
"Kalian sedang ada masalah Mita?"
Ara akhirnya bertanya tentang rumah tangga anaknya.Mengingat tadi pagi Hafi yang aneh pagi-pagi sekali sudah berangkat kerja.
"Bukan Mah,hanya salah paham!"
"Ada apa sebenarnya,cerita pada Mamah!"
Mita pun menceritakan semua nya,merasa malu sebenarnya untuk bercerita.Karena dirinya lapar saat malam hari.
"Hafi terlalu mencintai mu Mita,Riza saja dia cemburui apalagi orang lain! Tadi Hafi berangkat pagi sekali.Dia menitip pesan untuk mu tidak bekerja karena Ricko sudah mengajukan surat resign pada perusahaan Ameer!"
Mita termangu mendengar penuturan Mamah mertua nya.
Hafi benar-benar membuat diri nya tidak punya pekerjaan.Padahal susah payah dia bisa di posisi sekarang.Menjadi sekretaris hanya dengan satu kali interview.
Wajah nya berubah seketika,dan itu jelas tertangkap oleh mata Ara.
"Kenapa? Tidak suka jika Resign?"
Mita menggeleng lalu mengangguk
Ara pun tergelak dengan menantunya.
"Sekarang istirahat lah,sakit nya akan sembuh.Nanti jika masih sakit di pijat atau ingin ke dokter?"
"Iya mah!" Mita mengangguk patuh.
.
.
"Halo Za,Hafi bersama mu?"
"Iya mah, sebentar lagi mungkin aku bertemu dengan nya!"
Riza yang sedang menuju kantor Hafi,mendadak mendapat telfon dari mamah nya.
"Katakan pada Hafi,Mita kecelakaan dan dia di rumah bersama Mamah"
"Hah?!! Lalu bagaimana keadaan nya mah?!"
"Mita sedang istirahat,tolong sampaikan kepada adikmu!"
"Ya..."
Laju mobil Riza bertambah setelah mendengar kabar Mita dari Mamah nya.Tujuan nya segera memberitahu Hafi.
Bodoh sekali dia,punya istri di biarkan saja berlama-lama mendiamkan nya!
Langkahnya sangat cepat, beberapa karyawan menyapa dan hanya senyuman saja yang mereka dapat.
"Fi ..." Matanya melihat Hafi keluar dari ruangan Ricko,tp Hafi hanya menoleh dan masuk lagi ke ruangan pribadinya.
Bragk!!! Pintu di buka kasar oleh Riza.
"Tidak bisa kah pelan?!" Mata Hafi melihat tajam ne arah Riza.
Nafas Riza memburu,karena berjalan cepat dari basemant sampai ke lantai atas.Di lift pun Riza tidak bisa diam.
"Mita..Fi!"
Hafi masih menunduk, pura-pura tidak terpengaruh.
__ADS_1
"Mita kecelakaan!"
Mendengar nya Hafi diam sesaat kemudian menatap ke depan,melihat kembaran nya.
"Za,apa yang kau ucapkan barusan?!"
"Pulang lah! Mita kecelakaan!!"
.
.
Hafi dengan langkah panjang nya menaikki anak tangga hingga sampai di depan kamar nya.
Membuka pintu dan mendekati istrinya.Mita yang masih tertidur,seketika terkejut merasakan selimutnya terbuka karena di tarik oleh Hafi.
"Jangan gerak!" mata nya melihat perban yang ada di pergelangan kaki istrinya.
Mendengar itu Mita memutar bola matanya jengah! Tidak hanya bergerak,Mita mengganti posisi nya bersandar di papan ranjang.
"Mi..."
"Ini tidak se sakit yang kau fikirkan! Aku bahkan bisa berjalan sendiri dan hanya mamah yang memapah ku!"
Hafi melihat Mita yang membuang pandangan nya ke lain arah.
"Kenapa tidak minta tolong pada pengawal yang ada di depan?"
Mita menggeleng.
"Kenapa?"
"Nanti aku di kira selingkuh oleh mu!"
Mita membulatkan mata nya "Kau tahu,tadi malam aku tidak sengaja,dan aku memeluk Riza,hingga tadi kau baru peduli dengan ku,baru mau bicara dengan ku.Aku fikir sudah tidak ingat jika punya istri!"
Inilah kesempatan bagi Mita, perempuan itu mengutarakan isi hatinya.Hanya tidak sengaja , Hafi bahkan tega kepada nya untuk tidak peduli dan bertanya padanya.
"Sekarang pergi lah,urusi urusan dan keinginan mu sendiri!Aku tidak apa-apa jika harus sendiri!"
Dagu Mita menunjuk pintu,yang berarti mengusir Hafi.
Hafi hanya memandangi Mita saja tak berucap apapun,senyuman tipis nya terlihat di bibir Hafi.
"Sudah marah nya?!Hemm?"
Hafi mendekati istrinya,tepat di sebelah nya.Memandangi Mita tak berkedip
"Siapapun akan marah jika wanita nya di sentuh pria lain Termasuk saudara kembar ku! Aku bukan tidak peduli dengan mu,aku hanya menghindar darimu untuk tidak meluapkan emosi ku kepada mu."
Hening
Hening
"Paramita Berliana! Jangan pernah memeluk orang lain kecuali aku! Kemarin hanya keterkejutan mu,lain kali jangan.Jika perlu apa-apa saat malah hari,bangun kan suami mu ini,jangan pernah sendirian!"
Hafi memeluk istrinya. Mita masih tidak mau membalas pelukan nya.Tangan nya masih diam tak bergerak.
"Apa masih marah?"
Pelukan Hafi terurai.
"Aku tidak tahu harus apalagi untuk meyakin kan mu.Terlebih lagi ketika kau meninggalkan ku pagi-pagi sekali.Jika tidak cinta cerai kan aku saja!!"
__ADS_1
Buliran bening menetes,terjun bebas di pipi Mita.Isak tangis nya mulai terdengar.
"Cengeng sekali!" Hafi mengusap nya!
Tangan nya di kibaskan oleh tangan Mita.Tangisan nya semakin menjadi.
"Kenapa jadi cengeng hemm?" Hafi menangkup kedua pipi Mita.
"Bukan cengeng! Kaki ku terjepit kaki mu!"
"Astaga maaf?!"
Hafi mengusap pelan kaki Mita,hingga Mita yang merasa nyaman dan kembali memejamkan mata, Hafi pun dengan stelan jas nya merebahkan dirinya di sebelah Mita,dengan satu tangan yang melingkar di perut.
.
.
Hanya salah faham tapi makin menjadi jika tidak ada komunikasi.
Bukan meremehkan suatu masalah,hanya saja keluarga Brahmana sangatlah hati-hati dan pelan dalam melakukan penyelidikan.
Beberapa kali Mita celaka dan hampir semuanya fatal,meski begitu Mita memiliki nasib baik.Berada di kediaman utama Brahmana adalah jalan satu-satunya dan sangat aman.
"Pah,apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Rumah kita mungkin di intai oleh para anak buah Dito,jika tidak Mita tidak akan mengalami kecelakaan di depan rumah?!"
Keduanya sama-sama memegang secangkir kopi, setelah meeting yang dilakukan oleh para petinggi.Riza yang membackup semua tugas nya dan Hafi meminta Fandi untuk mengobrol sebentar.
"Papah rasa ada satu atau beberapa orang penyusup di rumah kita,Itu akan berbahaya jika anak buah Dito sampai masuk.Dan juga jangan sampai rumah sepi!"
Fandi meletakkan cangkirnya dan mengambil ponsel di meja.
"Coba kau hubungi adik mu,dia hacker yang cukup ahli.Kumpulkan semua ponsel pengawal.Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu dari sana!"
Riza pun patuh pada ucapan Fandi,tangan nya sangat lincah bermain di atas layar ponsel untuk mengajak janji temu dengan adik sepupu nya.
.
.
Hafi membuka mata,hari sudah mulai gelap.Dia yang dari kantor siang tadi, belum membersihkan diri akhirnya mandi juga.
Selesai dengan mandi nya,dia melihat istrinya tidur dengan nyenyak meski sesekali bergerak berpindah posisi.
Tok..tok
Suara pintu diketuk,Hafi segera membuka.
"Mita masih tidur Fi?"
Hafi pun mengangguk dan menggeser tubuhnya.Ara yang diberi celah untuk masuk menjinjit kan kaki untuk bisa melihat Mita yang tertutup badan Hafi.
"Ya sudah,mamah hanya ingin melihat keadaan Mita!"
Kembali bersama yang lain di lantai dasar, Hafi pun menutup kamar nya kembali.
.
.
.
to be continue
__ADS_1