
Entah apa yang harus Hafi lakukan kembali,sudah membujuk Daddy nya,tapi tidak ada jawaban sama sekali.Berdiri di depan perusahaan Papah nya yang menjulang tinggi.
Tangan nya meraup wajah hingga nenyugar rambut nya.
Kenapa jadi se rumit ini?
Tiba-tiba fikiran nya mengarah pada Riza,Hafi pikir Riza kemungkinan bisa membantu nya.Karena Riza lebih dulu terjun ke dunia bisnis dan pasti dia kenal dengan Bos Mita dan asisten.
Hafi berlari memasuki mobil,langsung tancap gas ke perusahaan.
.
.
"Iya mah?"
"Za, apa Hafi bersama mu?"
Riza mengerutkan keningnya,tidak ada siapapun di depan nya.
"Tidak ada,memang kenapa?"
"Berkali-kali Mamah menghubungi nya,tapi tidak pernah di jawab.Kata Papah dia ke perusahaan pusat bertemu dengan Daddy Allan,tapi di sana tidak ada juga"
Riza hanya diam mendengar kan Mamah bicara.
"Riza, Mamah minta tolong cari Hafi sekarang.Sesuatu terjadi di rumah sakit!"
"Hah?!! Maksud nya Daffin mah? Kenapa Daffin?"
"Carilah Hafi dulu,nanti kau akan tau lebih jelas"
"Ya.." Riza mengangguk,dan menutup telfon mamah Nya.Memebenahi berkas dan peralatan kantor.
Langkah panjang nya langsung keluar dari sana,menuruni gedung menggunakan lift khusus untuk jabatan tinggi.
Sesampainya di depan pintu loby,dirinya di kejutkan dengan mobil Hafi yang tiba-tiba berhenti di depan nya.
Tanpa pikir panjang Riza menghampiri dan membuka pintu bagian sopir.
"Keluar!!! Pindah ke sebelah!"
Hafi yang baru saja datang bingung di buat nya,namun dia tetap keluar dan berpindah di kursi sebelah.Dan Riza yang mengemudikan mobil.
Riza paham dengan situasi yang sedang genting,jika Hafi diberi tahu pasti menyetirnya tidak fokus dan ugal-ugalan.
"Za,memang kau tahu kita mau kemana?!!"
"Sudah diamlah,aku tahu.Tadi mamah menelfon ku"
"Za dengar kan aku dulu!" Hafi tetap ngotot ingin menjelaskan.
"Cerita lah,aku akan mendengar nya!"
"Mita amnesia!"
Riza menoleh kepada Hafi, pendengaran nya tidak salah bukan.Tangan nya masih mengemudi dengan lincah.
"Mita amnesia" Hafi mengulangi nya lagi.
"Selama ini aku tidak tahu asal usul atau pun rumahnya.Kau yang sering bertemu dengan Bos nya kan,dan pasti kau bisa menanyakan biodata Mita ke perusahaan Ameer!"
Riza menoleh lagi untuk kesekian kalinya.
"Kau apakan dia?"
__ADS_1
"Aku tidak sengaja,sungguh!"
Hafi kembali menceritakan kejadian beberapa jam lalu.Cerita yang sama yang di dengar oleh Papah dan Daddy nya.
"Aku bingung Za"
"Jika dia hanya mengenalmu saja,nikahi dia Fi!"
"Bagaimana bisa? Kau sama seperti Daddy,dan asal kau tahu.Aku tidak mencintai nya!"
"Papah dan Mamah dulu juga tidak saling mencintai,hingga kita lahir"
"Jangan samakan dulu,pacar ku bagaimana?"
"Memang kau tidak tahu dulu papah dan mamah seperti apa?!"
"Tahu!! Tapi ini lain Za!! Ahh siall!"
Riza membelokan setir dan mengerem mendadak hingga pelipis Hafi terpentok dasbor mobil.
Hafi melirik sinis pada saudara kembar nya,se enak dia sendiri menyetir.
Keluar dari mobil keduanya berjalan cepat,langkahnya saling berkejaran.
.
.
"Mah!"
Mata Riza menyipit,tidak ada orang satupun di ruang Daffin.
"Ruangan Mita!"
Hafi langsung melangkah,Riza mengikuti di belakang.
"Hafi!!!.. Anak ini lucu sekali.Sejak masuk dia terus memanggil ku Unda,mungkin dia menganggap ku Bunda nya" Mita tertawa,tergelak.
Benar,hanya Hafi yang dia ingat di sana.
Namun ada mata tajam yang menyorot Hafi.Tatapan nya sangat intens.Wanita yang sudah tua dengan baju daster yang panjang,dan hijab yang menutupi kepala nya.
Ara mendekat pada Hafi.
"Beliau Ibu Mita,Ricko yang mengajak nya ke sini.Mendekat lah,dan cium tangan nya" Hafi terdiam mencerna ucapan mamah nya.
Dengan langkah yang berat,Hafi mendekati ibu Dalilah.
"Selamat sore Bu,saya Hafi" Hafi menundukkan tubuhnya dan menjabat tangan.
"Bagaimana ini terjadi nak?"
Merasa sedang di sidang,Hafi menoleh ke Papah nya.Lelaki tua itu pun tahu maksud anak lelaki nya.
"Ehekmmm!!... Mungkin jangan dibicarakan di sini,mari Bu ikut saya ke ruangan Yilmaz, kebetulan anak saya ada yang bekerja di sini"
Ibu Dalilah mengangguk.Fandi pun mengisyaratkan pada Hafi untuk mengikuti juga.
.
.
Menceritakan dengan detail kepada Ibu Dalilah, lagi-lagi Hafi harus membuang sebagian kebenaran cerita nya sedikit.
Menyembunyikan hubungan sebenarnya dengan Mita,dan tidak bercerita jika Mita yang terus bergerak hingga kursi roda nya berpindah arah.
__ADS_1
Yang dia ceritakan sama dengan cerita yang lain.Hafi bahkan menunduk di depan ibu Dalilah, merasa bersalah dan menyesalinya.
"Ibu baru tahu jika Mita mempunyai kekasih"
Mendengar itu Hafi mendongak.
"Selama ini Mita selalu bekerja keras,berangkat pagi-pagi sekali,dan pulang hingga tengah malam.Namun beberapa hari belakangan ini dirinya selalu pulang sore hari.Katanya sudah tidak ada lemburan"
"Membiayai hidup kami,hidup ibu,Mina dan membayar orang yang membantu mengasuh Mina di rumah,Ibu sudah tua dan sakit-sakitan,harus kontrol dua kali dalam sebulan.Semua Mita yang membiayai"
Ara yang berdiri di belakang suami nya mengusap pipi,tak terasa buliran bening keluar dari mata nya.Tangan yang lain menggenggam lengan Fandi.
Bukan hanya dia,Hafi saja terus menunduk.Dia menyadari satu hal,Beban Mita ternyata berat.
"Maaf,jika boleh tahu.Ibu sakit apa?" Hafi memberanikan diri untuk bertanya.
"Beberapa tahun lalu, Ibu divonis gagal ginjal.Dan harus menjalani cuci darah setiap bulan"
Hening
Hening
"Bagaimana dengan Mita nanti?"
Hafi menoleh menatap kedua orang tua nya.
Dengan menghembuskan nafas berat,Hafi mengambil keputusan.
"Aku akan menikahi Mita Bu"
"Apa kau serius nak?Mita sedang tidak seperti dulu,segala kemungkinan bisa terjadi setelah dia bisa mengingat semua"
Hafi mengangguk.
"Begini saja,besok Mita akan melakukan CT scan.Setelah hasil nya keluar kau boleh mengambil keputusan.Jangan tergesa-gesa"
Ibu Dalilah menepuk bahu Hafi.
"Anggap ini suatu Musibah,jangan menyalahkan diri mu sendiri"
Tidak seperti yang Hafi fikirkan.Ibu Dalilah bahkan sangat bijaksana.Fandi dan Ara yang mendengar ucapan wanita tua itu seketika mengembangkan senyum.
Pantas saja Mita sangat santun jika dengan orang tua,tak ayal jika dia mempunyai Ibu yang baik dan bijaksana.
.
.
Malam sudah semakin gelap, keluarga itu berbagi tugas untuk berjaga.Ara dan Fandi menjaga Daffin sedangkan Hafi menjaga Mita sendirian.
Ibu Dalilah dan Mina di ajak pulang ke rumah utama Brahmana.Meski awal nya menolak,tapi terpaksa menerima karena esok hari akan kembali ke rumah sakit.Jika di rumah utama banyak para asisten yang membantu mengasuh Mina,akses ke rumah sakit pun jauh lebih mudah.
Setelah makan sore dan meminum obat,Mita tak juga memejam kan mata nya.Matanya terus terjaga,padahal Hafi sudah tertidur di sebelah nya dengan posisi duduk dan menyembunyikan wajah nya di antara lengan yang terlipat di ranjang Mita.
Tanpa sadar tangan Mita reflek mengusap rambut Hafi,hingga empunya merasakan sapuan lembut pada kepala.
Dia membelai rambut ku? Ternyata kau gadis yang lembut,hanya saja keadaan yang menuntun mu untuk kuat.
Masih dengan posisi yang sama,namun dirinya bergumam dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
to be continue