takut dengan tatapan sinis,atau gurau an mereka.Se usia mereka memang suka begitu.Mereka pikir Mita masih anak dua puluh Han,yang di rayu ucapan tersipu malu.


Sifat dan pola fikir orang bisa di rubah jika kita baik.


.


.


Mita membuka pintu dan masuk,tidak terlihat sosok Ibu Dalilah.Mita membuka gorden kamar ibu,lalu ke dapur,dan toilet.Tidak ada orang.


Seketika panik di buat nya.Dia meletakkan Mina di kasur lantai dan mencari ponsel, untuk menghubungi Ibu.


Panggilan pun dilakukan.Tidak di ada Jawaban.


Mita masih terus mencoba menghubungi Ibu,langkah nya mondar-mandir di depan kamar.Hingga dia mendengar seseorang membuka pintu.Mita langsung melangkah ke sana.


"Bu..." Ibunya pun menoleh.


"Kau sudah pulang nak?"


"Ibu darimana?" Bukan nya menjawab dia malah balik bertanya.IbuDalilah tersenyum.


"Ibu dari warung depan sana.Tadi membeli obat gosok dan beberapa cemilan".


"Astaga,kenapa Ibu tidak bilang ke Mita.Aku bisa membelikan nya Bu"


Mita menuntun Ibu nya dan duduk di depan televisi bersama Mina.Di usap kepala balita itu oleh Ibu Dalilah.


"Ibu juga tahu kamu tadi memberikan sesuatu pada pemuda di sana.Jangan seperti itu nak,nanti mereka kebiasaan!"


"Biarkan saja,tidak apa-apa Bu.Dari pada mereka mengganggu ku.Lebih baik aku kehilangan sedikit uang jajan ku"


Ibu Dalilah menghembuskan nafas kasar.Benar memang, perempuan pasti selalu di ganggu jika berjalan sendirian.

__ADS_1


Mita sejak remaja sangat mandiri,tidak bergantung dengan kakak dan Ayah nya.Menyelesaikan masalah sendiri dan tidak pernah mengadu apapun.


Membuka tas perlengkapan milik Mina,mata nya menyipit menemukan sebuah mainan masih terbungkus dan bersegel rapih.


"Mita,kau memberikan mainan untuk Mina? Ini di rumah sudah banyak,kenapa kau membeli nya lagi?"


Mita yang sedang mengambil air putih di dapur segera menghampiri ibu nya dan melihat benda itu.


Sebuah kotak musik,masih ada label harga.Mita tidak langsung membuka nya melainkan melihat dan memutar-mutar kardus.Seratus enam puluh dua ribu.


Label harga tercantum di sana,dengan nama toko yang sama persis dengan kantong kresek yang Hafi berikan.


Ini pasti dia yang membelikan dan memasukan ke dalam tas Mina.


"Mita,jawab Ibu.Kenapa kau seperti kebingungan?"


"Ohh ini Bu,tadi kebetulan teman ku ada yang bekerja di toko mainan.Harga itu mendapat diskon,tenang saja Bu.Aku pasti tidak menghambur hambur kan uang hanya untuk mainan Mina"


Ibu Dalilah tersenyum mendengar nya "Oh syukur lah"


Mita kembali ke dapur,mengambil air minum lagi.


Tangan ibu merogoh tas Mina kembali.


"Ini juga punya mu Mita!!"


Uhukk..uhukkk... Mita yang sedang minum tersedak ketika suara ibu terdengar kembali.Langkah nya mendekati ibu kembali.


Mata nya membulat melihat sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang,dengan chip di bagian sisi nya.


Mita meraih benda.


Astaga!!


Terkejut dengan Nama yang ada pada balik kartu itu,tertulis Hafidan Brahmana.


Apa sebenarnya tujuan Tuan Muda itu,Bagaimana benda seperti ini ada di tas Mina?Apa yang dia inginkan?


"Iya Bu,ini punya ku" terpaksa Mita mengakui,karena tidak mau panjang lebar pertanyaan Ibu.


"Setahu Ibu,kau tidak punya yang itu.Kapan buat nya?"


"Oh,ini khusus untuk belanja Bu" suara Mita terbata.


"Lain kali hati-hati meletakan nya nak!"


Mita mengangguk,masuk ke dalam kamar untuk mencari kartu nama yang pernah Hafi berikan.Sekali pun sering bertemu kedua nya belum pernah saling mengirim pesan atau pun telfon.


Kemarin dia merasa tidak ada sesuatu yang penting untuk di tanyakan,tapi kali ini dia akan menghubungi Hafi karena sebuah kartu ATM dan kotak music yang dia belikan untuk Mina.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2