TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 81 Pergi bersama


__ADS_3

Pagi hari,Mita terbangun sebelum subuh.Meraba sebelahnya yang kosong.Mata nya langsung terbuka lebar dan menoleh di bantal sebelahnya.


Benar,dia merasakan tidak ada suami nya di sebelah saat dia tidur.Dan tak terdengar pula seseorang membuka pintu.


Atau aku yang tertidur sangat nyenyak?


Mita menegakkan tubuhnya.Hati nya pun menceleos dengan situasi sekarang.Tidak menelfon dan tidak mengabari.


Hafi benar-benar keterlaluan.Aku sakit dan dia tidak pulang,kerja terus udah kaya orang kurang duit aja!


Mata nya mengembun,menggenang air mata.Mengangkat tubuhnya dan beranjak dari sana.Mencuci muka di wastafel,Mita ingin sekali ke bawah,dia ingin tahu Hafi tidur dimana sebenarnya.


Membuka pintu,dan bersandar di balkon.Mata nya memicing melihat koper ada di bawah,namun tidak jelas siapa yang berdiri tak jauh dari sana,karena tertutup dinding.


Mita pun mulai mendekati tangga bermaksud untuk turun.Langkah demi langkah dia tapaki,hingga dia tahu tangan seseorang meraih koper dan mulai menariknya.


"Hafiiii....!" Mita memanggil dengan berteriak.Berlari menuruni tangga.


Hafi menoleh,suara istrinya sangat dia kenal.Ingin berbalik namun pasti Mita akan semakin menahan nya pergi.Langkah Hafi di percepat.


Mita yang tahu itu mengerutkan keningnya.Bukan berhenti Hafi bahkan terus berjalan membawa koper.Hingga Mita terjatuh dan ter pentok lantai.


"Awww...!"


Hafi yang tahu itu langsung mendekat.Dan membalikan tubuh istrinya.


"Sayang,Ya Tuhan kenapa?"


Mita mendongak dan langsung memeluk Hafi di depan nya.Menangis sejadi-jadinya,Mita memeluk erat tak mau terurai.Ternyata kepergian Hafi tadi hanyalah mimpi.


(Sabar ya reader 🤣🤣)


Hafi yang tahu istrinya menangis dengan sesenggukan memeluk erat dan mengusap punggungnya.


"Heii kenapa? Kenapa menangis?"


Mita masih menyembunyikan wajahnya di dada,dia pun menggeleng.


"Kamu mimpi?" Mita mengangguk.


"Mimpi apa?"


"Kamu pergi,membawa koper.Lalu aku sudah berusaha menahan nya,tapi bukan tidak jadi,menoleh saja kamu tidak mau!" Mita menyusut cairan di hidungnya.


"Kamu manja,takut ya di tinggal.Dan maaf aku memang akan pergi,tuh koper nya!"


Mita menoleh di sisi yang tak jauh dari nya,mata nya membulat.


"Kamu bohong kan?"


"Serius! "


Mita membulatkan matanya, menatap suami di depan nya.Berdiri dari sana dan menghempas tangan Hafi.


"Sayang?"

__ADS_1


Hafi mencoba meraih tangan Mita,tapi istrinya beberapa kali menghindar.


"Mita.. Mita..."


"Pergi sana, tidak usah kembali!"


Blum!!! Menutup pintu kamar mandi dengan keras Hafi di buat menggeleng dengan tingkah laku Mita.


Air terdengar gemericik dan di pastikan Mita sedang membasuh muka.


.


.


Melihat pantulan di cermin,seketika dia baru sadar ucapan Hafi tadi.


"Pergi,dia benar akan pergi?"


Berjalan cepat membuka pintu kamar mandi lalu meraih handle pintu kamar nya.Mita teringat mimpinya,sudah tidak ada koper lagi di dalam kamar.


Apa mungkin benar akan terjadi?


Mita menggeleng,dan keluar dari sana.Saat akan kembali menutup pintu,tangan nya di tarik dari dalam.


Membenturkan tubuh istrinya di tembok.Hafi mengunci pergerakan Mita.


"Mau kemana?" Mita membulatkan mata.


"Ka-kamuu,tidak jadi pergi?" terus berkedip menunggu jawaban Hafi.


Hafi mengangguk "Aku akan pergi...".


Telinga Mita tidak salah mendengar,suaminya memang benar-benar akan pergi.Hafi pun mendekatkan bibir nya ke telinga Mita.


"Tapi dengan mu!"


"Hah?!...." Mita seketika mendongak dan mulutnya menganga.Hafi pun mencuri cium di bibir nya.


"Aku akan pergi dan membawa mu di sana.Bersiaplah,waktu ku tidak banyak.Barang-barang mu semua sudah aku siapkan,tiket pesawat yang kemarin Ricko pesan sudah di ganti dengan yang baru.Kita akan kesana bertiga bersama Ricko.Tapi tidak sekamar,karena aku takut jika dia iri melihat kita!" Hafi melengkungkan bibirnya.


Mita yang masih bersandar di tembok sedikit tidak percaya.Pergi keluar kota,perjalanan dari sini ke tempat tujuan bisa dua atau tiga jam di udara.


Bukan hanya satu,dua,atau seminggu di sana.Tapi hampir dua bulan.Apa dirinya bisa setahan itu menemani Hafi bekerja sementara dirinya menunggu di hotel.


Aceh.Tiba-tiba Mita berfikir sesuatu tentang kota itu.


Kira-kira di sana ada temen ku tidak ya,coba saja ada yang tau-tau menganggap saudara di sana.Jadi aku tidak bosan nantinya.


Bukan segera bersiap,Mita malah terdiam memikirkan ucapan suaminya.Dia pun mendongak melihat Hafi.


"Kamu serius mengajak ku?"


Hafi mengangguk "Ya.."


Banyak kemungkinan yang terjadi di sana dan Mita sedang memikirkan itu.Menolak nya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.Sedangkan ikut...

__ADS_1


Kira-kira aku bisa mati kebosanan tidak ya di sana?


"Mau ikut tidak?Aku di sana lebih dari dua bulan.Jika tidak ikut dengan ku,jangan salahkan ku jika nanti a..."


"Iya aku akan bersiap!"


Menyingkirkan tubuh besar suami nya,dan langsung memilih baju.Mita hanya berganti baju tanpa mandi pagi.Bahkan ucapan suami nya saja tadi terpotong.Hafi tersenyum tipis melihat tingkah istrinya.


.


.


Menyandarkan kepala di bahu Hafi,tangan Mita berada di lengan Hafi.Bersandar dengan nyaman di kursi penumpang.Ricko di depan dan mereka di antar oleh Pak Sup.


Ara dan Fandi beberapa saat lalu di pamiti dan mereka sangat senang mendengar alasan Hafi membawa Mita pergi bekerja di luar kota.Lagi pula selama ini mereka belum pernah bilang madu sama sekali.


"Nanti jika sudah di sana jangan terlalu lama meninggalkan ku di Hotel ya?"


Mendengar itu Hafi menoleh pada istrinya.Dia pun tersenyum.


"Kalau kalian lama-lama,aku bisa mati karena bosan di dalam kamar!"


Ricko melihat dari kaca dalam interaksi bos dan istrinya.


"Di jawab dong,jangan senyum terus Hafi!!" suara Mita jadi lebih keras dari sebelumnya.


Hafi masih tersenyum "Kamu tidak akan bosan di hotel!"


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Nanti lihat saja sendiri hotel nya.Mungkin jika kamar Ricko kamu bosan,tapi ini bukan!"


Mita menegakkan kepalanya.Melihat Ricko sekilas.


"Pak Ricko,kenapa tidak Riza saja yang ditugaskan ke sana?"


Ricko melirik dengan ekor matanya "Maaf,Pak Riza terlalu banyak urusan pribadi jadi di gantikan Pak Hafi!"


Mita menghela nafas nya.Mereka memang harus seperti itu.Bergantian dan tidak boleh mengeluh pekerjaan satu dan yang lain nya.


Tak lama mobil berhenti di pelataran Bandara, seseorang petugas mendekat untuk membawa koper mereka terutama Hafi dan Mita,begitu juga Ricko.


Berjalan di belakang bosnya,Ricko terus bergerak dan tangan nya membuka iPad di tangan nya.


Tanpa sengaja ketiga nya memakai kaca mata bersama.Langsung ke area lepas landas dan memasuki pesawat.


Beberapa menit berlalu,pesawat mulai bergerak.Mereka di dalam nya mulai menikmati penerbangan nya.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2