
"Hafi!!!..."
"Hafi!!!..."
"Hafi!!!..."
Suara Mita berteriak,Hafi meninggal kan dia sendirian di depan pintu.Mengambil sapu untuk membuka kardus.Namun nahas sekali.Tiba-tiba dari arah beranda depan ada seseorang mendekat dan menarik tangan Mita, hingga Mita terseret.
Hafi langsung berlari,mengejar.Beberapa luka di pipi,siku,dan kaki mulus Mita terlihat sedikit berdarah dan lebam karena benturan keramik.
Meski berhasil mengejar,namun pelaku juga berhasil lari dan meninggalkan Mita yang tergeletak di lantai.
Menggendong dan membawa ke dalam Appartemen.Bola mata Hafi hampir saja keluar tatkala melihat boneka yang dilumuri darah tergeletak di sana,bukan hanya itu saja.Beberapa foto-foto dirinya dan Mita juga berhamburan di sana.
"Fi?" Mita juga terkejut,tangan nya semakin erat melingkar di leher Hafi.
"Kau tunggu di kamar dulu ya,aku akan membersihkan nya!"
Mita menggeleng cepat mendengar ucapan Hafi.
"Aku takut Fi!"
"Tunggulah dikamar terlebih dahulu,nanti aku akan menyusul"
Mita tetap menggeleng "Aku takut mereka bersembunyi di sana saat kau meninggalkan ku"
Hafi menghela nafas panjang,akhirnya dia mengecek semua ruangan dengan Mita yang masih di gendongan.
Meletakkan Mita di kasur yang sangat luas.Hafi mencium ujung kepala Mita.
"Hanya sebentar aku janji!" Mita mengangguk dan bersandar di papan ujung ranjang.
Hafi melangkah keluar kamar tanpa menutup nya, membersihkan foto yang berserakan,boneka yang berlumur darah.
Sekali lagi membuka pintu memastikan,melihat kamera monitor ternyata ditutup dengan plastik hitam legam.Ia pun membuka nya,dan kembali lagi masuk menutup pintu.
"Hafiii!!!!!
Suara Mita sangat keras,Hafi yang mendengar langsung berlari menghampiri Mita.Terlihat gadis itu diam di atas kasur dengan selimut yang sudah menutupi tubuhnya yang meringkuk.
Menghampiri.Mita langsung memeluk Hafi,tubuhnya gemetar,pucat.Seperti orang trauma atau ketakutan.
Menenggelamkan wajah nya di dada Hafi.
"Hai,kau kenapa?!"
Bukan menjawab,Mita menggeleng cepat,nafas nya memburu dan mata nya tidak fokus.
"Paramita Berliana,dengar!Ini aku Hafi,kau bersama ku,kenapa?Ada apa?"
Mita menunjuk ke arah sebelah kiri Hafi,jendela balkon terbuka.Merasa mempunyai filling yang tidak enak.Hafi berjalan cepat membuka dan keluar dari sana,tidak ada siapa pun,namun hanya bekas tapak sepatu.
Bukan sepatu milik Hafi,karena dia belum ke sana.
__ADS_1
Hafi menutup lagi jendela dan gorden,mengunci dan memeriksa semuanya.Mulai mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
"Ceritakan dengan pelan kepada ku,kau kenapa?"
Mita mulai menceritakan.
Beberapa menit yang lalu Mita merasa mengantuk dan merebahkan dirinya,menunggu Hafi yang sedang membersihkan ruang tamu.
Namun seseorang masuk lewat jendela balkon,susah di mengerti memang.Berada di lantai sebelas, bagaimana mungkin ada seseorang mengendap masuk lewat sana.
"Aku takut Fi,temani aku disini saja!.."
Husssst!.. Hafi mencoba menenangkan.
"Apa mereka menyentuh mu?" Mita mengangguk.
"Berapa orang?" Mita hanya memberi tahu lewat jari,jari tengah dan telunjuk,yang berarti dua.
"Bagian mana yang mereka sentuh?" Mita menyentuh bagian leher,dan pinggang.
Mendengar itu,Hafi terpejam.Kedua orang yang disebut Mita ternyata menginginkan Mita.Bukan dirinya,dan Hafi sudah tahu siapa mereka.
Hafi mengangkat tubuh Mita menuju toilet,masuk ke dalam bersama,dan meletakkan Mita di atas closet.
Menyalakan shower, Hafi membasahi rambut bagian belakang Mita hingga kebawah.Mita masih memakai pakaian yang lengkap.
"Hafi sudah!!" Nafas Mita tersedak saat dirinya sadar dibuat basah kuyup oleh Hafi.Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
"Mandi, bersihkan dirimu pelan-pelan! Seseorang telah menyentuh mu!" Mendengar itu,Mita sedikit perasaan,Hafi ternyata menganggap dirinya sesuatu yang kotor karena di sentuh oleh orang lain.
Hafi keluar dari walk in closed dan menghampiri Mita,tangan nya terulur.
"Mau apa?!" Tangan Mita memegang Badrobe yang menutupi dada nya.
"Gantilah,mungkin akan kebesaran di tubuhmu,tapi paling tidak bisa melindungi mu"
Mita mengangguk "Kenapa masih di depanku?" Mata nya aneh melihat Hafi yang belum bergerak dari hadapan nya.
"Bukan kah kau takut jika di tinggal sendirian?"
"Tapi aku akan mengganti baju fi,malu !"
"Aku sudah pernah melihat dan memegang nya,kenapa harus malu"
Mita berdecak kesal "Balikan badan mu jika pergi dari sini tidak mau!"
Hafi membalikan badan,Mita yang berganti dengan pelan namun tepat.
"Sudah!"
Hafi berbalik dan melihat Mita.Meski kemeja Hafi terlihat kebesaran,namun Mita yang memakai nya,hingga Hafi tersenyum tipis.
Hafi menggendong kembali ke ranjang, di letakkan di say,lalu Hafi meraih ponsel.
__ADS_1
Beranjak dari ranjang dan mengobrol sesuatu dengan orang di sebrang sana.Terlihat serius hingga Mita yang sudah mengantuk,perlahan mulai memejamkan mata.
"Iya Ok.Lakukan pagi ini juga.Tanya Mamah jika ingin mencari berkas-berkas ku!"
Sepenggal obrolan Hafi dan Riza.Hafi yang memutuskan sesuatu untuk besok,dan Riza yang bertugas untuk memuluskan jalannya.
.
.
Hafi kembali ke kamar dan menyelimuti Mita,jam si dinding menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit.Mata nya tidak tahan.Mengecek semua gorden dan mengancing jendela.
Pintu di kunci dari dalam.Hafi yang tahu Mita tidur dengan nyenyak.Hanya mengusap pipi Mita yang mulus.
Melangkah dari sana,Hafi merebahkan diri nya di sofa.Tubuhnya sangat lelah,hingga tak lama dia tertidur pulas.
.
.
Riza yang beberapa saat lalu mendapat telfon dari Hafi dan menceritakan runtutan kejadian di Appartemen.
Saudara kembar nya pun segera bergerak.Tidak perlu mencari tahu siapa yang meneror dan menginginkan Mita, semua sudah jelas Dito adalah dalang dari semua kejadian.
"Bagaimana Za?"
"Bagaimana apa Pah?" Riza mengerutkan kening,melirik Papah nya yang baru saja membuka pintu dan masuk.
"Mita..siapa lagi!!"
"Anak sendiri tidak di khawatir kan?"
Gulungan kertas kecil dilempar oleh Fandi ke kepala Riza "Dia laki-laki,Mita perempuan.Untuk apa Papah menanyakan Hafi.Papah lebih mengkhawatirkan calon mantu!"
Riza memutar bola mata jengah, Papah nya selalu saja begitu perihal tentang kesayangan.Perdana akan memiliki mantu, seantusias itu Fandi.
"Sudah selesai semua, tinggal pelaksanaan saja besok.Masalah teror,Jika Dito sampai melewati batas.Aku yang akan meladeni nya Pah"
"Mita,apakah dia terluka?"
"Hanya luka karena terseret Pah, sebentar juga sembuh!"
Fandi mengangguk mendengar nya "Mamah tau Za?"
Riza menggeleng "Tidak,besok saja!"
"Terserah kalian saja.Papah percayakan mengurusi semuanya kepada mu! Kepada Kalian anak-anak Papah Mamah.Termasuk keluarga Mita"
Riza mengangguk paham.
.
.
__ADS_1
.
to be continue