TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 28 Kartu yang tertinggal


__ADS_3

"Bukan kah kau sudah ada Sharena?"


Pertanyaan itu mengejutkan Hafi.Beberapa puluh menit lalu Fandi meninggalkan mereka berdua di ruangan kerja nya.Sengaja ia lakukan untuk mendekat kan mereka kembali.


Dulu saat mereka kecil hanya merebutkan mainan.Sekarang berebut gadis,mungkin.


"A-aku..."


"Kenapa? Apa drama kalian itu menimbulkan perasaan satu dengan yang lain.Atau kau mencintai Mita?"


Hafi tidak mampu lagi berkata-kata.Pernyataan Riza mungkin saja semua benar.Tapi Hafi sendiri saja tidak tahu kebenaran nya apa.Merasa nyaman dengan Mita dan semakin jauh dengan Sharena.


Bukan hanya jarak dan waktu saja yang memisahkan mereka,tapi Sharena yang tidak pernah menghubungi Hafi duluan,dengan alasan sibuk belajar dan terus belajar.


Membuat Hafi curiga,pelajar di luar negri tidak sesibuk itu jika hanya mengurusi mata kuliah.Kecuali mempunyai part time kerja,tapi mustahil untuk Sharena bekerja part time sedangkan kedua orang tua nya kaya raya.


"Jika memang kau sudah mempunyai perasaan dengan nya,Aku mohon hapus dan lepaskan dia!"


Hafi menoleh seketika dan langsung menerjang Riza, mencengkram kerah baju nya dan memepetkan ke tembok.


"Coba saja Za,Kita berjuang bersama!"


Riza menyingkirkan tangan Hafi,suara seseorang dari luar mencoba membuka pintu membuat Hafi langsung melepaskan tangan nya,dan berlalu seolah tak terjadi apapun.


Riza yang masih di sana tersenyum tipis memandang Hafi.


Benar kan dugaan ku.Kau mencintai Mita.Akan aku buktikan sampai kau tahu betapa sulit nya mencintai orang yang dikejar semakin jauh.


"Kak Hafi di panggil mamah, dikamar Daffin!!"


Hafi sedikit terkejut dengan Inggira yang menyembulkan kepalanya di pintu,dia pun mengangguk.


"Kenapa melotot Kak? Kalian baik-baik saja kan?" Inggira melihat kedua kakak nya bergantian.


"Tidakk!" Hafi menggeleng cepat.


.


.


"Tidak usah di Appartemen lagi Fi, Daffin begitu merindukan mu.Setiap hari bertanya dimana kakak nya sampai mamah bingung mau jawab apa!"


"Bukan nya mamah sendiri yang ingin aku di Appartemen?"


Ara pun menoleh ke anak nya "Maksud mamah jika kau mabuk,jangan pulang ke sini.Bukan berarti kamu di sana terus!"


"Ya iyaaa,aku minta maaf mah!"


"Bukan cuma itu,kembali ke kantor.Urusi perusahaan Papah.Riza tidak bisa menghandle semua jika sendirian!"

__ADS_1


"Tapi memang dia lebih pintar dari ku kan mah?"


"Anak mamah semua pintar,mana ada anak mamah yang bodoh?"


Hafi hanya menjawab "Hemmm" saja.


Sebagai orang tua,Ara mempunyai kewajiban menasehati anak-anak nya.Kadang kala salah satu dari mereka pun sering meminta untuk di dongengin panjang lebar,tentang apapun itu.Termasuk pengalaman hidup.


.


.


.


Perusahaan Candra Corpuration


Dion dan Mita berjalan beriringan,setelah makan siang kedua nya kembali dari kantin.Menaiki lift khusus pejabat tinggi perusahaan termasuk sekretaris bos.


Jika semua memandang Mita dengan tajam,itu sering.Dan Mita sering menjadi bahan gibahan para karyawati di sana.


Sekretaris bos, dekat dengan asissten.Adalah hal hal yang di dambakan oleh karyawati.


"Jadikan ambil paruh waktu?"


Mita melihat jam tangan nya "Jadi dong,Setelah selesai ngantor aku langsung ke sana Ion.Makasih ya sudah membantu"


"Sama-sama,dengan senang hati jika untuk mu!" Dion tersenyum,Mita yang tahu itu hanya terkekeh.


"Sama kaya yang ngomong!"


Mita tersenyum,mata nya membulat.


"Hah, bisa-bisa nya kau membalikan ucapan ku Bung!" Satu tapokan tangan Mita mendarat di bahu Dion.


Keduanya berpisah,Dion masuk ke ruangan nya dan Mita kembali ke kubikel yang berada di depan ruangan Ameer.


Duduk di kursinya,membuka tas untuk touch up kembali,tanpa sengaja Mita menemukan kartu yang tidak asing di mata nya.Mita membalikan kartu,di sana bertuliskan Hafi Brahmana.


"Astaga! Aku lupa mengembalikan nya! Padahal aku sudah janji,bagaimana ini?" Mita terus membolak balikan kartu nya.


Tiba-tiba dia penasaran dengan isinya,membuka ponsel.Ternyata chat Hafi beberapa puluh hari yang lalu masih dan belum terhapus.


"Aku hanya ingin melihat isi nya saja ya Allah,tidak lebih.Aku mohon tahan perasaan ini meski aku membutuhkan !!"


Mita memejamkan mata,menunduk,seolah berdoa di jauhkan dari setan yang ingin meracuni dirinya untuk mengambil uang dari kartu Hafi.


Gadis itu pun ijin kembali ke Dion,berpamitan sebentar ada kepentingan mendadak.Dion pun sangat menyayangi Mita dan mengijinkan nya,dengan syarat segera kembali karena Ameer belum juga datang.


Menuruni gedung dengan lift,Sesampainya di lantai dasar Mita berjalan cepat ke sebrang perusahaan.

__ADS_1


Dengan tenang,dan hati-hati Mita mencoba memasukan pas code.Tahap demi tahap,hingga matanya membulat melihat saldo di dalam kartu itu.


"Hah?!! Aku gk salah liat titik nya kan? Seratus dua puluh lima juta?Boleh gak sih ambil ekor nya aja?"


.


.


Mata Hafi memicing ketika ponsel di meja nya berbunyi dan melihatkan notifikasi pesan.


Bibirnya tersenyum tipis,dia sangat paham itu apa.


Meraih benda pipih itu dan melihat pesan nya.


"Dari pertama hingga saat ini,aku yakin kau memang gadis yang mahal.Kenyataan nya tidak mengambil sepeser pun sejak aku memberikan kartu,dan baru kali ini.Pakailah jika kau membutuhkan!"


Bergumam sendiri hanya karena sebuah notifikasi.Bibirnya terus mengembangkan senyum.Paling tidak Mita masih ingat dengan Hafi.


"Ahhhyss kenapa aku menjadi seperti ini hanya dengan sebuah notifikasi saja!"


Hafi berfikir untuk melakukan sesuatu esok hari.Pernyataan Riza tadi selalu terngiang di telinga nya.


Perang dingin dengan saudara nya hanya karena perempuan bukan kali ini saja, dulu saat di bangku Sekolah Menengah Atas jaman mereka putih abu-abu juga pernah berebut hal yang sama.Dan kali ini terulang lagi.


Hal yang paling menyebalkan untuk Hafi sebenarnya.


Walau akhirnya tidak ada satu pun yang memenangkan.Tapi Riza tidak akan main-main,karena mereka tau memang sudah waktunya memikirkan pasangan.


.


.


Menyandarkan kepala di sofa,Hafi teringat beberapa hari yang lalu, kebersamaan dengan Mita.Bibirnya mengulas senyum.


Gadis pemberani,mandiri,dan sayang keluarga.Tiba-tiba satu hal yang Hafi ingat,pernah melewati batas dengan Mita.Hampir saja melakukan nya jika mamah nya tidak mengetuk pintu saat itu.


Terlintas untuk mencari tahu.


"Jika aku tanyakan ke Yilmaz,pasti anak itu akan bertanya balik"


Berfikir siapa yang akan dia tanyai tentang hubungan seperti itu,jika bukan membuka di ponsel pinter nya.


Hafi membuka layar ponsel, tiba-tiba layar nya berubah panggilan telfon.Alisnya pun berkerut.


"Tumben sekali!"


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2