
Dua bulan sudah dilewati oleh Mita,namun morning sickness nya belum juga kunjung sembuh.Kali ini lebih parah,tak memandang pagi siang sore atau pun malam.
Kadang tidak bisa memakan apapun,hanya buah dan buah.Pernah sesekali Ara membelikan singkong keju untuk mengganti nasi.Namun tetap saja kembali lagi.Mengganti nya dengan sup jagung Mita malah tidak suka karena terlalu kental.Bubur ayam di ujung jalan pun tetap saja tidak bisa.
Setiap hari hampir memakan pepaya,apel, mangga, ataupun pisang.
"aku pulang mah!!" Riza dari luar kota,karena urusan sesuatu.
"Mamah gak di rumah Za,Cuma ada Hafi sama Papah"
Riza mengangkat alisnya,heran melihat adik ipar nya sore-sore bikin lutisan.
"Masih ngidam Mit?"
Mita mengangguk,tangan nya terus memasukan buah ke dalam cobek berisi gula merah,kacang dan cabai yang sudah di haluskan.
"Jangan banyak-banyak kali Mita,perut lu bisa mules!"
"Enak Za,ini gak pedas.Coba aja kalau gak percaya!"
Riza mengedikan bahu nya,melihat Mita makan saja dia sudah gila,karena yang tidak wajar.
"Hafiiii!!! Bini lu makan sambal gak pakai aturan gilaa lu ini.Hafiiiii!!!"
"Ishhh brisik lu ini!" Hafi nongol dari pintu dapur membawa potongan apel dan mangga.
"Lu gila Fi,bini lu makan segini banyak!"
Riza pun mengambil satu potongan buah apel dan mentoel dengan sambal nya.
"Enak sih,emang gak pedas.Kok bisa?"
Riza mengambil nya lagi,dan lagi hingga Mita menepuk punggung nya..
"Udahan! Bukan buat kamu,suami ku bikin ini.Ini buat istrinya!" Mita meraih potongan buah dan cobek berisi sambal gula merah dan kacang.
"Ya udah sih,nih gua ganti sama ini nih!"
Hafi melihat kantong kresek yang di bawa Riza.
"Coba aku lihat!" Mita meraih kantong itu.
Hafi memberikan pada istrinya.Mata Mita membulat.
"Aku suka ini,untuk aku ya Riza??!"
"Terserah!" Riza sudah menaikki tangga dan hampir sampai di atas.
Beberapa potong risol mayo di dalam mika dan sudah goreng
Mita menghabiskan waktu sore nya di lantai bawah,hingga makan malam.Dirinya hanya menemani Hafi di sofa ruang tengah.
Para lelaki di meja makan,Papah Fandi,Riza ,dan Hafi.Memulai makan makan tanpa Ara, Inggira,dan Daffin.Mereka sedang menghadiri acara di hotel.
__ADS_1
Mina dan Mbak Sri jangan di tanya,kedua nya lebih suka bermain di belakang karena Mina yang mulai sangat aktif.
"Makan Mita.."
Mita pun menoleh "Duluan Lah... Aku kenyang!"
Merebahkan tubuhnya di sofa dan mengusap perut yang mulai membuncit.Mata nya terus melihat acara televisi.Infotaiment sore.Mata Mita memicing melihat layar.
Mas Vito??Gak salah lagi itu Mas Vito.Bisa-Bisanya dia menikah lagi! Dan dengan anak pejabat!
Mita beranjak dan menaikki tangga.Mengambil ponsel nya di kamar lalu turun kembali dan melihat televisi.
"Yahhh...udah lewat!!" wajah Mita mendadak di tekuk dan muram,ketika acara televisinya berganti dengan yang lain.
.
.
.
Mencari waktu untuk bisa keluar rumah dengan tidak membawa Mita adalah hal yang sedikit sulit,Istrinya selalu mengekor ketika Hafi pergi atau melangkah kemanapun.
Menyusuri jalanan dan mencari toko khusus makanan.Beberapa Minggu lalu sudah mendapatkan dan hanya di makan beberapa kali saja.
Kali ini Mita menginginkan lagi,dengan rasa yang lain.Membuat suaminya pusing dan serba salah jika tidak mendapatkan nya.
Mobil Hafi berhenti di tempat keramaian yang menyajikan berbagai makanan.Mata nya tertuju pada booth makanan cepat saji yang menaburkan berbagai macam rasa.Hafi pun terkekeh.
Mungkin bisa di coba!
Melajukan mobil nya dan kembali ke rumah,untuk memberikan kepada Mita.
.
.
.
Mencari informasi dengan membawa nama besar papah mertua nya,Mita mendapat kan alamat dan nomor telfon Vito.
"Hallo..apa benar ini kediaman Pak Vito?"
Orang di sebrang sana mendengar dengan seksama.
"Iya benar,dengan siapa saya bicara?"
"Oh .. Perkenalkan saya Paramita Berliana,Bisa saya bicara dengan Pak Vito?"
"Ada perlu apa ya?"
"Bilang saja,adik ipar nya menelfon dan ingin bicara?"
Seseorang di sebrang sana merasa aneh dengan panggilan telfon itu.Dan tak menunggu lama,panggilan di putus oleh sebelah pihak.
__ADS_1
"Hallo..Ha....Yahh di matiin!"
Mita meletakkan ponsel nya dan merebahkan kembali tubuhnya.Berfikir dengan apa yang dia lihat tadi sore,sepet nya memang benar tadi adalah kakak ipar nya.Suami Fadila yang meninggalkan pada saat dia hamil.
Mita mengutak-atik ponsel kembali, mencoba mencari tahu nomor ponsel Vito kepada siapapun yang menurutnya adalah informan handal.Hingga dia tidak tahu seseorang masuk kamar dan sudah ke dua kalinya memanggil.
Hafi pun mendekatti istrinya dan melihat layar ponsel Mita.
"Sayang,kamu ngapain?"
Mita langsung mendongak ,dan menyingkirkan ponsel nya di sembunyikan di bawah bantal.
"Coba aku lihat ponsel mu!" Mita menggeleng.
"Bukan apa-apa,aku hanya sedang bermain" Mita menangkap tangan Hafi,dan menjauhkan dari sana.Beranjak dari ranjang dan menarik Hafi untuk duduk di sofa.
Suami nya pun merasa aneh,dan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Mita.
"Kamu menyembunyikan apa?"
Mita mengerutkan kening "Apa?Bukan apa-apa!"
"Jangan bohong!"
"Gak.. Gak percaya?!" Bukan mengakui Mita malahan ikut marah,dan itu adalah senjata nya.
"Jangan macem-macem ya! Ok aku percaya!"
Mita pun mengangguk dan mengerjapkan mata, tersenyum pada suaminya dan mulai membuka kantong yang tadi di bawa oleh Hafi.
Namun Hafi tetap melihat ke arah kasur,memastikan bila ponsel Mita tidak menyala,atau ada panggilan namun di sembunyikan.
"Dapat dimana?"
Karena tidak fokus, pertanyaan Mita di abaikan oleh Hafi.
Mengambil kripik belut lalu di kibaskan di depan Hafi,dia pun tersadar dari lamun nya.
"Apa??.."
"Beli dimana?" Mita menunjuk kemasan kripik itu.
"Di tempat yang sama,tapi ini yang ada rasa.Dan hanya aku yang bisa buat nya!"
"Hemm sombong!"
"Dimakan sayang,jangan lupa bismillah dulu!"
Mita mengangguk dan mulai memasukkan kripik ke dalam mulut nya.Akhirnya apa yang diinginkan tercapai,hanya karena kripik belut.Jika tidak dapat,Mita bisa uring-uringan dan menggerutu.
.
.
__ADS_1
.
To be continue