
Tersadar dan untuk pertama kalinya Mita merasakan hal yang aneh di perut,sakit ketika digerakkan.Tangan Mita menyentuh perut nya,hal yang paling dia takutkan ternyata benar adanya.
Dia merasa kejadian itu hanya mimpi, seseorang membawa bayi kecil dan berselimut kain putih yang bersih.Mita sempat melihat wajah nya yang merona merah,bibir nya yang mungil berwarna pink.
Perempuan itu membawanya dan menjauh dari Mita.Namun tak berapa lama dia membuka mata dan tersadar.
Menitikkan buliran bening di ujung mata nya.Firasat bayi mungil itu adalah anaknya ternyata benar adanya.
Mita tahu dia sedang di rumah sakit,namun ruangan nya begitu sunyi sepi senyap.Menoleh ke arah jam dinding yang tak jauh di sebelah kanan tatapan nya.Jam menunjukkan jam satu lewat empat puluh menit.
Hafi tertidur di kursi roda,persis di sebelah ranjang Mita.Di sofa ada Inggira yang fokus pada ponsel nya.Menoleh ranjang istirahat sebelah nya ada Mamah mertua.
Tangan Mita menggapai kepala Hafi,dan membelai lembut.Air matanya menetes begitu deras.
"Maa-aaf ..." Suaranya terbata tapi mampu membuat Inggira menoleh cepat.Melihat kakak ipar nya sudah sadar,Inggira beranjak dari sana dan meraih genggaman Mita.
"Kak..."
Tidak menjawab,Mita hanya menangis dan membuat Hafi terbangun.
"Sayang?..." Hafi menggeser kursi roda nya dan berusaha berdiri dengan di bantu Inggira.
Kedua nya saling berpandangan,Mita tahu Hafi juga sangat terpukul dengan kejadian ini yang berakibat menghilangkan nyawa calon bayi mereka.Namun Hafi lebih bisa mengontrol emosi di banding dirinya yang langsung menangis melihat suaminya.
"Maafkan aku sayang.." Hafi memeluk Mita dengan erat,begitu juga Mita yang tersedu-sedu di bahu Hafi.
"Jika aku tahu akan seperti ini,aku tidak akan mengijinkan mu ikut walau kamu marah dan kesal dengan ku sekali pun!"
Mita semakin terisak dan mulai bersuara.
"Maaf untuk semua nya,Aku tidak bisa menjaga nya!" Hafi memegang perut Mita lembut,dan sangat terasa bekas jahitan nya.
"Maafkan aku!" Tak henti-henti nya Hafi meminta maaf dan terus memeluk istrinya.Mita belum mengucapkan satu patah kata pun dan masih mengendalikan tangis nya.Menahan pelukan Hafi,kedua lengan nya semakin erat melingkar di leher Hafi.
"Anabia Berliana Hafidan.Aku memberikan dia nama itu,Cantik kan?Dia cantik seperti mu,pipi yang merona merah dan bibir mungil berwarna pink.Dia masih sangat kecil sayang,kecil sekali tapi dia akan menjadi surga nya kita.Kita pasti akan bertemu di surga kelak nanti!"
Dengan sangat lirih Mita menjawab "Aamiin"
Isakan tangisnya mulai mereda,namun dari tadi dua wanita di sebelahnya sudah menitikkan air mata melihat dan mendengar itu.
__ADS_1
Hafi mengurai pelukan,dan menghapus air mata di pipi Mita.Melihat mamah mertua nya,Ara pun bergantian memeluk menantu nya.
"Sabar ya sayang,Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih dan itu secepatnya.Mamah yakin!"
Mita mengangguk "Maaf,dan Terimakasih Mah?.." Ara mengangguk.
Inggira hanya bisa memeluk dan menitikkan air mata "Doa yang baik-baik selalu untuk kakak dan keluarga " Mita pun tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih Inggira!"
Mita pun mengusap air mata di kedua pipi nya, mencoba kuat dan tegar menghadapi semua takdir nya meski kenyataannya ini terjadi bukan murni kecelakaan.
.
.
.
Dua Minggu kemudian
Ricko yang melaporkan Vito ke pihak berwajib nyata nya tidak bisa membuat dia masuk ke dalam penjara.Anak buah nya bahkan mengaku bukan suruhan dari Vito,dan rela di penjara dengan di janjikan menyejahterakan keluarga nya oleh Vito.
Lain dengan Hafi yang sering bertemu dengan nya,namun mereka tetap saja bersitegang karena menganggap Vito mencoba membunuh Hafi dan Mita.
Segala cara Vito lakukan dan membagi saham miliknya untuk Mina beratas namakan Mita Berliana di sana.Padahal Mita sama sekali tidak mau menerima nya.Tapi dengan segala cara Vito tetap mengatas namakan Mita.
Bukan sekedar saham,namun sebagian harta yang fantastis jumlahnya pun dia berikan sebagai mengganti permintaan maaf.
Fandi mewakili Hafi dan Mita datang dan menerima itu sebagai perwakilan kedua nya.
"Papah sangat mata duitan!"
"Bukan begitu,ini untuk masa depan.Dan perusahaan semakin besar jika bersama dengan ini.Lagi pula ini tetap untuk Mina dan Mita.Kau jangan lupa kan satu hal,Mita akan mempunyai anak lagi dan ini semua untuk cucuku!"
Tetap saja Fandi memikirkan keturunan nya yang tidak ingin berkehidupan susah,dan pastinya sudah di rencanakan dari sekarang.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih Om,semoga kedepan nya Mita mau menemui ku.Sekaligus Mina,aku merindukan mereka!"
"Maksud mu merindukan menantu ku?"
__ADS_1
"Ahhss bukan,maksud ku Mina.Ya Mina.."
Fandi melirik tajam "Jangan sekali-kali main hati kau,kau sudah mempunyai istri kan? Jangan sampai saya yang bertindak lagi!"
"Maaf om,tapi saya benar-benar menyesali kejadian beberapa Minggu kemarin"
"Sayang sekali ya,kau mempunyai anak buah yang sangat setia.Jadi kau tidak masuk bui!"
Vito hanya tersenyum mendengar itu.
Lawan kali ini adalah Fandi,lelaki yang sudah tidak muda lagi. Tubuhnya saja sudah menggendut namun nyali nya masih sangat tinggi,menangani kasus Mita dengan di bantu sedikit oleh Ricko,dan di lindungi oleh Allan membuat dia menang berdebat dengan Vito dan anak menantu beserta cucu nya tetap aman tinggal di kediaman nya.
Melindungi anak cucu nya adalah tugas beliau,Meski mereka sudah besar dan berumah tangga Fandi tetap berdiri di barisan paling depan jika itu menyangkut keluarga.Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Mita anak dari salah satu abdi negara yang pernah menjabat sebagai pasukan pengamanan pemerintah pada jaman dulu.
Ara dan Fandi sudah memasuki mobil,memakai supir dan segera keluar dari area hotel.
"Papah akan beritahu Mita kan?"
Fandi menggeleng "Aku akan menyimpan nya,dan aku berikan saat cucuku sudah besar nanti nya!"
"Itu milik Mita dan Mina Pah,jangan sampai kau lupa dengan ucapan mu sendiri!"
Ara menggeleng melihat tingkah suaminya,harta sendiri saja sudah tidak habis sampai ke anak,dan mudah-mudahan sampai cucu,dan uyut nya.(🤣 tergantung othor ini mah!).
Bukan pencapaian Fandi sendiri tentunya, karena opa Brahmana lah yang sebelum nya memiliki itu.
.
.
.
To be continue
.
.
*Maaf,mungkin konflik nya terlalu cepat.Tapi percaya lah itu gak mudah untuk Hafi dan Mita yang harus kehilangan calon anak mereka.
__ADS_1
Happy reading 😘😘