
Tugas Hafi menjelaskan itu sangatlah benar.Seketika Mita terdiam saat tau Galina Ayu adalah istri Riza.
"Suatu saat kau akan bertemu dengan nya!"
Mita mengangguk tanda dia mengerti dengan situasi yang Riza rasakan hingga pernikahan nya harus tertutup rapat.Termasuk Mita yang baru mengetahui itu.
"Maaf,aku tidak tahu!" Mita dengan wajah sendu nya memohon pada Hafi.
"Iya,tidak apa-apa.Aku juga minta maaf karena meeting dadakan dan tidak menjemput mu." Hafi memeluk Mita,dan terus mengusap perut nya.
"Pasti mereka sangat menyusah kan mu kan, kamu harus membawanya hingga lantai sembilan belas"
Mita tersenyum "Tidak, mereka hanya sebentar sekali nakal karena bunda nya tadi sangat terkejut"
"Lalu sekarang?"
"Ayah nya menenangkan nya,dan mereka pun kembali pintar!"
Hafi menunduk mencium perut Mita,beberapa kancing baju Mita ia lepas,dan sangat terlihat perut yang semakin menipis dan besar.Pusar Mita juga semakin terlihat keluar.
Melihat perut istrinya yang gemas,Hafi beranjak dan mengunci pintu.Mita sudah tahu akan dibawa kemana setelah ini.Namun dugaan nya salah ketika Hafi kembali duduk di sebelahnya.
Mengangkat kaki Mita,dan membuka seluruh kancing baju,menurunkan sedikit celana.
"Aku ingin melihat bentuk perut mu semuanya!"
Mita tersenyum mendengar itu,dia tidak mau melakukan di tempat yang sempit karena pergerakan nya sudah sangat susah dan Hafi sering mengalah jika dia sedang ingin.Demi kenyamanan Mita, Hafi sering melakukan dengan gaya yang berbeda.
.
.
.
Melihat pada layar USG,Mita dan Hafi mengembangkan senyuman.Anak-anak nya sangat sehat,dan sangat jelas terlihat mereka boy and girl.
"Hidungnya mancung ya ,sama seperti papah nya"
"Ayah dok,ayah bukan papah!"
Dokter disana pun tersenyum mendengar ucapan Mita.
.
.
"Lain kali jangan begitu sayang!"
__ADS_1
"Jangan begitu apa?"
Mereka sudah ada di mobil untuk pulang,Hafi mencoba menegur istrinya tentang panggilan papah atau pun ayah.
"Papah sama Ayah itu sama,biarkan dokter berucap seperti itu.Mau satu dunia bilang aku papah anak-anak,Anak ku tetap memanggil Ayah.Kamu tenang saja!"
Mita mendengarkan dan tetap melihat ke depan.
"Maksud ku,aku tidak ingin nanti anakku mendengar panggilan itu dari orang lain lalu memanggil mu Papah!"
"Sekalipun itu terjadi,aku sendiri yang akan mengajarkan pada nya.Kamu tenang lah!"
Hafi mengusap pipi Mita,mencoba menenangkan.Sering kali wanita hamil akan sensi dengan ucapan yang sedikit menyindir nya walaupun Hafi tidak bermaksud seperti itu.
"Kita ke banana bakery ya.Kamu ingin beli apa?"
"Nanti coba lihat dulu ada apa aja!"
Suaminya mengangguk melanjutkan perjalanan.
Hari sudah semakin sore, matahari pun sudah mulai masuk ke peraduannya.Mita dan Hafi baru saja sampai,kereta besi nya melewati pintu gerbang dan langsung di sambut Mina yang menangis.
Mita melihat itu,mengerutkan keningnya.
"Kenapa Mina mbak?" Tanya Hafi yang sedang membukakan pintu untuk Mita.Mengambil kursi roda di bagasi belakang.
"Kamu duduk saja sayang!"
"Sini nak?!" Mina beralih di gendongan Hafi,mbak Sri pun mengambil alih kursi roda Mita dan mendorong nya.
Mereka bersama masuk ke dalam rumah.Mina yang berada di gendongan Hafi terdiam dan masih terisak.
"Kenapa cucu Oma?" Di ambang pintu ada Ara yang baru saja menyalakan lampu-lampu.
"Cakit!"
"Maaf,saya tidak sengaja memotong kuku Mina dan mengenai dagingnya"
Mbak Sri menunduk, sebenarnya bukan hal yang pertama kali.Hafi,Ara,ataupun Mita tidak pernah menyalahkan Mbak Sri.Keaktifan Mina saat ini memang membuat Mbak Sri yang kadang kala merasa kualahan.
"Coba Bunda lihat Mina!"
Hafi mencondongkan gendongan nya,dan Mita melihat luka yang hanya sedikit karena sudah di olesi minyak oleh Mbak Sri.
Mengulum jari mungil Mina,gadis balita itu pun tersenyum setelah nya.
"Bimsalabim,sembuh!" Mita lalu meniup jari Mina.
__ADS_1
Dan benar saja Mina terkekeh akan hal kecil yang dilakukan Mita.
Semua yang di sana kembali tertawa,termasuk Ara.Beliau bahkan geli melihat kelakuan Mita dan cucu nya.Hafi yang tahu itu tersenyum bahagia.
"Kau tahu Fi,dulu Oma mengira mamah mempunyai anak saat baru menjalin hubungan dengan Papah mu.Ternyata benar,sebahagia ini mempunyai cucu.Meski bukan kandung,namun Mita sangat pintar mengasuh Mina,dia sangat menggemaskan!"
Mita yang mendengar itupun tersenyum dan berterima kasih pada Mamah mertua nya.Jika di sanjung membuat dirinya besar itu salah.Mita sering kali di junjung namun tetap biasa saja.
Hafi pun mencium kening Mita,namun setelah itu Mina menutup bibir Ayah nya dengan tangan.
"Hahh! Maksud dia apa coba sayang? Masa kamu tidak boleh menciumku?!"
Menggelengkan kepalanya, tingkah Mina terkadang membuat yang di sana terkejut.
"Mina sama Mbak Sri lagi ya?"
Gadis balita itu menggeleng dan semakin kencang mengalungkan tangan nya di leher Hafi.
"Dengarkan Ayah Mina! " Mina pun menatap Hafi.
"Mina sama Mbak Sri,cuci tangan dan kaki lalu berganti baju.Ayah akan mengantar Bunda ke kamar,adek di perut Bunda ingin bobo dan istirahat.Nanti Ayah menyusul Mina!"
Mina masih terdiam menatap Hafi.
"Mbak Sri sudah minta maaf kan sama Mina? Mbak Sri gak nakal kan ya Mbak Sri?"
Mbak Sri pun tersenyum dan mengulurkan tangan pada Mina.Alhasil Mina pun mau kembali di gendong dan di bawa ke kamar oleh Mbak Sri.
"Anak mu itu!" Mita menyebikkan bibirnya.
"Mana ada,anak Vito itu!'
"Husttt!!! Sudah sana naik dan berganti baju.Sebentar lagi makan malam,adikmu juga sama jam segini belum pulang!"
Ara melihat jam di tangan nya dan berbalik kembali lagi ke pintu menunggu Inggira pulang dari kantor.
Semenjak Riza menikah dan tidak tinggal di rumah itu,Inggira sering kali pulang telat karena harus bekerja hingga larut.Menunggu seseorang menjemputnya,yang kadang kala bisa menunggu satu atau dua jam.
Sering kali terlewat untuk makan malam bersama keluarga nya,dan Inggira selalu menggerutu akan itu.
.
.
.
to be continue
__ADS_1