
Jika tidak segera entah apa yang terjadi dengan Mita,bayangkan saja tiga sampai empat jam baru tersadar dari pingsan.
Waktu berjam-jam bisa saja Mita sudah diterbangkan ke negri orang atau kepedalaman yang terpencil dan jauh dari jangkauan apapun.
Efek bius masih terasa,kebas di bagian tertentu,rasanya seperti bergerak namun tidak berpindah.Hingga Mita di buat lelah oleh suami nya baru mulai terasa dan efek nya hilang perlahan.
Padahal hari masih sore,tapi kedua nya sudah berkeringat.Memeluk istrinya dengan erat dan sangat posesif.Padahal masih sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Biasanya dari buat sampai jadi butuh berapa lama sayang?"
Mita tidak langsung menjawab, pertanyaan suami nya sangat lah susah.Tidak mengerti sama sekali apa maksud dan kemana arah pembicaraan nya.
"Kenapa diam?"
"Apa ?"
"Kenapa diam? aku sedang bertanya!"
Hafi mengendorkan pelukan nya dan menatap Mita.
"Tanya apa? Aku tidak mengerti sama sekali apa yang kamu maksud?"
Hafi berdecak "Apa tidak tahu? Haruskah aku bicara fulgar agar kau mengerti?"
Mita semakin mengerutkan kening nya.
"Dari buat,sampai jadi biasanya berapa lama?" Hafi mengulanginya kembali.
Mita masih saja bengong,bola matanya melihat kesana kemari untuk mencerna ucapan Hafi.
"Aysshh!!! Astaga!!!! Dari memasukan ini ke sini dan menjadi baby biasanya berapa lamaa sayangku,yang kadang suka lemot!!"
Sampai Hafi mempraktekan nya dengan tangan menunjuk miliknya,ke milik Mita dan mengusap perut.Mita tergelak tertawa akan hal itu.
"Mmm berapa ya? tiga kali dua puluh empat jam setelah dibuaih juga bisa langsung jadi jika Tuhan berkehendak!"
"Semoga Tuhan berkehendak,aku ingin yang seperti Mina,lucu dan pintar"
"Secepat itu?" Hafi mengangguk.
"Tapi apa aku tidak terlalu muda untuk menjadi Ibu di umur ku yang segini?"
Hafi kaget dengan ucapan istrinya "Diluar sana banyak baru lulus sekolah dan mereka hamil.Bahkan belum lulus karena berpacaran yang terlalu bebas sampai hamil di luar nikah.Jika kau takut hamil di masa muda mu kenapa kau berprofesi sebagai kekasih bayaran,bukan kah itu juga beresiko tinggi?Bagaimana jika sebagian laki-laki mempunyai fikiran buruk untuk mu?"
"Mereka tidak akan berani macam-macam karena aku sudah memberikan persyaratan dan itu di tanda tangani,dibubuhi materai"
Hafi tersenyum "Tapi kau sangat berani!"
__ADS_1
"Bukan cuma itu,aku hanya menerima mereka dan mayoritas aku mengenalinya dari Dion!"
Wajah Hafi berubah seketika mendengar nama itu.Lelaki yang memandang Mita lebih dari sahabat atau partner kerja.Dada nya terasa sesak.
"Tidak usah marah! Aku tidak punya perasaan apapun untuk nya!"
Helaan nafas Hafi menandakan bahwa dia mengalah soal perkataan Mita.
"Apa kau sudah mencintai ku Mita?"
Kedua nya saling memandang tak berkedip.Menyelami perasaan masing-masing dari bola mata.Mita menemukan Hafi yang sangat mencintai nya di sana,hingga Mita memejamkan mata nya sendiri lalu menggeleng.
"Maksud mu belum?" Hafi merasa gagal menyelami isi hati Mita.
"Bukan nya belum,aku hanya terkadang merasa tidak pantas untuk kau cintai"
Hafi mengerutkan keningnya,menunggu pembicaraan Mita selanjutnya.
"Aku bukan wanita baik-baik Dimata orang di luar sana,terlebih dari beberapa mereka yang sudah pernah bersama ku.Dipeluk,dicium banyak lelaki hanya demi uang!"
Wajah Mita sendu,dan menunduk seketika.Hafi pun memegang dagu istrinya.
"Dengar kan aku,aku tidak peduli dengan masa lalu mu!! Tubuhmu yang dulu,ciuman dari mereka yang dulu.Sentuhan mereka sekalipun aku tidak peduli.Yang terpenting sekarang.Kau hanya milikku,dan kehormatan yang kau jaga adalah milikku.Jika mereka berani mengungkit tentang itu,lihat saja."
"Kenapa?"
"Ya lihat saja! Yang pasti bukan aku yang menghajar nya.Tapi Om-om pengawal Brahmana yang lebih dahulu bertindak!"
Mana mungkin dia akan bertindak,yang pasti pengawal keluarga nya terlebih dahulu.Asisten dan pengawal pasti lebih cepat dari pada bos.
.
.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam,tidak terasa obrolan Hafi kemana-mana hingga penasaran nya tentang Mina dan keluarga Mita terjawab sudah.
Mita seorang Yatim yang berjuang akhir-akhir tahun ini untuk Ibu dan keponakan nya.Memberikan segala apapun yang mereka mau tanpa terkecuali.
"Aku kira aku akan seperti Papah,mendapatkan janda"
Mata Mita membola,membekap bibir nya "Mamah Janda?"
Hafi mengangguk "Iya, Papah adalah laki-laki yang gagal move on dari Mamah,tapi pada akhirnya mereka bersama dan bersatu juga.Itu pun karena di jebak,Kami kemungkinan sudah tumbuh di perut mamah saat mereka menikah!"
Mita melipat bibir nya,menahan senyum.
"Kenapa seperti itu?"
__ADS_1
Mita hanya menggeleng. "Hei kenapa seperti itu? Kau mengejek Mamah Papah ku,hah?!"
"Bukan!! Aku hanya membayangkan saja seorang Papah yang masa muda nya pasti terlihat garang,luluh dengan Mamah.Mamah cantik ya meski umurnya sudah kepala lima."
Ucapan Mita di angguki oleh Hafi,suaminya sangat membenarkan Mita "Dulu waktu kami masih sekolah, Mamah sering disebut kakak kami! Padahal Mamah dan Papah hanya selisih beberapa tahun saja."
Mita mulai menguap,mata nya sudah terasa berat.
"Mandi dulu setelah itu makan,baru tidur sayang!"
"Seperti nya aku tidak makan,ini sudah malam.Nanti aku gendut!"
Padahal berat badan lima puluh delapan dengan tinggi seratus enam puluh delapan tergolong kurang berisi namun Mita tetap saja tidak mau makan malam dengan alasan gendut.
"Sudah bersuami masih saja takut gendut.Nanti jika kau mengandung anak-anak ku pasti juga menggendut!"
"Dan aku akan jelek,lalu kamu mulai cari yang lain kan?" Mita menyambar tiba-tiba ucapan Hafi.
"Mana mungkin?!"
"Ahss, sekarang bilang tidak.Lain besok!"
Mita menarik selimut nya,menutupi dada dan tubuhnya lalu bergegas ke toilet untuk mandi.
"Sayang,tunggu!! Aku ikut!"
"Tidak!!"
Blam!!
Toilet di tutup seketika oleh Mita,menarik pintunya dari dalam.Hafi mencoba menyusul dan membuka nya.Ternyata Mita mengunci dari dalam.
"Sayang buka kunci nya,kita mandi bersama!"
"Tidak!! Mandi saja di toilet bawah,di toilet dapur atau dimana terserah.Sekalian juga tidur di luar tidak usah tidur bersama ku!"
Suara Mita sangat nyaring di telinga Hafi.Teriakan nya menggema di dalam sana hingga Hafi bisa mendengar jelas.
Bibir Hafi tersenyum tak henti.Membuka lemari dan mengambil celana boxer,memakai untuk sementara hingga Mita selesai mandi.
Menggeser pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.Mata nya memicing melihat seseorang duduk di sebelah balkon nya.
Siapa lagi jika bukan Riza.
.
.
__ADS_1
.
to be continue