TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 89 Curiga


__ADS_3

"Ada keturunan kembar?"


"Saya kembar dok!" Hafi langsung menjawab itu.


"Semoga saja perkembangan nya bagus,kantungnya ada dua.Ini dan ini,yang satu belum terlihat jelas karena memang kehamilan kembar biasa seperti itu!"


Mendengar itu Mita terkekeh,kedua tangan pasutri itu saling bertautan.


"Umurnya baru empat minggu lima hari,masih sangat kecil.Tapi beruntung Ibunya sudah bisa merasakan jika sedang ada baby di dalam perut!"


"Suami saya yang memaksa untuk tespack setelah mendengar saya mual!" Mita mengacungkan jari nya pada Hafi.


"Banyak makanan yang bergizi,mengandung tinggi asam folat,dan zat besi.Untuk menunjang pertumbuhan keduanya.Sudah pernah hamil sebelum ini?"


Dokter pun penasaran dengan jahitan yang ada di perut Mita dan akhirnya dia bertanya.


"Keguguran karena kecelakaan dok,benturan yang keras membuat bayi saya tidak bisa bertahan di dalam sana!"


Dokter pun mengangguk dan membersihkan perut Mita dari gel.Kembali lagi ke tempat duduk nya.Hafi membantu Mita turun dan duduk persis di depan meja dokter.


"Penanganan di rumah sakit sebelumnya sangatlah bagus,hingga ibu bisa mengandung kembali dengan cepat.Pembersihan pada rahim sangat baik,dua embrio langsung akan berkembang di sana jika benar-benar di jaga!"


Membuka buku pemeriksaan,kening dokter mengerut melihat tanda pengenal Mita.


"Kalian?.."


"Kami di sini sementara, kebetulan saya ada pekerjaan di sini.Dan tinggal dua Minggu lagi kemungkinan akan kembali ke kota asal"


Dokter pun tersenyum.Wanita yang sudah setengah tua dan terlihat sangat profesional,teliti,dan sangat ramah.Membuat Mita dan Hafi enak berkonsultasi dengan beliau.


"Tapi untuk kandungan di trisemester awal,tidak boleh mengudara"


Mita menoleh pada Hafi.


"Maksudnya istri saya tidak boleh naik pesawat untuk waktu dekat-dekat ini dok?"


Anggukan diberikan oleh dokter.


"Nanti setelah enam belas Minggu atau empat bulan"


Mendengar itu Mita menghela nafasnya.


"Saya berikan resep bisa ditebus di apotek dekat sini.Keluar pintu gerbang ambil kanan lima ratus meter,hanya ada satu apotek di sana! Jika membutuhkan sesuatu atau ingin bertanya sesuatu bisa menghubungi.Ini nomor ponsel saya!" menandai garis bawah di resep selembar kertas kecil.


.


.


.


Hafi tahu perasaan istrinya saat ini sedang tidak baik.Semenjak keluar dari ruang dokter,Mita terdiam.Dan menebus resep pun Mita tidak ikut turun dan hanya di mobil saja.


Beberapa kali Hafi mengusap rambut nya pun Mita tetap melihat kaca tak menoleh sedikit pun.


Mencolek pipi lalu menggenggam jemari Mita.Hafi berbelok ke suatu rumah makan cepat saji.


"Makan dulu kita sayang!"


Mita menoleh,dan melihat tulisan di atas.


"Jangan disini,ibu hamil tidak boleh makan makanan yang setengah matang!"

__ADS_1


Sedikit lega rasanya jika Mita masih bisa marah pada nya.


"Iya,dimana..?"


"Warteg aja warteg!"


"Astaga sayang, disini tidak ada warteg!"


"Rumah makan biasa saja,aku ingin makan yang berkuah!"


Hafi memutar balikkan setir,berdehem.Hanya masalah mood saja,dan nanti pasti kembali dengan sendirinya.


Sudah berpengalaman dengan kehamilan sebelum nya.Hanya sedikit lebih sabar ini,karena kemungkinan calon anaknya dua,maka Hafi akan lebih extra memupuk kesabarannya.


.


.


.


Marah boleh,tapi nafsu makan jangan sampai hilang.Hafi menahan senyum sedari tadi.Dikatakan malu,tentu saja tidak.Lelaki itu sangat senang melihat istrinya makan dengan lahap.Meski pagi nya akan keluar lagi cukup banyak.Lain dengan kehamilan pertama yang sama sekali tidak bisa menyentuh nasi sedikit pun.


Beberapa orang di sana melewati keduanya,dan melihat Mita makan hingga tak menoleh.Tapi Hafi yang tahu itu meng kode mereka bahwa istrinya sedang hamil.Bahkan sama sekali tidak peduli jika mereka ada yang bicara dalam hati istrinya tidak pernah makan.


"Istrinya sedang hamil nak?"


Hafi menoleh pada seorang wanita tua yang sedang melewati nya juga.Warung makan itu cukup ramai,selain tempat yang sangat strategis,di sana juga menjajakan makanan rumahan.Membuat seperti prasmanan,dihidangkan dan mengambil lauk sendiri.


"Iya buk.." Hafi pun mengangguk dan tersenyum pada wanita tua itu.


Menarik kursi,tidak satu meja hanya bersebelahan saja dengan Mita.Mita yang tahu itu pun mengangguk dan tersenyum,sama seperti yang di lakukan Hafi.


"Sehat-sehat ya calon adek bayik"


"Terimakasih!"


Mita kembali mengulang mengusap perutnya sendiri.Lalu ibu itu berbalik menghadap meja nya sendiri.


Takut,iya Mita sedikit takut karena sama sekali tidak mengenali wanita itu.Dan dengan lancang menyentuh nya.Menggengam tangan Hafi erat,Mita pun mendekatkan bibirnya di telinga Hafi.


"pulang,aku takut dengan Ibu ini" Tanpa bercerita pun Hafi tahu jika ibu tadi memegang perut Mita.


"Tidak apa-apa,ada aku.Selesaikan dulu makan nya.Nanti kita pulang!"


Meminum sedikit air putih,Mita melanjutkan makan nya kembali.


.


.


.


Mita yang menghadap ke arah pintu masuk melihat seseorang.Berpakaian rapih dan mungkin seumuran dengan suaminya.Sejak masuk hingga melewati dirinya pria itu tersenyum merekah.


Mata Mita melirik ketika dia berhenti di sebelahnya.Dengan kebiasaan kebanyakan orang,dia pun menguping.


"Bun,sudah lama?"


Mita mendengar nya jelas,dengan penasaran dia pun menoleh.Hafi yang tahu itu memegang dagu Mita mengembalikan tatapan nya.


"Tidak usah begitu,suamimu di sini!"

__ADS_1


"Aku kira ibu itu sedikit miring,tidak tahunya punya anak yang tampan!" Mita berbicara sangat lirih dan tersenyum tipis.


Hafi yang mendengar itu mendadak menekuk wajahnya.


"Tidak usah memuji pria lain di depan suami mu!"


"Maaf!.."


Hanya itu,dan kembali lagi dengan sendok dan makanannya.


Tak berapa lama Mita menyenderkan punggungnya karena kekenyangan.


Klek!!! Wanita tua itu langsung menoleh,begitu juga dengan Mita.


"Maaf,tidak sengaja!" Dengan wajah pias nya Mita menundukkan kepala.Dan tanpa di sengaja pria yang dimaksud Mita anak dari wanita itu pun bertatap mata dengan nya.


Kursi bagian belakangnya saling benturan.


"Tidak apa-apa...Oiya siapa namamu Nak?"


"Nama ku?..Mita Buk, Paramita Berliana"


Pria itu memiringkan kepala seolah sedang berfikir sesuatu.


"Seperti nya tidak asing namanya.Apa kau istri pemilik Berliana City Mall?"


Mita mengangguk berulang kali.


"Ahh sudahlah! Kenalkan nak Mita,ini anak saya Saskara Arthaseno."


"Oh salam kenal!"


"Mana suami mu?"


"Sedang di toilet,Ahh itu dia buk!" Bertepatan dengan Hafi yang mendekatinya.Dari jauh dia sudah sedikit curiga dengan istrinya yang asik mengobrol.


Mita melambai,agar Hafi mempercepat langkahnya.Meraih lengan suaminya,Hafi pun tersenyum kepada keduanya dan duduk.


"Sayang,tadi Ibu ini mengenalkan dirinya dan anak lelaki nya .Dan Ibu kenalkan ini suami ku Hafi Brahmana!"


Hafi menyalami ibu dan juga anak nya.


"Ini anak lelaki Ibu,siapa tadi maaf saya lupa"


"Saskara Arthaseno panggil saja Harse!"


"Senang bisa berkenalan dengan Anda!" Kedua tangan Hafi dan Harse saling berjabat erat,mata nya pun saling menatap tajam.


"Kalau Ibu sendiri,aku bisa memanggilnya ibu siapa?" Mita bertanya pada wanita tua itu.


"Soraya Arthaseno,panggil saja Ibu Sora!"


Mita mengangguk dan tersenyum.


Menjadi satu meja dan duduk bersama.Hidangan di meja berubah menjadi beberapa teh hangat dan cemilan ringan.Harse ternyata adalah pemilik beberapa outlet di bidang pangan di mall milik Mita.


Awalnya Hafi curiga ada maksud di balik perkenalan itu.Namun ternyata tidak sama sekali.Mereka benar-benar baru saling mengenal.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2