TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 75 Dito - Vito


__ADS_3

Membuat janji temu dengan Vito adalah jadwal pertama yang harus di laksanakan pagi ini.Ricko hampir saja pusing dibuat oleh kedua bos nya.


Kedua nya sama saja menyebalkan dan selalu membuat acara mendadak.


Setelah Riza yang menelfon untuk menggantikan nya meeting karena ada sesuatu dan dia harus pergi ke luar kota.Hafi pun sama saja dengan nya,menelfon untuk meng cancel semua pertemuan pagi ini karena ingin bertemu dengan Vito.


"Aku ikut ya ?"


Hafi seketika terdiam dan berhenti mengancingkan lengan bajunya.Tapi Mita meraih dan meneruskan mengaitkan kancing lengan Hafi.


"Untuk apa? Biar aku saja!"


"Memang kamu tahu? dia bisa saja membicarakan Mina dan ingin merebut nya dariku.Jika ada aku,aku bisa mengelak nya Hafi.Mas Vito itu sedikit licik!"


Hafi memejamkan mata mendengar Mita menyebut Vito dengan panggilan mas.


Bergeser dan duduk di sofa bed,keduanya saling berhadapan.


"Kamu istriku,bisa tidak memanggil ku dengan sebutan yang lain.Telinga ku sakit jika kau menyebut Hafi atau Fi saja,sedangkan dengan Vito kau menyebut nya Mas Vito,terlalu romantis!!" Hafi pun memutar bola mata nya jengah.


Mita terdiam,mata nya masih jelas memandang orang di sebelahnya.


"Maaf jika menyakitimu! Tapi aku bingung harus memanggil mu apa?"


Hafi pun berdecak kesal,dan menatap istrinya.


Aku hampir setiap hari mencintai mu,dan itu semakin banyak dan terus bertambah.Tapi kamu seperti ini.


"Maaf.. Nanti aku akan fikirkan panggilan untuk kamu!"


"Kapan? Kita menikah sudah hampir enam bulan.Nanti ketika anak kita lahir dia juga memanggil ku Fiii bagaimana?"


Mita terkekeh dan memukul lengan Hafi "Itu tidak mungkin.Dia akan aku ajari memanggil mu Ayah seperti Mina!"


Suaminya pun menghela nafas,Wanita di depan nya lain dari pada yang lain.Tidak suka di gombal dan selalu berekspresi sesuka hati nya.


"Aku ikut ya?" Mita mengulangi permintaan nya kembali.


"Sebenarnya tidak boleh,dan aku tidak ingin kau di pandang aneh oleh Vito,aku tidak suka cara memandang mu! Dia sepertinya sedikit genit!"


"Nanti aku pakai karung biar tidak terlihat,dan hanya kepala ku saja yang nampak!"


Hafi terkekeh mendengar,istrinya berfikir itu adalah lelucon.


"Gantilah pakaian mu,tidak usah make up begini saja!"


"Mana bisa?"


"Bisa!!!"

__ADS_1


"Pakai lipstik sedikit ya?"


"Sedikit saja,aku tunggu di mobil.Jangan lama-lama dan turun dari lift ya?!"


Mita pun akhirnya mengangguk dan melengkungkan bibir tipisnya.


.


.


.


Bukan lagi beberapa menit,Hafi di paksa menunggu hingga hampir satu jam karena Mita yang bingung memakai baju.


Midi dress yang berlengan semua nya sudah sempit di bagian lengan,dada,dan perut.


Lagi-lagi dia memakai dress yang tak berlengan,dan memakai bolero,tapi Hafi cukup tenang karena kali ini dress nya panjang sampai betis.


Mendekat dan membuka ikatan rambut Mita.


"Begini saja! Aku tidak suka leher jenjang mu terlihat oleh orang lain!"


Mita menghela nafas,sudah menduga suaminya akan protes tentang itu.


"Besok aku akan memakai jilbab saja ya Fi!"


"Itu lebih bagus!!"


"In syaa Allah!" Timpal Mita kembali.


Mereka mulai menyusuri jalanan,bergabung dengan pengendara lain, bermacet-macetan di sana.


Hafi membuka layar ponsel kala traffic light.Mata nya memicing saat membaca pesan dari Ricko.


"Vito menyuruh kita untuk ke rumah nya!"


Seketika Mita menoleh dan memegang lengan Hafi.


"Pulang sekarang Fi! Aku tidak mau tanpa seorang pun mendampingi kita!"


"Memang kenapa?"


"Mas Vito bukan orang biasa,dia bisa membalas perbuatan mu kemarin!"


"Aku tidak takut,Dia pasti tidak akan melukai kita.Tenang lah Mita,kita bermaksud untuk meminta maaf kan?"


Mita sudah sangat cemas,menggoncang beberapa kali lengan suaminya,dan memohon untuk putar arah.


"Iya,mungkin dia tidak akan menyakiti ku,tapi dia pasti menyakiti mu Hafi!"

__ADS_1


Air matanya mulai menetes.Mita sudah tidak tahu lagi dengan cara apa untuk menghentikan niat Hafi yang sudah bulat.


Mobil sudah memasuki kawasan perumahan elit.Hanya beberapa rumah saja di sana,namun rumah Vito hampir menghabiskan tanah di sana.Vito memang benar bukan dari kalangan biasa,atau pun konglomerat biasa.Depan gerbang nya saja di jaga oleh lebih dari tiga penjaga.


Mita melihat ke depan sebelum mereka turun.


"Ini rumah siapa?"


Hafi melihat sekali lagi pada layar ponsel nya


"Ini alamat yang sesuai dengan isi pesan Ricko.Ayo turun lah sayang!"


Mita menggeleng "Tetap lah di sini dan kita bisa putar balik,kita tidak harus masuk Fi.Harusnya kamu bercerita dengan papah dulu tadi!"


Hafi menangkup pipi istrinya "Tenang lah,suami mu ini sabuk hitam.Jadi jangan kuatir!"


"Aku mengkhawatirkan dia juga, bagaimana jika nanti terjadi sesuatu dengan ku juga,dengan dia juga,kita masih punya kesempatan untuk pulang!" Mita terus merengek meminta putar balik dan pergi dari sana.


"Dengar kan aku,jika sesuatu terjadi dengan ku! Carilah tempat untuk mu bersembunyi dan keluar dari sini.Kita bermaksud ke sini untuk meminta maaf dengan cara baik-baik.Dia pasti mengerti itu!"


Mita menggeleng "Mas Vito masih saudara jauh dengan keluarga Dito,kenapa mereka tahu asal keluarga ku,karena Mas Vito lah yang pernah bercerita dengan Dito,tapi aku samasekali tidak tahu tentang Sharena!"


Wajah Hafi berubah "Maksud mu,kamu tahu siapa Dito sebenarnya.Kenapa baru menceritakan nya kepada ku?"


Mita kembali menggeleng "Karena aku tidak mau masa lalu dan keluarga ku terungkap!"


"Ya Tuhan Mita! Ternyata aku tidak mengenali mu sama sekali!"


"Aku mohon pulang sekarang,putar balik dan cepat pergi dari sini.Ini bukan rumah Mas Vito!"


Hafi merasa bingung dengan situasi ini.Istrinya bahkan lebih tahu siapa Dito dan Vito.Lalu bagaimana masa lalu sebenarnya keluarga Mita.


Akhirnya Hafi memutar balik setir nya.Namun nahas, seseorang di depan pintu sudah mengetahui nya lebih dulu,dan mencoba berlari mengejar nya.Tapi mobil Hafi lebih cepat dari pada itu.


.


.


Dengan bersusah payah Hafi menyetir dan berhasil pergi dari kawasan elit itu.Mita merasa sedikit lega,namun sayang itu hanya beberapa menit.


Dua mobil terlihat dari spion mengejar mereka.Hafi pun kalang kabut membawa mobilnya dengan kecepatan yang bertambah.


Mengusap perut Mita,dia sangat khawatir dengan keadaan istrinya yang terus mencengkram pegangan di atas nya.Pengaman sudah di pasang dan meletakkan bantal yang selalu ada di mobil,Hafi letakkan itu di depan perut Mita.Berupaya untuk melindungi calon anaknya.


Kedua mobil itu sangat cepat,dan berhasil memepet mobil Hafi.Kini tangan Mita terpaut bergenggam erat dengan Hafi,ketika lampu merah dan mobil di belakang nya terus mendorong menggiring mobil Hafi untuk menerjangnya.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2