
Ara berjalan cepat dan menggunakan lift untuk naik ke lantai dua.Beberapa saat lalu Hafi mengirim pesan untuk melihat Mita di kamar nya.Karena tak menjawab telfon dan mengabari nya.
Lagi-lagi Hafi yang sangat khawatir tidak bisa memantau istrinya.
"Mita sa...." Suara nya terputus karena melihat menantunya tidur di sofa masih menggunakan pakaian lengkap dan bersedekap tangan di depan dada.
Meletakkan punggung tangan nya di kening,Mita sempat merasakan itu dan membuka perlahan mata nya.
"Mah...?"
Berusaha bangun dan posisi duduk,Mita menerima air minum yang Ara berikan.
"Mamah panggilkan dokter ya?"
Mita menggeleng "Aku hanya butuh waktu istirahat sebentar mah!"
"Bagaimana mungkin istirahat sebentar sembuh?..Kamu dari siang tadi dan ini jam berapa.Isi dulu perut mu lalu minum obat ya?"
Dengan terpaksa Mita mengangguk.Memakan sedikit roti tawar namun tidak bisa tertelan karena tenggorokan nya tidak enak.
"Apa kamu hamil lagi Mita?" tanya Ara penasaran.
"Memang mungkin ya mah,baru bikin tadi malam langsung jadi anak?" Suara Mita sedikit bergetar karena malu.
"Hah??..."
"Maaf kan aku mah,aku sempat depresi karena kehilangan anabia,dan Hafi tidak aku ijinkan menyentuh!"
Ara menghela nafas nya karena Mita semenderita itu kehilangan calon anak nya.Selama ini Ara tak begitu menyadari jika Mita sangat terpukul.
"Minum lah obat yang ada dulu,siapa tahu kamu enakan!"
Mita mengangguk,berpindah di ranjang dan menarik selimut.Mata nya kembali terpejam.
Bekerja dengan tidak tenang,Hafi terus saja melihat layar ponsel nya.Hingga benda pipih itu bergetar dan menampilkan layar pesan masuk dari mamah nya.
Terlihat Ara mengirim foto bergambar Mita yang sedang tidur.
Tenang saja,istrimu tidur dan dia sudah meminum obat!
Hafi pun membalas dengan ucapan terimakasih.
Suara ketukan pintu terdengar,ternyata Ricko.
"Masuk Ricko!"
Mendekati Hafi dan membungkukkan setengah badan nya.Ricko menyerahkan map merah berisi daftar agenda kerja untuk Hafi.
__ADS_1
Melihat dan menyipitkan matanya.
"Harus banget besok pagi Ricko?"
"Iya Pak.Dan kemungkinan akan lama di sana!"
"Siapa yang bersama ku?" Hafi menutup kembali map dan meletakkan di meja.
"Saya sendiri.."
Hafi menghela nafas dan melihat jam di pergelangan tangannya.Hari ini pekerjaan sangat banyak.Hingga jam empat sore pun dia belum bisa beranjak dari kursi.Ponsel di letakkan di laci dengan posisi Ter charger.
Ada Ricko jika orang rumah merasa ada sesuatu yang genting.
Jarum jam terus bergulir hingga menunjukkan pukul delapan malam.Ricko mulai merenggangkan tangan nya yang sudah terasa kebas dan pegal.
Begitu pula dengan Hafi yang masih serius melihat layar di depan nya.Lembur hanya dengan Ricko dan beberapa staf di kubikel bagian pemasaran.
Rutinitas menjelang akhir bulan.Namun kali ini dia sedikit harus mengalah dengan Riza yang biasa nya menggantikan diri nya.
Entahlah beberapa hari ini Riza lebih sering mementingkan urusan diri sendiri di banding pekerjaan di perusahaan keluarga.Sesuatu menimpa nya,namun dia hanya bisa memendam sendiri.Sementara hanya sendiri.
"Pak,maaf.Jika sudah lelah biarkan saja di sana.Nanti akan saya selesaikan!"
Hafi menggeleng "Kita kerjakan sama-sama Rick,hubungi bagian marketing,pemasaran dan publik.Kita ngobrol sebentar!"
Ricko mengerutkan kening nya "Pak,tapi ini sudah hampir jam sembilan!"
Baru kali ini Ricko merasa bos yang ini adalah bos sesungguhnya karena rela loyalitas waktunya.
"Di chat gak bales,di telfon gak di jawab.Sedang apa sebenarnya dia!?"
Mita menggerutu dengan layar ponsel nya,dari bangun hingga akan tidur lagi dia belum mendapatkan pesan dari Hafi.Suami nya juga tidak bisa di hubungi.
"Kamu benar-benar membuatku kesal Hafi! Setelah mendapat semua nya kemarin malam hingga membuat ku sakit.Lalu begini balasan mu!"
Matanya sudah membayang,menggenang air di sana.Perlahan air yang di tahan pun jatuh.
"Liat saja,nanti akan aku tinggal kan gantian kamu!!"
Meletakkan ponsel nya di nakas dalam keadaan hening.Mita dengan hati yang kesal mulai memejamkan mata nya karena obat yang di konsumsi sangat lah membuat mengantuk.
Mamah mertua nya yang memberikan dan membelikan,merasa tidak enak jika tidak di minum.
Hingga hampir tengah malam Hafi kembali.Namun bukan istrinya yang di tuju dia mengetuk kamar Ara.
"Ada apa?" Fandi membuka pintu.
__ADS_1
"Pah, Mamah sudah tidur?"
Hafi mencoba melihat ke dalam namun gelap.Dan hanya lampu tidur yang tidak terlalu jelas.
"Sudah,kamu baru pulang?"
Hafi mengangguk "Boleh bicara sebentar dengan Mamah,Pah? Sekalian Papah juga boleh?!"
Fandi mengangguk "Tunggu sebentar di sofa!"
Menunjuk sofa ruang tengah ,Hafi pun menuruti perintah Papah nya dan menunggu di sana.Melepas dasi dan jas nya.
"Kenapa nak?"
Ara membenarkan piyama,dan menggulung rambutnya ke atas.
Dengan wajah lelah dan letih,Hafi bersandar sebelum menjawab pertanyaan Mamah nya.Dia pun menghela nafas berat.Fandi juga duduk di sofa single di sana.
"Mah,aku akan keluar kota.Dan mungkin akan lama.Aku juga bingung kenapa harus aku,sedangkan..."
Sebelum melanjutkan ucapan nya Ara menepuk bahu anak lelaki nya.
"Apa yang kau fikirkan? Mita? Ada Mamah Papah,dan juga saudara yang lain di sini."
"Tapi mah, bagaimana aku bisa meninggalkan nya sementara dia sedang sakit!"
"Percayalah Hafi,istrimu berada di tempat dia di sayangi"
"Bukan itu mah,kita tidak pernah berjauhan.Apa Mita mengijinkan jika aku berpamitan dengan nya?"
Ara mendengar itu dan menoleh ke suaminya Memang benar selama ini mereka tidak pernah berjauhan sehari pun kecuali saat Mita di cilik,itu pun tidak sehari dan berakhir dengan kondisi Mita yang memprihatinkan.
"Harusnya memang begitu.Kau berpamitan dengan Mita,berikan dia penjelasan.Pasti dia akan mengerti Fi!"
Sebenarnya bukan hal yang susah,tapi bagaimana pun Hafi harus bicarakan dengan Papah dan Mamah nya karena dia berharap tidak jadi dan di gantikan yang lain.
Membuka pintu kamar,Hafi melihat istrinya sudah tidur meringkuk di dalam selimut.Ac mati,lampu padam,mendekati Mita.Bibirnya tersenyum melihat wajah Mita terlelap.
Menyibakkan selimut,sweater dan celana traning.Mita memakai itu untuk tidur.Jelas Hafi merasa istrinya masih belum pulih.
Tidak menyentuh sedikit pun,pipi atau pun mengecup kening nya saja Hafi enggan.Mita sangat peka sentuhan,dan di pastikan terbangun.
Melangkah ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.Setelah itu masuk walk in closed menarik koper dan membereskan beberapa baju untuk di bawa.
Hafi melakukan dengan sangat pelan dan hati-hati.Istirahat sejenak di sofa, lagi-lagi Hafi menghindar demi tidak membangun kan Mita.
To be continue
__ADS_1