
Bukan rumah yang Hafi tuju,melainkan kantor Brahmana.Menyetir dengan sangat kencang,hingga Mita menarik nafas panjang.Rasa kram pada perut nya mulai terasa.Namun dia hanya bisa menahan karena suaminya tak mendengar sedikit pun ucapan Mita.
Ricko yang sedang di lobby di kejutkan dengan kedatangan bos nya yang berwajah merah,menahan amarah.
"Selamat pagi menjelang siang Bu!"
Mita hanya mengangguki tanpa berucap apapun.
Hafi melangkah masuk ke ruang meeting dan duduk di sana.
"Ricko,tolong gantikan semua jadwal ku!!" Ricko pun mengangguk dan keluar dari sana.
Mita dengan paniknya,sudah duduk di sofa yang ada di ruang meeting.Kursi nya tak jauh dari Hafi.
Prang!!! Sebuah vas bunga terjatuh,dan Mita tau itu di sengaja oleh Hafi.
"Katakan apa maksud nya tadi?!" Mata Hafi nyalang melihat istrinya.
"Dia Mas Vito.."
"Mas?..kau memanggil nya mas?.. Ada hubungan apa kalian dan sudah sejauh mana?!"
Mita mengangguk "Maaf,aku tahu aku tidak ijin dengan mu,tapi aku sudah berusaha menelfon mu dan tidak di jawab!"
"Aku tanya,apa hubungan mu dengan nya?"
"Mas Vito adalah ...."
Ponsel Mita berdering,dia pun merogoh tas nya dan melihat siapa penelpon.
"Siapa?.." Hafi mendekat dan melihat.
"Hallo..." Namun sayang panggilan di matikan oleh Vito di sebrang sana.
"Apa dia tahu aku yang menjawab dan langsung mematikan nya? Mita,kau sudah membuat ku kecewa dengan ini.Kau bermain hati dengan lelaki lain.Dan aku tahu semata-mata.Apa aku harus menceraikan mu sekarang?"
Mata Mita membulat "Kau salah sangka Fi!.. Mas Vito Papah kandung Mina! Suami mbak Fadila!"
Hafi terdiam mendengar nya.Mendudukan lagi tubuhnya,dia pun menghela nafas panjang.
"Jika tidak percaya,kau boleh tes DNA mereka.Mas Vito hanya ingin bertemu dengan ku membicarakan hak asuh Mina,namun cara nya yang salah!" Bibir nya terus saja berucap,namun Mita masih menahan sakit di perut nya.
"Mas Vito menginginkan Mina.Memang awalnya aku yang mencari tahu alamat dan nomor yang bisa dihubungi,karena aku ingin meminta pertanggung jawaban atas mbak Dila.Dan asal kamu tahu,aku tidak pernah tertarik dengan lelaki lain sejak dia ada di sini!" Mita menunjuk perut nya dan mencoba bangun dari sofa.
"Permisi,aku mau pulang!!"
__ADS_1
Mita berjalan meraih handel pintu,namun tubuhnya di peluk dari belakang oleh Hafi.Suaminya menahan dia pergi.
"Aku mau pulang saja!"
"Nanti,pulang bersama ku.. Kamu tidak cerita dan aku tidak tahu tentang itu,aku minta maaf!!"
"Urus perceraian nya jika kau masih kecewa dengan ku!Aku tunggu di rumah!" Mita melepaskan tangan Hafi dari tubuhnya.
"Mit..Mitaa..." Mita tetap saja berjalan keluar dari room meeting.
Hafi masih menahan dan memegang tangan nya.
"Mitaa,jika kamu menceritakan dari awal aku tidak securiga ini.Tolong lahh jangan seperti ini!"
Aksi kejar-kejaran itu dilihat berpuluh mata,mayoritas dari mereka yang bekerja sedang berlalu lalang di sana.
Hingga sampai depan gedung,tangan Mita di tarik karena hampir saja mobil menyentuh dirinya.
"Maaf Pak!" Seseorang di dalam sana,menyesal.Karena Mita yang tiba-tiba keluar dari gedung.
"Lain kali hati-hati!!!"
Memeluk istrinya dan mengusap punggung Mita.Mita pun merasa dada nya berdetak lebih cepat.
Mengurai pelukan, Hafi menangkup kedua pipi Mita.
Mata Mita mulai mengembun,menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Kita ke dalam lagi ya,kamu bisa istirahat di ruangan ku!"
Mita menggeleng "Aku ingin pulang.Perut ku sakit!"
Hafi menggandeng Mita dan masuk mobil.Duduk berhadapan dengan istrinya.Kedua tangan Hafi memegang perut Mita yang mulai membuncit.
"Masih sakit tidak?" Hafi mengusap nya,dan Mita hanya mengangguk.
"Apa merasakan sesuatu?" Mita menggeleng.
Dengan sigap menarik sesuatu di bawah kursi,lalu jog Mita menjadi posisi berbaring di sana.Tangan Hafi menyibak mini dress tanpa lengan yang Mita pakai.
"Mau apa,ini di mobil?!!" Mita mencoba bangun tapi tidak bisa karena Hafi menahan nya.
"Aku mau lihat di sana,apa dia baik-baik saja atau tidak!!" Dengan gerakan yang cepat Hafi membuka kain segitiga,dan membuka lebar kaki Mita.
Mita yang tahu itu hanya menutup mata dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Sudah aku malu! Nanti di lihat orang dari depan!"
"Tidak,ini kaca hitam dan tidak mungkin terlihat dari luar!"
Hafi menyentuh milik istrinya.Mita yang tahu itu pun menggigit bibir bawahnya.Suaminya pun melirik.
"Tidak ada flek,apa masih sakit?!"
Mita menggeleng,dan melihat sorot mata Hafi.
"Kita ke rumah sakit saja ya?!"
Mita pun menganggukki,membenarkan lagi pakaian Mita,Hafi pun Melajukan mobil nya kembali.
Membiarkan Mita berbaring,dan menggenggam tangan nya erat.
"Aku tidak suka Pak Vito memegang mu seperti tadi!! Terlebih lagi lengan mu polos tidak memakai apapun!"
"Tidak usah di bahas lagi,nanti kau harus minta maaf pada nya!Aku tidak mau keluarga menyimpan kesalahan padanya dan berakhir seperti hutang Budi.Aku tidak suka,terlebih lagi aku tidak mau suatu saat nanti di ungkit! Apalagi nanti meminta Mina dari ku.Jangan harap!"
"Iya Nanti.. tapi janji,jangan kemanapun sebelum meminta ijin kepada ku dan dengan ku.Aku tidak mau hal seperti tadi terulang kembali.Aku sudah curiga dari semalam dan tadi pagi!"
Mita menoleh pada suaminya "Kamu tahu?"
Hafi pun mengangguk "Tentang kamu menelfon pagi-pagi buta di balkon? Aku masih mendiamkan karena menunggu mu bercerita,tapi tetap saja tidak!"
Tiba-tiba Mita mencengkram lengan Hafi "Kau juga kenapa, katanya ke luar kota tapi nyata nya tidak?!"
Suami nya terkekeh "Kamu nakal Mita! Mentang-mentang aku keluar kota,lalu kamu berniat untuk pergi dan bermain di luar rumah?!" Hafi menjewer telinga Mita.
"Isshhh sakit!"
"Jangan di ulangi! Apapun itu,bercerita lah dan tunggu aku.Aku tidak mau suatu terjadi padamu dan pada nya!!" Hafi mengusap perut Mita lembut.
Kedua nya saling pandang,dan tersenyum.Kekesalan dari kesalahan memang harus nya di selesaikan saat itu juga. Tidak baik jika terlalu lama dan berkepanjangan.
Terlebih lagi jika sampai pisah kamar.Hafi karena cinta nya yang terlalu besar kepada Mita.Apapun akan dia lakukan asal Mita selalu bersama nya dan di samping nya.
Entah itu kesalahan apapun,dia yakin Mita juga sama dengan nya.Perasaan nya mungkin lebih dalam,tapi kembali lagi.Itulah Mita yang bisa menyembunyikan perasaan nya.Hanya tingkah laku saja yang bisa membuktikan cinta nya.
.
.
.
__ADS_1
To be continue