TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 68 Berliana City Mall


__ADS_3

Berakhir tidak jadi makan malam bersama,Mita hanya makan buah dan segelas susu.


Ucapan Yilmaz membuat dirinya selalu mengekor kemana langkah Hafi pergi.Hanya Hafi yang mampu menjaga dan Yilmaz pun sedikit takut dengan nya.


Tersenyum melihat Enzo dan Inggira yang sedang bermain Lego.Mita duduk bersandar di lengan Hafi.Di sana ada semua keluarga,termasuk Mina,Riza,dan Daffin.Kemudian para orang tua.


Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika Mita terus menggenggam jemari Hafi.Suami nya bersyukur saat kejadian beberapa saat tadi.Mita jadi mau berbicara kepada nya lagi dan sepertinya sudah tidak marah.


"Mita,nanti kalau sudah tahu hasilnya cowok atau cewek beritahu aunty ya?"


Mata Mita berpindah pada aunty nya,ia pun mengangguk "Iya nanti aku beritahu aunty!"


"Kamu kenapa tersenyum senyum sendiri melihat Enzo dan Inggira? Mereka dari kecil memang seperti itu!"


"Enzo menyukai Inggira?"


She mengangguk "Inggira adalah princess nya Enzo dari jaman mereka ingusan!"


Mita tergelak mendengar itu,dan Hafi pun tersenyum melihat istrinya yang sudah mau tertawa kembali.


"Memang boleh seperti itu?" Mita mendongak,meminta pendapat suaminya.


Hafi pun menggeleng "Mereka memang seperti itu,tapi percayalah mereka masing-masing juga memiliki kekasih"


Mita hanya ber oh ria "Aku ngantuk!!" Mita berbisik di telinga Hafi.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima puluh lima menit.Wajar saja jika Mita sudah mulai mengantuk.


Berpamitan kepada semuanya yang ada di sana.Hafi menggenggam jemari istrinya,menuntun ke lantai dua dan masuk ke kamar nya.


Selesai ritual di depan meja rias,Mita tidak langsung tidur.Dia masih duduk dan melihat ponsel nya.


"Tidur sudah malam!"


"Hemmm..." hanya jawaban itu yang dia berikan.


"Fii... Aku boleh tidak meminta sesuatu!"


Perasaan Hafi sudah mulai tidak enak, tanda-tanda ngidam mulai muncul di malam hari.


"Apa itu? kalau mau sekarang,cepatlah! Mumpung masih ada waktu dan belum terlalu malam"


"Tapi janji jangan marah!"


Mendengar istrinya yang terus bicara,Hafi menyingkap selimut nya dan beranjak bersandar di bantal dan papan ranjang.


"Apa?..." Sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.Hafi menunggu Mita melanjutkan ucapannya.


"Aku ingin kembali ke rumah ibu dan kita tinggal di sana saja!"


"Hah?!..." Hafi merasa terkejut dengan permintaan istrinya.


"Ibu tidak memberi tahumu?"

__ADS_1


Bukan menjawab,Hafi malahan memberitahukan rahasia yang dia sepakat ti dengan ibunya dulu saat belum meninggal.


Mita menggeleng " Memberitahu apa?" dahinya mengerut,penasaran dengan ucapan suaminya.


"Tapi janji ya jangan kaget?"


Mita dibuat makin penasaran saja oleh Hafi.


"Apasih?!"


"Janji dulu jangan marah dan kaget!"


Wajah Mita sudah seserius mungkin.


"Isshhh,,apa?!!" Sudah mulai menggoncang tubuh suaminya.


Hafi menangkup kedua pipi istrinya.


"Rumah nya sudah aku jual,begitu pula aku sudah menyiapkan gantinya.Tapi maaf,tidak bisa ditinggali untuk sementara"


Mendengar itu,Mita menghempaskan kedua lengan Hafi yang berada di depan nya.


"Kenapa di jual,itu rumah sisa harta kami! Hanya itu yang kami miliki,kamu kenapa tidak bicara dulu dengan ku!?"


"Sssstt!!! Dengar dulu!" Hafi memeluk erat Mita.


"Ahhhyysss,awas aku sedang marah!"


"Dengar dulu sayang! Dengar dulu,jangan marah dulu.Dengar aku cerita dulu,nanti setelah itu mau marah-marah,pukul aku,atau apapun silahkan!"


"Makanya dengar dulu!"


Mita diam dan Hafi mulai bercerita.


Beberapa bulan yang lalu,tepatnya dua Minggu setelah mereka menikah,pada saat itu Hafi merenovasi rumah Mita.Tapi beredar kabar dari segelintir orang jika gedung di depan gang menuju rumah ibu Dalilah akan di jual kepada investor untuk membuat mall,namun setelah mendengar usulan papah nya, Hafi berinisiatif membeli dengan harga tinggi.Ibu Dalilah sebagai perantara pembeli nya karena beliau kenal baik dengan penjual sekaligus pemilik nya.


Hafi bermaksud untuk memberikan hasil pembelian gedung itu kepada beliau,namun Ibu Dalilah menolak dengan alasan beliau sakit-sakitan,sudah tua dan tidak pantas untuk menerima pemberian dari menantu nya.Dengan segala rayuan Hafi,ibu Dalilah menerima,tapi dengan syarat barter dengan rumah nya dan memberikan itu atas nama Mita.


Hafi yang merasa sungkan pada ibu Dalilah akhirnya menerima,namun rumah itu di jual dan membeli tanah yang cukup luas di daerah jantung kota,untuk di jadikan hunian pribadi miliknya.


"Pembangunan nya baru empat puluh lima persen,jadi sabar.Kita pasti akan tinggal di sana.Dan gedung yang di depan gang itu,itu milik mu"


Hafi beranjak dari ranjang mengambil iPad di tas kerjanya.


"Lihat!!..."


BERLIANA CITY MALL


"Cantik kan? Dan di sana ada pasar swalayan nya juga di lantai dasar,lalu bagian belakang ada pasar tradisional.Akses parkir dan lalu lalang para warga atau tetanggamu untuk ke sana lebih mudah!"


Hafi terus memperlihatkan gambar-gambar yang lain,yang Ricko pernah ambil dan mengirim kan nya.


"Lihat,dia siapa?"

__ADS_1


Mita tersenyum.


"Beliau yang merawat Mina dan ibu mu kan?Dia menjadi kepala pasar tradisional,banyak warga sekitar yang bekerja disana.Sengaja aku datangkan trainer yang berpotensi.Jadi semua pemuda pemudi nya bisa belajar dari nol!"


Mata Mita mengerjap,mulai berair.Tiba-tiba memberikan kecupan singkat di pipi suami nya.Dan Hafi menoleh,mereka saling menatap.Mita tersipu di pandangi terus oleh suaminya.


Rasa bahagia dan terselip bangga bisa membelikan semua itu kepada Mita,Istrinya pun terharu menutup wajah nya.Tidak di sangka Hafi menyiapkan semua itu demi kelangsungan masa depan rumah tangganya.


"Nanti kalau Dedek bayik sudah besar kita kesana!"


"Lama sekali!!"


"Maksud ku,jika perut mu sudah besar.Kalau sekarang aku takut, karena kamu tidak boleh cape"


Mita pun mengangguk,mendekatkan bibir nya di telinga Hafi.


"Terimakasih sayang"


Setelah itu pipinya merona,tersipu malu.


"Apa??!..Aku tidak mendengar nya! Coba di ulang".


Dengan polos nya,Mita mengulangi lagi "Terimakasih sayang!"


Hafi menggeleng "Masih kurang jelass,Sekali lagi cobaa!"


Mita mendekat,kali ini bukan hanya wajah nya tapi dia menggeser kan badan nya.


"Terimakasih say... Ehmppt!" Hafi mencuri bibir istrinya,berbalik badan.Tangan nya melingkar di pinggang Mita, mendorong tubuh istrinya hingga merebahkan diri.


Mengecup singkat,hingga tak cukup sekali.Ciuman itu berubah menjadi pagutan dan menuntut lebih.Mita yang tahu suami nya mengarah ke arah sana pun,membalas ciuman nya.


Meraba meja nakas di sebelah ranjang,mematikan lampu utama.Setelah itu Hafi mulai mencumbu Mita,hingga istrinya mulai mengeluarkan suara-suara yang eksotis.Mencium bagian yang paling dia suka,piyama Mita sudah terlepas menyisakan kain segitiga di bawah sana.


"Tambah besar sayang!!" Hafi makin suka meremas dan ******* ujung nya yang berwarna merah muda.Mita membusungkan dada karena sentuhan bibir suami nya yang sudah ke pusar dan semakin ke bawah.


Bermain dengan lidah nya dibawah sana,hingga Hafi memastikan inti Mita sudah siap untuk menerima milik Hafi.


"Santai saja,aku tidak akan menyakitinya" Hafi mengecup sekali lagi perut Mita.


"Daddy akan menengok mu calon jagoan ku" Hafi sudah memposisikan milik nya,untuk masuk ke dalam sana.


Bibir Mita terbuka saat milik suami nya mulai masuk.


"Sempit dan menggigit!" Sementara di bawah sana,terus bekerja.


Mita menarik rambut Hafi,bibir suami nya sedang bermain di benda yang sangat kenyal itu.Mereka trus menikmati dan mengulangi hingga beberapa kali.Karena Hafi tidak bisa berhenti jika sudah menyentuh istrinya.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2